Monday, September 9, 2013

Berpetualang di Kota Tua ala Zaman Belanda

Katakepo.blogspot.com - Kini, banyak cara menarik untuk bisa mengenal sejarah bangsa sendiri. Wisata sejarah pun telah dikemas dengan cara-cara yang menarik dan menyenangkan. Salah satunya adalah yang akan saya ikuti, Plesiran Tempo Doeloe di kawasan Kota Tua.

Saat itu jam 09.00 pagi. Seharusnya matahari sudah meninggi. Tapi awan mendung masih setia memayungi Jakarta di Sabtu pagi. Hari itu saya harus mengikuti sebuah perjalanan wisata di Kota Tua dengan rekan-rekan media dan rekan-rekan dari Tauzia Hotel Management.

Jalan yang belum begitu ramai membuat saya sampai lebih awal di sana. Tapi ternyata saya bukan orang pertama yang datang. Sudah ada beberapa orang yang berkumpul di dekat bus yang diparkir di bahu Jalan Gatot Subroto. Sambil menunggu rombongan lengkap, kami pun mengisi perut dengan makanan yang telah disediakan oleh penyelenggara.

Hari ini kami akan mengikuti Plesiran Tempo Doeloe yang diadakan oleh Tauzia bekerja sama dengan Museum Ceria. Kami akan berpelesir di kawasan Kota Tua, Jakarta. Ketika saya bertanya tempat mana yang akan dituju, pihak penyelenggara merahasiakannya karena mereka sudah merancang permainan sedemikian rupa agar pelesiran kali ini berbeda dengan pelesiran lainnya. Saya pun semakin dibuat penasaran.
Pukul 09.30, kami berangkat menuju Kota Tua. Perjalanan agak tersendat di kawasan Glodok karena kondisi lalu lintas yang padat. Maklumlah, sebagai destinasi wisata, Kota Tua memang banyak dikunjungi masyarakat.

Sesampainya di Kota Tua pukul 10.30, kami langsung menuju ke Museum Bank Mandiri. Di sana kami diberi arahan tentang cara bemain dalam wisata kali ini. Pemandu mengarahkan kami untuk berpikir bahwa sekarang kami sedang berada di Zaman Belanda, bukan tahun 2013, dan sebagai wartawan dari Javasche Courant yang harus membantu seorang saudagar kaya, Tuan Kian Guan Coy, menyelesaikan perkerjaannya.
Kami diarahkan untuk mengunjungi 3 museum di kawasan Kota Tua. Untuk bisa mengetahui museum mana yang harus kami tuju, kami akan diberikan petunjuk di tiap pos permainan yang telah dibuat. Tapi, tiap petunjuk benar-benar mengharuskan kami berpikir sedang berada di Zaman Belanda, karena semua nama museum atau tempat yang terdapat dalam petunjuk adalah nama asli ketika bangunan-bangunan tersebut. Sungguh mengasyikkan. Dan permainan pun di mulai.
Museum Bank Mandiri

Permainan dimulai di Museum  Bank Mandiri. Kami harus menyelesaikan tantangan di pos ini dengan mencari dua saham perkebunan yang ada di ruang bawah tanah karena Tuan Kian Guan Coy akan membeli saham perusahaan perkebunan. Selain bermain, kami juga mendapat informasi-tentang museum ini dari petunjuk yang kami dapat.

Tenyata Museum Bank Mandiri menempati gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau yang dikenal juga dengan nama Factorij Batavia. NHM merupakan perusahaan dagang Belanda yang kemudian menjadi perusahaan perbankan.
Gedung bergaya Art Deco Klasik ini dibangun tahun 1929 dan mulai beroperasi tahun 1933. Pada tahun 1960 NHM dinasionalisasikan menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan urusan Ekspor Impor (BKTN). Kemudian, BKTN berubah menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) dengan gedung tersebut menjadi kantor pusatnya.

Tahun 1998 setelah Bank Exim dimerger menjadi Bank Mandiri, gedung dialihfungsikan menjadi museum.  Sampai saat ini, eksterior dan interior gedung tetap dipertahankan seperti aslinya.
Museum Wayang, Dulunya Gudang

Setelah menyelesaikan permainan pertama, kami melanjutkan ke tantangan kedua. Petunjuk mengatakan bahwa kami harus mengunjung gudang perusahaan perkebunan Geo Wehry & Co dan menemui Tuan Kian Guan Coy. Wah, kami pun kebingungan. Untungnya dalam petunjuk yang diberikan kami boleh mencarinya di internet.
Ternyata tempat yang dulunya merupakan gudang perusahaan perkebunan adalah Museum Wayang. Tapi sejarah tidak berhenti sampai situ saja. Sebelum Geo Wehry & Co membeli tanah di tempat itu dan mendirikan gudang perkebunan, tanah tempat berdirinya Museum Wayang merupakan bekas bangunan Gereja de Oude Hollandse Kerk dan Niewe Hollandse Kerk yang telah hancur akibat gempa. Di halaman gereja terdapat pemakaman yang merupakan tempat JP Coen dan beberapa gubernur jenderal lainnya.
Menuju Toko Merah

Setelah mengunjungi Museum Wayang, kami diberi petunjuk untuk mengunjungi Toko Merah dengan menggunakan sepeda onthel. Kami pun bergegas menggayuh sepeda pergi ke Toko Merah yang berada di tepi Kali Besar. Untungnya awan mendung masih setia memayungi Jakarta sehingga terhindar dari terik matahari yang menyengat. Tapi, tetap saja udara masih terasa panas.
Sesampainya di Toko Merah, kami ternyata harus makan siang. Ternyata, pihak penyelenggara memasukkan makan siang ke dalam runtutan permainan. Sungguh di luar perkiraan. Kami bisa bersenang-senang, belajar, dan tentunya perut kenyang.

Dulu, Toko Merah pernah menjadi tempat tinggal beberapa Gubernur Jenderal VOC, kemudian beralih fungsi menjadi hotel. Tahun 1850-an seorang Kapiten Cina, Oey Liauw Kong membeli bangunan ini. ia mengecat eksterior dan interior bangunan dengan warna merah, menjadikannya rumah tinggal dan toko. Sejak saat itu bangunan ini terkenal dengan nama toko merah.
Akhir Plesiran Tempo Doeloe

Selesai makan di Toko Merah kami harus kembali ke kawasan Kota Tua. Setelah menerima petunjuk terakhir Museum Seni dan Keramik, kami harus menuju tempat terakhir sebagai titik berakhirnya permainan ini. Museum Seni adan Keramik menempati gedung bekas Raad van Justitie (Dewan Pengadilan).

Garis Finish pun berakhir di Café Batavia. Bangunan berlantai dua dengan banyak jendela besar itu dulunya merupakan gudang perusahaan perdagangan. Kini bangunan tersebut dijadikan kafe.
Saya beruntung mengikuti wisata kali ini. melalui Plesiran Tempo Doeloe, saya bisa mengetahui sebagian sejarah dari Kota Jakarta. Pelesiran kali ini benar-benar membuat saya merasa seperti hidup di Zaman Belanda. Tauzia dan Museum Ceria telah mengemasnya dengan baik.

Kini wisata sejarah tidak lagi membosankan. Mereka, para pecinta sejarah, telah mengemas wisata dengan cara-cara yang menarik dan menyenangkan. Semua itu dilakukan agar kita bisa mencintai sejarah juga seperti mereka dan terus menjaga warisan sejarah yang tak ternilai harganya.

Iboih Tawarkan Sejuta Pesona

Katakepo.blogspot.com - SABANG, Pulau Weh yang dikelilingi Samudera Hindia telah mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara. Iboih, menjadi salah satu kawasan yang paling diminati dengan hamparan pasir putih dan terumbu karang dengan ikan warna-warni yang mengitarinya.

Iboih yang masuk dalam Kecamatan Suka Karya, Sabang kerap menjadi tujuan utama kunjungan para wisatawan lokal dan mancanegara. Suasana pantai Iboih yang terus ramai, terlihat jelas saat Serambi berkunjung kawasan itu pada akhir pekan lalu.
Salah seorang wisatawan asal Jakarta, bernama Omar Ardhana mengaku takjub dengan keindahan pantai Iboih. “Baru kali ini saya melihat pemandangan seperti ini, sangat indah dan alami," katanya.

Di tempat ini, para wisatawan dapat menyewa perlengkapan menyelam, snorkeling, termasuk kamera bawah laut dan boat kaca, untuk melihat keindahan bawah laut Iboih atau Pulau Rubiah. Iboih yang menawarkan sejuta pesona dapat dijadikan sebagai tujuan bersantai setiap akhir pekan atau juga bersama keluarga. 

Serius... Jangan Remehkan Debu!

Katakepo.blogspot.com - Jangan anggap remeh alergi debu. Menurut studi terbaru yang dipublikasikan oleh American College of Allergy, Asthma, & Immunology, anak laki-laki penderita alergi dan asma memiliki risiko lebih tinggi menderita ADHD (attention-deficit disorder).

Namun, tidak hanya alergi dan asma. Debu juga berpotensi menyebabkan berbagai penyakit paru-paru berbahaya lain. Untuk itu, "memerangi" debu di rumah merupakan hal penting. Berikut ini cara-cara mudah menghilangkannya: 

Permukaan lembut

Pertama, kenali penyebab adanya debu. Debu di rumah umumnya merupakan perpaduan antara berbagai serat, rontokan bulu binatang peliharaan, tungau debu, dan bakteri.
Dokter ahli alergi James Sublett di www.houzz.com mengungkapkan bahwa koloni tungau debu umumnya terkumpul di kamar tidur, tepatnya di perlengkapan tidur.

"Anda bisa mendapatkan lebih banyak debu terserap di perlengkapan tersebut, yang bisa bercampur di udara," ujar Sublett.

Melalui pernyaaan Sublett, Anda dapat menyimpulkan bahwa permukaan lembut dan empuk yang tampak nyaman di kamar tidur justru dapat berbahaya. Sementara, permukaan datar, solid, serta furnitur yang terbuat dari kulit justru lebih mampu bertahan dari debu. Hanya dengan menyeka, debu dapat hilang seketika dari permukaan furnitur kulit. Desain modern yang sederhana dan umumnya tidak rumit mampu mengurangi risiko penumpukan debu di rumah.
Keset penyerap

Kedua, berinvestasilah pada keset anti-mikrobiologi. Anda bisa membersihkan dahulu sepatu dengan keset penyerap debu tersebut. Selain itu, Anda juga bisa mengurangi risiko menjadi pembawa debu dari luar rumah dengan tidak menggunakan sepatu di dalam rumah.

Penghasil debu

Ketiga, pastikan Anda tidak "mengundang" penghasil debu ke dalam kamar tidur. Selain sepatu Anda yang secara tidak sengaja dapat membawa bahan kimia, serbuk sari tumbuhan, kotoran, dan debu, hewan peliharaan Anda juga berpotensi menjadi penghasil debu. Sebaiknya, jangan biarkan binatang peliharaan Anda masuk dalam kamar tidur.
Rutin mencuci

Keempat, cuci bantal Anda, jangan hanya sarung bantal atau seprai tempat tidur. Meski rutin mencuci sarung bantal, sering kali bantal terlupakan begitu saja. Padahal, tungau debu dapat "tinggal" dan meninggalkan kotorannya di bantal Anda. Maka itu, cucilah bantal setidaknya setiap 12 bulan sekali. Jangan lupa, cucilah juga seprai, sarung bantal, dan sarung guling dengan air hangat secara berkala.

Vakum anti-alergen
Kelima, pastikan matras Anda bersih. Lindungi matras dengan pelapis matras agar sel kulit dan tungau debu dapat disingkirkan dengan mudah tanpa perlu masuk ke dalam matras. Gunakan juga pembersih vakum anti-alergen yang sudah tersertifikasi. Gunakan juga pembersih vakum tersebut untuk membersihkan berbagai permukaan di rumah Anda setidaknya dua kali seminggu.

Miris... Permukiman Kumuh di Gemerlapnya Silicon Valley!

Katakepo.blogspot.com -  Akhir Agustus lalu, Wakil Presiden Boediono mengatakan bahwa perekonomian Amerika Serikat saat ini tengah membaik. Hal tersebut tampak dalam peningkatan keuntungan perusahaan, harga saham, dan penguatan mata uang dollar AS terhadap berbagai mata uang negara lain, termasuk rupiah. Namun demikian, di saat sama, data menyebutkan bahwa dalam dua tahun terakhir jumlah tunawisma di AS justru bertambah sebanyak 20 persen. Silicon Valley menjadi saksi bisu adanya peningkatan jumlah tunawisma di Amerika Serikat.

Hal ini terdengar istimewa lantaran Silicon Valley merupakan daerah pusat berkembangnya perusahaan-perusahaan raksasa teknologi. Tidak hanya perusahaannya, tempat tinggal mewah para CEO dan pesohor terkait perusahaan tersebut juga ada di daerah ini.

Untuk menguak fakta tersebut, beberapa wartawan Business Insider menghabiskan waktu seminggu untuk tinggal dan mengenal penduduk The Jungle, sebuah wilayah kumuh di daerah Silicon Valley, San Jose, California, AS. Business Insider menyebutkan, The Jungle merupakan salah satu area perkemahan tunawisma terbesar di Amerika Serikat.
Di kawasan itu, setidaknya, ada sekitar 7.600 tunawisma tidur beratapkan langit di wilayah Santa Clara County, California. Khususnya di Palo Alto, tepatnya di jantung kekayaan Silicon Valley, media tersebut mencatat ada 157 tunawisma berada di sana.

Khususnya bagi mereka yang tinggal di The Jungle, mereka datang dari berbagai latar belakang. Menurut profil yang dipublikasikan oleh www.dailymail.co.uk, ada seorang tukang kayu, tukang bangunan, dan ada pula seorang pengusaha yang jatuh bankrut hidup di sana. Mereka kini tinggal di kemah-kemah dan konstruksi menyerupai bedeng beralaskan tanah.

Hunian tersebut penuh berbagai barang-barang pribadi milik penghuninya. Meskipun tampak tidak permanen, masing-masing penghuni The Jungle memiliki teritorinya sendiri. Teritori mereka dibatasi dengan pagar sederhana.

Berdasarkan foto-foto yang beredar melalui situs Business Insider serta video dari www.billmoyers.com, tampak bahwa kondisi yang harus dihadapi sebagian warga AS di wilayah kumuh Silicon Valley ini begitu mengenaskan. Hunian-hunian kumuh di lokasi ini kebanyakan dibangun dari lembaran-lembaran kayu dan terpal. 
Uniknya, hunian berbahan kayu merupakan karya tukang kayu bernama Troy. Dia membuat rumah kayu di atas pohon, sementara tukang bangunan membuatkan tangga untuk mengakses beberapa bagian hutan yang curam. Namun, sekali lagi, menurut Business Insider, wilayah tersebut kini sudah dibersihkan kembali oleh pemerintah setempat.

Inilah Penampakan Stadion Olimpiade Tokyo 2020

Katakepo.blogspot.com -Tokyo akhirnya terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara perhelatan olahraga akbar Olimpiade 2020. Kepastian ini diumumkan Ketua IOC Jacque Rogge, pada Minggu (8/9/2013) di Buenos Aires, Argentina.

Sebelum pengumuman, Tokyo telah berencana membangun perkampungan atlet terbesar sepanjang 42 tahun terakhir. Kompleks hunian untuk olahragawan sejagat raya tersebut akan menelan dana sekitar 985 juta dollar AS (Rp 10 triliun) dan menempati area seluas 44 hektar, persis di sebelah Tokyo Bay.

Kenichi Kimura, pejabat keuangan Pemerintah Metropolitan Tokyo akan
mengalokasikan 153,9 miliar yen (Rp 15,6 triliun) untuk konstruksi baru dan renovasi di 11 lokasi.
Luas lahan perkampungan atlet
ini 28 persen lebih besar dari Disneyland Park di California dan akan menjadi yang terbesar di Tokyo sejak tahun 1971 ketika sebuah proyek perumahan skala kota, Tama New Town, dibangun di pinggiran barat ibu kota.


Selain membangun perkampungan atlet, Tokyo juga menggarap stadion modern berkapasitas 80.000 tempat duduk dengan atap yang bisa dibuka-tutup secara otomatis. Perancangnya adalah Zaha Hadid yang merupakan arsitek kenamaan peraih Pritzker Architecture Prize.

Stadion olimpiade ini dikerjakan di atas situs stadion Olimpiade Nasional 1964 yang akan dibongkar segera setelah Tokyo terpilih menjadi tuan rumah. Oleh karena itu, pada saatnya nanti, ketika pekerjaan konstruksi stadion ini rampung pada 2018, dapat digunakan sebagai venue Piala Dunia Rugbi 2019, sebelum Olimpiade 2020 digelar.

Bagaimana bentuk stadion senilai 839 juta poundsterling (Rp 14,6 triliun) tersebut? Mari kita ulas lebih dalam.
National Stadium Tokyo sangat ramping, bentuk strukturnya memanjang, dengan garis yang mengalir tertutup oleh membran transparan. Secara umum, rancangan Hadid ini dianggap sangat dinamis dan futuristik serta dapat merepresentasikan pesan yang ingin disampaikan Jepang kepada dunia.

"Saya yakin, stadion ini akan menjadi tempat suci untuk olahraga dunia dalam 100 tahun ke depan," kata Ketua Panel Seleksi, Tadao Ando.

Menurut Hadid, merancang Stadion Nasional baru Jepang merupakan sebuah kehormatan. Sebelum merancangnya, Hadid melakukan penelitian selama tiga dekade tentang arsitektur dan urbanisme Jepang.
"Stadion ini akan menjadi bagian integral dari 'kain perkotaan' Tokyo. Ia terlibat langsung dengan lingkungan sekitarnya untuk menghubungkan dan mengukir bentuk elegan dari desain," katanya.
Stadion Nasional berbentuk unik, ringan, dan kohesif, serta dapat mendefinisikan siluet yang menyatu dengan kota. Perimeter stadion akan menjadi jembatan sekaligus ruang pameran berkelanjutan sehingga menciptakan sebuah perjalanan baru yang menarik bagi pengunjung.