Saturday, September 14, 2013

5 Video mesum dibuat mahasiswa yang bikin heboh

Katakepo.blogspot.com - Dua orang mahasiswa yang terdaftar di salah satu perguruan tinggi di Riau bukannya menyelesaikan kuliah, tapi mereka malah melakukan tidakan asusila. Pelaku berinisial Lk (22) dan Ba (20), warga Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis malah merekam adegan vulgar mereka melalui kamera telepon selular.

Padahal, keberadaan mahasiswa seharusnya menjadi salah satu kaum intelektualitas sekaligus mengaplikasikan ilmunya kepada masyarakat. Tapi apa daya, akibat perbuatannya mereka justru harus berurusan dengan aparat kepolisian.

Ternyata, kasus pembuatan video porno yang dilakukan mahasiswa tidak hanya sekali terjadi. Setidaknya, ada sejumlah kasus video mesum lainnya yang sempat menggerkan dunia maya.

Berikut hasil penelusuran merdeka.com tentang pembuatan video porno yang melibatkan mahasiswa:

1. Mahasiswa Bandung

Pertengahan November 2001, dunia pendidikan di kota Bandung sempat dihebohkan beredarnya rekaman video mesum yang dibuat mahasiswa-mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi. Video tersebut diberi judul Bandung Lautan Asmara atau Itenas 15.

Pelakunya diketahui bernama Adi dan Nanda yang juga terdaftar sebagai mahasiswa Institut Teknologi Nasional (Itenas). Pasangan ini merekam seluruh adegannya dengan menggunakan handycam di sebuah kamar hotel dengan set di ranjang lalu berpindah ke atas kloset toilet.

2. Video vulgar mahasiswa Bali

Sebuah video panas seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi swasta ikut membuat geger masyarakat Bali. Bagaimana tidak, dalam rekaman tersebut, pemeran wanita dalam sempat menari striptease sebelum melakukan hubungan layaknya suami istri.

Video tersebut tersebar melalui situs jejaring sosial facebook, Google hingga Youtube. Rekaman tersebut diketahu pertama kali diambil pada 9 Mei 2010 dengan nama akun Lady Mega.

Oleh pemilik akun, video tersebut diberi judul Video Hot Lady Mega Singaraja Striptease dan N******

3. Terinspirasi dari video mesum Luna-Ariel

Kasus video porno yang menampilkan penyanyi Ariel Peterpan dan aktris Luna Maya ternyata menginspirasi seorang mahasiswa semester 3 berinisial WR. Gara-gara terobsesi, WR bersama kekasihnya PS nekat merekam adegan asusila tersebut dalam ponsel miliknya.

Saat menjalani pemeriksaan di kepolisian, dengan lugas ia mengaku perbuatannya itu dilakukan karena terinspirasi dari video porno Ariel-Luna. Rekaman tersebut diketahui berdurasi sekitar 20 menit.

4. Bikin video di toilet kampus

Entah apa yang dilakukan So dan Ks saat merekam tindakan asusila mereka menjadi video porno. Bukannya belajar menjalani kuliah, keduanya melakukan adegan suami istri di dalam toilet kampus dengan durasi lebih dari 15 menit.

Keduanya diketahui sebagai mahasiswa di Universitas Megou Pak Tulangbawang. Akibat kelakuannya itu, mereka langsung dikeluarkan dari kampus. Belakangan diketahui keluarga kedua pelaku telah menikahkan mereka.

5. Kelakuan mahasiswa Pekanbaru

Kedua mahasiswa berinisial Lk (22) dan Ba (20) warga Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis dipanggil polisi karena membuat video porno. Keduanya diketahui merekam sendiri hubungan terlarang.

Atas perbuatannya, lanjut Suparman, keduanya dapat dikenai pidana kurungan maksimal 12 tahun atau denda sejumlah Rp 6 miliar. Selama proses pemeriksaan, ponsel yang digunakan untuk merekam adegan layaknya suami istri disita untuk diajukan ke pengadilan.

Dengan adanya kejadian itu, polisi juga menyarankan agar kedua pasangan tersebut segera menikah. Mereka juga diminta untuk tidak mengulangi perbuatan dan menyebarkan video porno buatannya ke publik.




3 Tahun mengembara di Negeri Sakura

Katakepo.blogspot.com - Tanggal 13 Februari 2007, saya berhasil menjejakkan kaki pertama kali di Jepang, tepatnya di Nagoya, sekitar pukul 14:00 WIB atau pukul 16.00 waktu Jepang.
Perasaan yang pertama kali saya rasakan saat keluar dari pesawat dan menuju tempat pengambilan barang-barang, adalah "Japan so awesome!". Bersih dan tertata rapi. Cuaca kala itu tidak terlalu dingin karena sudah mendekati musim semi - bulan Februari.
Beberapa rekan yang ikut terbang bersama saya pun bersorak kegirangan dan boleh dikatakan norak karena ketika mereka berbicara ada asap keluar dari mulut. Tentu saja hal tersebut mematik perhatian orang-orang sekitar, apalagi kami ber-16 menggunakan jas resmi, hitam-hitam dengan kemeja putih serta dasi dan peci (kopyah) hitam. Ya, kami Tenaga Kerja Indonesia yang baru tiba di Jepang.
Setelah masuk ke area bandara, kami disambut oleh orang-orang biro yang bakal mengurusi segala hal selama 3 tahun ke depan. Saya tak henti-hentinya menoleh ke sana ke mari karena pemandangan yang saya impi-impikan sejak duduk di bangku SMA - tahun 1995 silam - telah berada di hadapan saya saat itu.
Setelah di-briefing oleh seorang team leader yang waktu itu paling mahir berbahasa Jepang, kami semua kemudian digiring masuk ke dalam sebuah bus yang sudah menunggu di luar bandara. Mini bus itu kecil tetapi bersih, wangi dan modern. Jujur, tidak pernah saya temui bus seperti itu di Indonesia. Selama perjalanan, saya dan teman-teman saling bersenda-gurau dan akhirnya satu per satu dari kami jatuh terlelap karena perjalanan yang sangat panjang.
Akhirnya sampai juga kami di sebuah daerah yang sangat asing. Desa itu bernama Shinohara. Tempat ini adalah desanya kota Hamamatsu, Shizuoka. Meski dikatakan sebuah desa, belum pernah saya melihat sebuah desa memiliki tata kota, pedestrian yang bersih, lalu lintas yang tertib, jalan yang rapi, dan bangunan-bangunan modern.
Bayangan saya tentang Shinohara adalah desa, ya, desa. Sedikit tertinggal dari daerah yang dinamakan kota. Tetapi Shinohara boleh dibilang lebih mirip kota-kota berkembang (bukan kota maju) di Indonesia daripada disebut sebuah desa.
Perkenalan dan basa-basi awal di dalam kantor biro berlangsung membosankan dan cukup lama. Namun, setelah sekitar 2 jam berlalu, akhirnya para penanggung jawab yang tak lain adalah bos perusahaan yang akan menjadi orang tua sekaligus pimpinan tempat kita bekerja mulai mengajak semua "anak-anak"nya ke luar untuk diantar ke apartemen masing-masing. Oh ya, kita ber-16 dibagi beberapa orang untuk bekerja di perusahaan yang berbeda-beda.
Kembali lagi, dalam pemikiran saya, kata apartemen adalah tempat tinggal yang mewah dan penuh dengan kenyamanan. Anggapan orang Indonesia! Namun, ternyata bagi orang Jepang kata apartemen atau disebut juga apattoo hanyalah sebuah rumah mungil dan kumuh, sedangkan istilah apartemen mewah yang dikenal oleh orang Indonesia itu pada umumnya disebut mension atau mansion dalam bahasa Jepang.
Singkat kata, saya sudah "diperkenalkan" dengan rumah tinggal baru saya dan kemudian bos mengajak saya untuk melihat dan menjelaskan jalan pulang-pergi ke perusahaan. Sekali lagi bayangan yang saya bawa dari Indonesia salah. Awalnya saya beranggapan bahwa kerja di Jepang yang serba hi-tech itu hanya tinggal duduk, pencet tombol, beres perkara. Namun, ketika saya dibawa ke pabrik dan diperlihatkan di mana tempat mesin yang harus saya operasikan nantinya, saya agak terkejut.
"Mesin apa ini!" pekik saya dalam hati.

Banyak kabel-kabel menjulur di sana-sini, barang mentah, tombol ini-itu dan banyak lagi. "Mampukah saya mengoperasikan mesin ini besok? (esok hari saya sudah harus bekerja)," batin saya.
Setelah diberitahukan jalan pulang-pergi sekaligus mesin yang harus dioperasikan dan lokasi tempat saya bekerja, sang bos yang kemudian saya panggil otou-san atau ayah itu memberikan sebuah kunci kepada saya. Dia kemudian mengajak saya ke ruangan lain dan menunjuk sebuah sepeda mini dengan keranjang di bagian depannya.
"Itu untuk kamu. Dia adalah alat transportasimu selama 3 tahun di sini," jelasnya.
Antara bingung dan tak tahu harus bilang apa, saya langsung mengucapkan, "Arigatou de gozaimasu" atau "Terima kasih banyak" dengan oujigiatau menundukkan badan sekitar 45 derajat ke depan.
Akhirnya saya disuruh pulang sendirian ke apartemen dengan mengingat serta menyusuri jalanan yang tadi. Awalnya saya agak bingung arahnya ke mana dan semuanya tampak sama. Desain rumah orang Jepang rata-rata memiliki kemiripan satu dengan yang lain. Hal itu yang membuat saya bingung dan peraturan di jalanan juga belum saya mengerti.

Dengan berbekal kenekatan, saya pun mencoba kembali menelusuri jalanan itu dengan mengingat-ingat rute yang sudah saya lalui bersama sang bos. Membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit lebih untuk saya bisa berhasil menemukan "gubuk" saya itu. Padahal pada kenyataannya, jarak antara apartemen dan pabrik hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit saja. Hahahaha....





Inilah 4 hidangan favorit Sultan Yogyakarta

Katakepo.blogspot.com - ingin mencicipi masakan kegemaran keluarga kraton? Datanglah segera ke Bale Raos. Banyak orang mengatakan bahwa restoran bergaya Jawa yang beralamat di Jalan Magangan Kulon no. 1 ini menyajikan beraneka kuliner santapan raja. Nah, kira-kira Sultan Yogyakarta suka menu seperti apa ya. Yuk kita cari tahu seperti apa hidangan spesial yang digemari oleh para raja Yogyakarta.

1. Bendul

Berlibur ke Yogyakarta rasanya kurang lengkap jika belum mampir ke Bale Raos. Restoran yang beralamat di Jalan Magangan Kulon No.1 Kraton, ini menyajikan beraneka makanan dan minuman favorit sultan dan keluarga keraton lainnya.

Salah satu menu khas yang wajib Anda coba adalah bendul. Jajajan tradisional yang punya cita rasa unik ini terbuat dari singkong yang dicampur dengan kelapa parut lalu dibakar.

Kudapan favorit Sultan Hamengku Buwono VIII tersebut disajikan pula dengan cara yang unik. Pertama, adonan bendul yang sudah matang diambil secukupnya. Kemudian dibentuk seperti bola pingpong lalu digepengkan sedikit. Terakhir, bendul ditusuk dengan stik es krim.

2. Singgang ayam

Satu lagi menu yang wajib dicoba jika berkunjung ke Bale Raos, Yogyakarta. Singgang ayam merupakan salah satu menu primadona yang ditawarkan oleh restoran bergaya Jawa yang beralamat di Jalan Magangan Kulon No.1 Kraton ini.

Hidangan sejenis sate ini biasanya dihidangkan dengan lontong dan saus rempah yang khas. Namun, Anda juga bisa mengganti lontong dengan nasi putih biasa, bila merasa lontong tidak mengenyangkan.

Berbeda dengan sate ayam pada umumnya yang disajikan bersama saus kacang, singgang ayam lebih mengutamakan kekuatan pada bumbu rempahnya.

3. Manuk Nom

Salah satu puding khas kraton yang direkomendasikan di Bale raos adalah Manuk Nom. Ini adalah sejenis puding yang dibuat dari paduan tape ketan hijau dan telor.
Manuk Nom disajikan sebagai dessert pada masa Dri Sultan Hamengku Buwono VII, pada tahun 1877-1921. Namun pada era Sri Sultan Hamengku VIII (1921-1939), Manuk Nom disajikan sebagai hidangan pembuka.
Seperti namanya, Manuk Nom atau 'burung muda' berbentuk menyerupai burung kecil. Ditata sedemikian rapi dalam wadah berbentuk daun lengkap dengan alas daun pisang, puding ini tampak menggugah selera. Belum lagi dekorasi emping belinjo yang diletakkan di atas puding tampak seperti sayap, unik sekali.

4. Nasi Tradisional

Nasi traditional berisi variasi masakan pilihan yang disajikan dengan nasi merah putih berbentuk kerucut. Nasi merah yang digunakan asli berasal dari kawasan Wonosari. Beberapa masakan yang tergabung dalam nasi tradisional ini antara lain Gecok Ganem, Oseng Daun Pepaya, Tempe dan tahu bacem, serta Lombok Kethok.
Gecok Ganem yang merupakan makanan favorit Sultan Hamengku Buwono IX berisi bakso sapi yang dikukus dengan kuah santan. Rasa daging sapi yang lembut dan kuah santan yang gurih akan memanjakan lidah Anda. Begitu juga dengan potongan cabe hijau dan merah yang menambah aroma dan rasa khusus di lidah.


Pesona Katedral Cologne di pinggir Sungai Rhein

Katakepo.blogspot.com - Saya berjalan cepat, menembus hawa dingin pagi yang menggelitik tengkuk yang tak tertutup. "Tak apalah, yang penting bisa mewujudkan mimpi," begitu kata saya dalam hati.

Pagi itu, suasana hati saya memang sedang cetar membahana - mengutip kata Mbak Syahrini. Pasalnya, akhir pekan ini saya dan beberapa teman dari negara lain, yang juga mengikuti program pertukaran pelajar ke Jerman, akan bertamasya bersama. Ke mana? Cologne (Koeln), kota terbesar keempat di Jerman. Posisi saya saat itu berada di Duesseldorf, ibu kota negara bagian Nordrhein-Westfalen, yang kebetulan berada tak jauh dari Cologne.
Pengalaman ini saya alami tiga tahun lalu, 2010, saat cuaca di Eropa sedang amburadul. "Musim panas kok malah dingin," keluh saya, saat pertama kali menginjakkan kaki di Duesseldorf. Suhu bahkan bisa merosot sampai 12 derajat. Tak jarang, saya harus rela basah kuyup gara-gara hujan deras yang datang tanpa aba-aba. Rupanya, bukan cuma saya yang mengeluh tentang cuaca. Beberapa teman juga berpikiran sama. Seminggu di sana, ada beberapa teman yang sudah terkena batuk dan pilek. Beruntung saya tidak.
Sabtu (11/8), saya dan rombongan berkumpul di Duesseldorf Hauptbahnhof (stasiun pusat), tepat pukul 8 waktu setempat. Kali ini, tidak ada judul jam karet alias datang telat. Semua datang tepat waktu dan bergegas mengumpulkan tiket reservasi masing-masing. Tiket dikumpulkan kepada pemandu wisata yang bertugas mengantar kami ke Cologne. Pria jangkung dengan tinggi mencapai 190 meter itu sedikit membungkuk ketika menanyakan nama saya. Dia lalu mencatat tiket yang saya berikan dan mengabsen anggota lainnya.

Untuk mengantungi satu tiket reservasi ke Cologne, saya merogoh kocek 20 euro atau sekitar Rp 291.474. Saya pikir itu bukan harga yang mahal untuk sebuah pengalaman luar biasa yang menanti saya di Cologne. Tiket itu sudah termasuk tiket kereta PP, pemandu wisata, dan tiket museum. So, it's time to travel girls!
Pesona Katedral Cologne di pinggir Sungai Rhein

20 Menit kemudian saya tiba di kota impian, Cologne. Suasana Koeln Hauftbahnhof riuh rendah. Bersamaan dengan libur musim panas, jumlah wisatawan melonjak drastis. "Seid vorsichtig mit ihren Brieftaschen!" atau "Berhati-hatilah dengan dompet kalian!" kata pemandu wisata berambut pirang itu pada rombongan. Menurut penjelasan yang saya tangkap, para pencopet cilik sering beraksi di sekitar Cologne. Mendengar itu, saya langsung jadi posesif pada ransel di punggung.
Setelah di-briefing selama hampir 10 menit, kami pun langsung berangkat menuju Katedral Cologne yang berada tepat di samping stasiun. Saking takjubnya, saya sempat terpaku sejenak memandangi arsitektur gereja Gotik terbesar di Eropa Utara itu. Pembangunan Katedral Cologne (Koelner Dom) dimulai pada tahun 1248 dan dihentikan pada 1473.
Pengerjaan ulang kembali dilakukan pada abad ke-19 dan selesai pada tahun 1880. Bagi saya, katedral ini merupakan simbol kegigihan umat manusia yang tak gampang putus asa. Betapa tidak, butuh waktu lebih dari 600 tahun untuk bisa menyelesaikan Katedral Cologne.
Pada tahun 1996, katedral ini masuk sebagai situs budaya penting dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Namun, seperti halnya nasib dari kebanyakan situs lain di dunia, pada tahun 2004, Katedral Cologne terpaksa masuk dalam daftar "World Heritage in Danger", karena adanya rencana pembangun sebuah gedung pencakar langit di dekatnya, yang pastinya akan berdampak secara visual pada keindahan situs. Beruntung pada 2006, pemerintah memutuskan untuk membatasi ketinggian bangunan yang dibangun di dekat dan di sekitar katedral Katolik Roma tersebut.
Kuil Tiga Raja adalah harta paling populer yang dimiliki oleh Katedral Cologne. Pembuatan kuil ini ditugaskan oleh Philip von Heinsberg, Uskup Agung Cologne dari 1167-1191 dan diciptakan oleh Nicholas Verdun, dimulai pada 1190. Kuil Tiga Raja memiliki bentuk seperti sebuah wadah besar - dalam bentuk sebuah gereja basilikan - yang terbuat dari perunggu dan perak, disepuh dan dihiasi dengan detail arsitektonis, patung figuratif, enamel dan batu permata. Kuil tersebut dibuka pada tahun 1864.
Lonceng gereja

Katedral ini memiliki sebelas lonceng gereja, empat di antaranya berasal dari abad pertengahan. Yang pertama adalah Dreikoenigsglocke seberat 3,8 ton ("Bell Tiga Raja"), yang dibuat tahun 1418, dan dipasang pada 1437. Dua lonceng lain, Pretiosa (10,5 ton) dan Speciosa (5,6 ton) dipasang pada tahun 1448 dan tetap di tempatnya sampai hari ini.

Menarik rata-rata 20.000 orang per hari, Katedral Cologne telah menjadi tujuan wisata paling populer di Jerman. Berminat untuk mengunjunginya? Jangan lewatkan liputan selanjutnya ya!

Hanya di Indonesia, 5 hal ini bisa jadi tren

Katakepo.blogspot.com - Indonesia bisa dibilang merupakan satu contoh nyata di mana tren 'aneh' menyebar lewat teknologi. Bisa dianggap aneh karena mungkin tren seperti ini tak akan bisa sampai laris jika tersebar di luar nusantara.
Kebanyakan, tren 'aneh' yang menyebar melalui internet, ada pula yang menyebar melalui smartphone. Ada yang sebenarnya berasal dari luar, namun tak sedikit yang murni hasil dari negeri sendiri.
Dalam beberapa hari terakhir, mungkin Anda dikejutkan dengan tren bahasa Tervicky yang jadi viral akibat munculnya berbagai video dengan tata bahasa 'intelek' yang digunakan oleh Vicky Prasetyo. Namun, sebelum Tervicky, sebenarnya banyak juga tren yang sudah berkembang di dalam negeri berkat bantuan internet dan smartphone.
Apa saja? Simak ulasannya yang berhasil dihimpun merdeka.com (13/9) berikut ini:

1. 4L4y

Tren bahasa satu ini mungkin beredar di kalangan ABG (Anak Baru Gede) pada beberapa tahun belakangan ini. Penyebarannya pernah sangat pesat akibat menjamurnya penggunaan smartphone BlackBerry di kalangan anak muda.
Tak hanya lewat BBM saja, tren ini juga menyebar lewat pesan singkat seperti SMS hingga email bahkan tulisan tangan sekalipun. Sebenarnya, tren seperti ini juga berkembang di luar negeri, namun namanya L33t.
Alay sendiri adalah gaya bahasa di mana penggunaan beberapa huruf digantikan dengan karakter unik seperti angka atau tanda baca lainnya. Bagi yang sudah terbiasa dengan hal ini mungkin tak merasa kesulitan, namun, bagi yang tak terbiasa dengan 'bahasa alien' macam ini, tentu akan susah.

2. Ciyus? Miapah?

Kalau tren satu ini umurnya masih lebih pendek dibanding dengan tren gaya bahasa Alay. Namun, efek yang dihasilkan tetap sama.
Dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, ciyus sendiri berarti serius, sedangkan miapah berarti demi apa. Bahasa seperti ini sejatinya digunakan untuk menunjukkan bahwa penggunanya masih kekanak-kanakan dan imut-imut (anak balita lebih mudah mengucapkan ciyus daripada serius).
Penyebarannya juga terjadi dalam beberapa media teknologi seperti BBM, SMS, email, jejaring sosial, dan sebagainya. Penggunanya pun setipe dengan yang sebelumnya, yaitu remaja.

3. Demi Tuhaan!

Anda yang mengikuti perkembangan perseteruan Eyang Subur dan mantan pengikutnya mungkin paham dengan frase satu ini. Hal ini diucapkan oleh Arya Wiguna saat menyatakan kemarahannya kepada Subur di depan media massa.
Bentuk penumpahan amarah yang dilakukan Arya ini ternyata terekam bidikan kamera dan secara cepat menyebar lewat YouTube. Akibatnya, banyak orang ikut-ikutan menirukan kemarahan Arya Wiguna dalam beberapa video parodi.
Memang belum ditemukan bentuk penggunaan frase ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Namun, melihat penyebarannya lewat jejaring sosial, bisa diketahui bahwa hal ini memang sempat menjadi tren.

4. Goyang Cesar

Yang satu ini memang bukanlah gaya bahasa, namun, terbukti sempat viral di Indonesia. Sebab selama bulan Ramadan lalu, Cesar dan goyangan khasnya hadir dalam sebuah acara menjelang Sahur.
Ternyata, goyangan ini mendapatkan animo yang baik dari masyarakat. Bahkan, video goyangan ini pun dicari-cari baik melalui Google ataupun YouTube.
Dari awal diunggah sampai sekarang, sudah banyak pemirsa TV di Indonesia yang penasaran dan ingin mencoba mengikuti tarian ini.
Maka, jika lagu dangdut berjudul Rok Mini atau Buka Sitik Jos diputar dimana-mana, goyangan yang dilakukan pendengarnya pun akan sama, yaitu menggunakan goyang Cesar.

5. Tervicky

Kalau gaya bahasa yang satu ini mungkin Anda tak asing lagi. Ya, gaya bahasa ini terkenal baru-baru saja lantaran dikeluarkan dari mulut mantan tunangan Zaskia Gotik, Vicky Prasetyo alias Hendriyanto.
Dalam rekaman wawancara yang terunggah di YouTube, Vicky (mungkin) ingin terlihat keren dan sangat intelek dengan menggunakan bahasa-bahasa 'pintar' lain yang justru menjadi blunder bagi dirinya sendiri. Seperti contohnya dia sempat mengucapkan kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, kudeta keinginan, statusisasi kemakmuran dan lain-lain yang justru terdengar aneh dan tidak bermakna sama sekali.
Akibat hal ini, banyak orang kemudian menggunakan gaya bahasa tersebut. Memang, sampai saat ini belum ada bukti penggunaan gaya bahasa seperti ini dalam kehidupan sehari-hari, namun tren ini cukup banyak diaplikasikan dalam status dan tweet pengguna jejaring sosial.