Monday, September 16, 2013

Kabel Telepon Dicuri, Telkom Rugi Rp 3 Miliar

Katakepo.blogspot.com - PAMEKASAN, Pencurian kabel telepon di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, kembali marak dalam enam bulan terakhir ini. Hal itu menyebabkan jaringan internet dan telepon rumah ke beberapa desa yang menggunakan jaringan kabel terputus. Hal itu pula yang menyebabkan PT Telkom Pamekasan menuai banyak keluhan dari pelanggan.

Abdul Aziz, warga Desa Durbuk, Kecamatan Pademawu, mengatakan, sudah tiga bulan jaringan internet ke rumahnya macet total. Penyebabnya, kabel telepon sepanjang 400 meter menuju rumahnya dicuri maling. Sampai sekarang belum ada upaya penyambungan kabel lagi dari pihak Telkom.

"Saya kebingungan untuk mengakses internet setelah kabelnya hilang. Menggunakan jaringan nirkabel, sinyal juga tidak bagus. Saya sudah melapor ke Telkom dijanjikan cepat diatasi, namun sampai sekarang tidak ada perbaikan," kata Aziz, Senin (16/9/2013).

Tidak hanya di rumah-rumah warga yang kerap mengalami gangguan jaringan internet, di warung internet juga kerap mengalami gangguan. Hal itu menyebabkan pengelola internet mengalami kerugian operasional.

Di Kabupaten Pamekasan, selama enam bulan terakhir sudah 47 kali kejadian pencurian kabel telepon. Pihak Telkom cukup kebingungan mengantisipasi aksi pencurian itu. Sebab, daerah-daerah yang rawan terjadi pencurian meliputi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Palengaan, Kecamatan Pakong, dan Kecamatan Pegantenan.

Sukardiman, Kepala Kantor PT Telkom Pamekasan, mengatakan, akibat kejadian pencurian kabel telepon itu, Telkom mengalami kerugian Rp 3 miliar selama enam bulan. Bahkan, sudah ada wilayah yang tidak teraliri kabel telepon selama dua tahun. Sebab, setiap kali dipasang kabel telepon baru, dalam hitungan minggu hilang kembali.

"Kita akan alihkan jaringan internet menggunakan fiber optik yang sudah ditanam mulai dari Kamal Bangkalan sampai Kalianget Sumenep. Namun, hanya sebagian saja yang masih bisa terlayani," kata Sukardiman.

Pertimbangan menggunakan fiber optik karena biayanya lebih murah dan aman dari pencurian. Apalagi kabel fiber tidak laku dijual meskipun dicuri maling. Selain menggunakan fiber optik, Telkom juga mengembangkan layanan internet broadband murah dan bisa dijangkau dengan jaringan ponsel.

Di Pamekasan sendiri, sudah hampir tiga tahun tidak pernah terdengar adanya pencurian kabel telepon. Sebelumnya, pencurian kabel telepon juga marak, bahkan Polres Pamekasan sempat salah tangkap pelaku pencurian kabel telepon.

Tahu Ada Kejahatan, Warga Malah Takut Melapor ke Polisi

Katakepo.blogspot.com - JAKARTA,sebenarnya berada di lokasi keramaian. Tempat kejadian perkara (TKP) terletak di tepi Jalan Jakarta-Tangerang, tak jauh dari pintu Tol Kebon Jeruk 2, tepat di samping Apartemen Kedoya Elok, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Namun anehnya, banyak warga sekitar yang tidak mengetahui peristiwa tersebut. Adapun warga yang sempat mengetahuinya, tetapi malah takut melapor aksi bejat itu ke pihak polisi.
Kepala Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Hengky Heriyadi mengungkapkan, ada seorang saksi yang pernah mendengar bunyi rintihan penyiksaan di TKP, tetapi karena takut, dia tak langsung melaporkan kejadian tersebut.
"Ibu-ibu ada yang dengar katanya ada suara-suara penyiksaan di TKP, tapi dia tidak mau melapor, bilangnya ketakutan," kata Hengky di Mapolres Metro Jakarta Barar, Senin (16/9/2013).
Mengenai lokasi kejadian, Hengky mengatakan bahwa bedeng-bedeng di kawasan tersebut rawan untuk dijadikan tempat tindak kejahatan. Untuk itu, Polres Metro Jakarta Barat akan berkoordinasi dengan Suku Dinas Penertiban dan Perizinan Bangunan Jakarta Barat untuk membongkar bangunan liar tersebut.
Sementara itu, Hengky mengimbau kepada masyarakat agar jangan takut untuk melaporkan ke polisi apabila melihat atau mendengar gejala-gejala kriminalitas di sekitarnya.
"Makanya, kami imbau jika menemukan adanya tindak kriminal atau unsur kekerasan segera laporkan," tegasnya.
Berdasarkan penelusuran Kompas.com di kawasan sekitar lokasi kejadian, banyak pedagang asongan di sekitar pintu Tol Kebon Jeruk 2, Jakarta Barat, mengaku tidak tahu tentang adanya penyekapan dan penyiksaan terhadap H, yang notabene rekan seprofesi mereka, di bedeng yang hanya terletak 50 meter dari tempat mereka berjualan.
Sementara di depan bedeng yang menjadi lokasi penyiksaan merupakan warung makan. Informasi yang dihimpun di lapangan, pemilik warung makan tersebut juga tidak mengetahui perihal peristiwa yang dialami oleh H.
Meski tidak diberi garis polisi seperti bedeng yang ada di belakangnya, saat ini warung makan tersebut untuk sementara tutup.

Anty Perempuan dari Titik Nol

Katakepo.blogspot.com - Anty lahir dari keluarga kaya, tetapi besar di panti asuhan. Ia belajar kehidupan dari titik nol. Ketika kesuksesan kini dalam genggaman, ia menyadari bahwa uang bukanlah segalanya.

Tanggal 22 Juli 1988 adalah hari yang selalu mengakar dalam ingatan Marianty Indira (35), akrab dipanggil Anty. Di hari itu, sang ibu yang sudah bertahun-tahun menderita kanker meninggal, di saat Anty berusia 10 tahun. Tiga tahun sebelumnya, sang ayah lebih dahulu pergi. ”Hari itu saya bolos sekolah. Ibu minta ditemani dan diguntingin kuku. Setelah itu Ibu tidur di pangkuan saya. Tidak bangun lagi,” kenang Anty.

Hidupnya berubah total sejak hari itu. ”Saya hanya bisa menangis. Tamu banyak sekali yang datang. Beberapa hari kemudian saya dibawa keluar rumah oleh saudara yang tadinya saya pikir akan mengadopsi dan merawat saya. Saya tidak membawa apa-apa, hanya dengan baju di badan. Saya ternyata dibawa ke panti asuhan di daerah Pamulang, Pondok Cabe. Saya ditinggal di sana, tanpa bekal apa pun,” kenang Anty.

Anty yang biasa hidup berlimpah, dilayani banyak pembantu, sangat dimanja dan dituruti semua keinginannya, kemudian menjadi anak yatim piatu di panti asuhan yang harus mengurus semuanya sendirian. ”Rumah saya dulu besar di daerah Pakubuwono, Kebayoran Baru, dan Pejompongan, sementara di panti asuhan saya tidur beralas tanah. Di rumah, baju saya sangat banyak, tapi di panti saya hanya punya baju yang saya kenakan. Makan juga tidak gampang. Sementara dulu saya kalau makan sering tidak habis,” ujarnya mengenang masa-masa sulit di panti asuhan.

Awalnya, malam demi malam di panti asuhan diisi tangis. Apalagi ia juga tidak tahu ke mana harus menghubungi beberapa kakaknya yang sudah lebih dulu diadopsi. Sampai akhirnya, di usia yang masih belia itu ia membuat keputusan penting: ia harus melupakan masa lalunya, harus meneruskan sekolah dan menjadi yang terbaik. Karena hanya itu cara untuk bertahan hidup.

Anty yang dikaruniai otak encer lulus sekolah dasar dengan mudah, diterima di SMP dengan beasiswa, begitu juga ketika masuk SMA. Ia selalu menjadi yang terbaik, selalu juara satu. ”Yang mendorong saya untuk menjadi juara adalah cemoohan orang. Saya ingin menunjukkan kepada semua orang, ’biarpun gue yatim tapi gue bisa’,” lanjutnya. Bukan hanya itu, dengan menjadi juara satu, guru-gurunya mengizinkannya mengambil rapor sendiri tanpa perlu dihadiri ”orangtua”.

”Saat pembagian rapor selalu menjadi saat-saat yang membuat saya ingin menangis. Alangkah bahagianya jika saya punya orangtua dan menerima rapor saya dengan bangga,” kata Anty.

Keluarga di Jepang

Ketika duduk di kelas I SMA, Anty yang sewaktu kecil pernah dijanjikan ibunya akan disekolahkan ke luar negeri itu mencoba mengikuti kompetisi beasiswa TMG (Tokyo Metropolitan Government) yang proses seleksinya sangat ketat. Berkat kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik—karena semasa hidupnya sang ibu sering mengajaknya bercakap-cakap dalam bahasa Inggris—Anty terpilih di antara ribuan peserta tes dan bisa masuk sekolah swasta terbaik di Jepang, Aoyama Gakuin, pada tahun 1994.

”Sewaktu pesawat mendarat di Bandara Narita (Jepang), saya langsung sujud syukur dan menangis. Saya bilang, Mama anakmu berhasil ke luar negeri.”

Di negeri ini pula Anty bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Ia tinggal bersama orangtua angkat, Kanji Iwabuchi (62) dan Mariko Iwabuchi (58), yang memiliki tiga anak, Tomoko Ikeda (35), Kantaro Iwabuchi (31), dan Sintoro Iwabuchi (37).
”Tuhan sangat baik mempertemukan saya dengan keluarga ini. Saya menganggap merekalah orangtua saya. Mereka sangat sayang kepada saya,” kata Anty.

Dengan limpahan kasih sayang dari keluarga Iwabuchi, talenta Anty makin berkembang. Ia bisa menguasai bahasa Jepang, baik lisan maupun tulisan, hanya dalam waktu yang tergolong singkat. ”Sewaktu berangkat ke Jepang, saya tidak punya bekal bahasa Jepang. Tapi di sana saya memaksakan diri untuk bicara hanya dalam bahasa Jepang. Saya rajin mendengarkan berita di radio dan belajar dari buku tata bahasa dasar milik Sintoro.”

Ketekunannya ini bukan saja membawanya menjadi pelajar berprestasi di Jepang, melainkan juga membuatnya berhasil menembus Aoyama Gaukin University Jurusan Fisika. ”Saya sempat kuliah satu tahun. Ayah saya (Iwabuchi) ingin agar saya menyelesaikan kuliah di Jepang. Tapi Depdikbud meminta saya pulang ke Indonesia karena izin beasiswa saya hanya dua tahun,” lanjutnya.

Kembali di Indonesia, Anty diterima di Sekolah Tinggi Telkom Jurusan Teknik Industri, yang sengaja dipilihnya agar bisa cepat bekerja. Ia lulus dengan memborong tiga gelar sekaligus, yaitu termuda, tercepat, dan terbaik. ”Saya ingat nama saya dipanggil tiga kali untuk menerima penghargaan.”

Pintu karier pun terbuka luas. Ia membangun karier dari bawah dan kini sampai pada posisi tinggi di sebuah perusahaan asuransi. Dunia asuransi membuka matanya tentang pentingnya rasa aman dan pentingnya bersiap menghadapi hal terburuk. Pengalaman hidupnya membuahkan pelajaran penting: warisan harus jatuh ke tangan yang berhak.

”Asuransi itu penting untuk anak-anak yang ditinggal orangtuanya. Saya tidak ingin masa lalu saya terjadi pada anak-anak saya. Dengan asuransi, saya tidak akan khawatir mereka kesulitan makan seandainya saya meninggal,” kata Anty yang dikaruniai tiga anak.

Di titik puncak, Anty kini bisa menengok ke belakang. Adakah perjalanan hidup yang disesalinya? ”Tidak ada,” katanya. ”Uang bukanlah segalanya. Tanpa cobaan itu, saya tidak akan seperti sekarang.”

Arian "Seringai" Belajar dari Tony Bennett

Katakepo.blogspot.com - JAKARTA,Vokalis grup metal Seringai, Arian Arifin alias Arian 13, nyaris kehabisan kata-kata ketika menonton konser vokalis kawakan dari AS, Tony Bennett (87), di Ballroom The Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Jumat (13/9/2013) malam.

"Di umur 87 tahun masih seperti itu, gokil. Dari tadi juga ngebahas itu, 'Kita kira-kira umur segitu ngapain? Ya, kalau enggak mati, duduk di bar'," celoteh Arian dalam wawancara usai Tony Bennett Live in Concert.

Malam itu Arian menyerap pelajaran penting dari Bennett. "Pertama, dia keluar ya kesannya sudah aki-aki, muter sedikit sudah e... eh...," ungkap Arian lalu tertawa. "Tapi, dia memperlihatkan, 'Gampang ya nyanyi'. Gue memang passion-nya di metal, tapi gue suka dengar semua musik. Sayang aja kalau banyak lagu bagus enggak didengerin," lanjutnya.

Arian mengatakan, ia tak bisa membayangkan apakah ia bisa selanggeng Bennett dalam berkarier musik. "Kalau gue sih 10 tahun lagi sudah cukup, setelah itu mungkin masih bergerak, paling di belakang layar lah," ucap Arian, yang bersama rekan-rekan Seringai-nya membuka konser Metallica di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 25 Agustus 2013.

"Sudah Saatnya Presiden Bantu Jokowi-Ahok"

Katakepo.blogspot.com - JAKARTA, Ekspektasi masyarakat terhadap kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama untuk menata Ibu Kota terbilang tinggi. Namun, apa daya, tumpang tindih kebijakan menunjukkan kewenangannya tak sebesar ekspektasi.

Jokowi-Ahok pun disangsikan mampu mewujudkan harapan warga Jakarta, yakni menyelesaikan masalah macet dan banjir di Ibu Kota. Kedua masalah itu tumpang tindih dengan kebijakan pemerintah pusat.

Program gebrakan lemah seketika. Di tengah-tengah upaya Jokowi-Ahok meminimalisasi kemacetan dengan memperbaiki transportasi umum di Jakarta, pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Regulasi Mobil Murah dan Ramah Lingkungan atau LCGC.

Soal lain, di tengah upaya Jokowi-Ahok mengatasi masalah banjir dengan normalisasi sungai dan waduk di DKI, di mana harus merelokasi warga bantaran terlebih dahulu, pemerintah pusat menerbitkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pembebasan Lahan untuk Kepentingan Umum. Pembebasan lahan yang biasanya dilakukan Panitia Pembebasan Tanah di bawah gubernur pun menjadi dialihkan ke Badan Pertanahan Nasional, di bawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

"Ya mau gimana lagi," ujar Jokowi pasrah.

Pemerintah pusat jadi juru kunci

Menanggapi benturan kebijakan antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI, pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia (UI), Profesor Hamdi Moeloek, melihat dari kacamata yang lebih luas. Hamdi menilai, persoalan di DKI memang terkait dengan provinsi lain. Namun, kerja sama antarprovinsi dianggap tidak efisien lantaran ego otonomi daerah. Kebuntuan inilah yang harusnya dimanfaatkan pemerintah pusat untuk masuk serta mengambil kebijakan "siapa yang mengatur apa".

"Contohnya transportasi. Pergerakan orang dari provinsi lain tinggi. Harus ada transportasi yang mengangkut mereka. Kemacetan pun tak bisa diselesaikan kalau pemerintah pusat tak turun membuat, membagi otoritas transportasi," ujarnya.

"Belum lagi soal banjir. Itu hanya bisa diatasi kalau penataan dari hulu sampai hilir dilakukan. Koordinasi antara pimpinan daerah itu hanya bisa dilakukan kalau presiden yang turun tangan," lanjutnya.

"Presiden jadi kunci. Kalau sudah dapat dilihat yang dikedepankan itu kepentingan publik, mbok Jokowi-Ahok itu dibantu. Jika sudah ada momentum berubah, ya ini saatnya membantu," ujarnya.

Hamdi menilai, tidak ada kata terlambat meski kepemimpinan kepala negara telah memasuki garis finis. Namun, berhasil melewati pita finis belum tentu memenangi perlombaan. Penataan itu secepatnya, setepatnya, menjadi ajang pembuktian pengabdian pemerintah pusat kepada masyarakat.