Sunday, October 27, 2013

Saya Sempat Jatuh Cinta dengan “Monster” Pemerkosa Nenek-Nenek

Katakepo.blogspot.com - Saat bertemu dengan Martin Haze, kesan pertama yang tersingkap adalah sosok pria yang menarik, sopan, humoris dan gentleman. Kepribadian inilah yang membuat Holly Thorogood luluh, dan tergila-gila padanya. Perempuan kelahiran Inggris ini, mengaku tidak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama, sampai akhirnya bertemu dengan Martin.
Dalam waktu singkat, Martin dan Holly, menjadi sepasang kekasih yang tidak terpisahkan.  “Dia seorang pria yang perhatian, selalu ada saat dibutuhkan, tak ada yang salah dari dirinya’’ ujar Holly pada This Morning. “Bahkan teman-teman saya juga menyukai Martin, mereka merestui hubungan kami,’’ sambung Holly.
Selama satu tahun lebih menjalin hubungan, mereka kian dekat dan saling bergantung satu sama lain. Layaknya sepasang kekasih, pertengkaran kecil pun kerap terjadi, namun tidak ada yang sampai mengancam hubungan.
Maka, tak terbayangkan bagaimana histerisnya Holly, saat mengetahui bahwa kekasihnya tersebut, menyimpan rahasia ‘gelap’ yang memalukan.
Terkuaknya identitas asli Martin, bermula dari  ketidaksengajaan. Suatu hari, adik perempuan Martin ‘mengundang’ Holly menjadi temannya di jejaring sosial Facebook.  Setelah mereka berteman, Holly merasakan ada sesuatu yang ganjil, nama keluarga sang adik tertulis ‘Hoyle’ bukan ‘Haze’, seperti Martin.
Holly pun menanyakan hal ini pada kekasihnya, dengan tenang Martin menjelaskan bahwa mereka adalah saudara lain ayah. Di sinilah Holly mulai merasa ada yang aneh dan tidak benar, karena Martin tidak pernah bercerita soal ayah tiri dan sebagainya.
“Dia tidak berani melihat mataku dan terus menerus mencoba mengalihkan topik’’ terang Holly.
Akibatnya, rasa curiga Holly makin berkembang, dan ‘menuntut’ penjelasan lebih mendalam. Karena Martin tampak enggan memberikan penjelasan. Akhirnya, seperti perempuan zaman sekarang umumnya, Holly pun mencoba ‘menggali’ informasi lewat Google.
Setelah mengetik nama ‘Martin Hoyle’ pada kolom mesin pencari. Holly  terkesima, kaget, panik, histeris, seluruhnya menyatu membuat tubuhnya kaku.  Semua keterangan dan informasi mengenai kekasihnya yang sempurna, tertulis begitu mengerikan dan kejam!
“Aku kaget setengah mati, semua artikel menuliskan Martin Hoyle adalah seorang kriminal, seorang narapidana yang pernah dipenjara selama enam tahun. Karena melecehkan nenek berusia 74 tahun secara seksual!” jelas Holly dengan ekspresi murung, saat wawancara bersama The Sunday Mirror.
“Aku jatuh cinta dengan seorang Monster. Aku merasa bodoh dan mual, karena pernah berniat ingin membangun keluarga dengannya!’’ lanjut Holly.
Ternyata, sebelum bertemu Holly, selama enam tahun Martin pernah mendekam di penjara. Dan saat pertemuan pertama mereka dahulu, Martin baru beberapa minggu keluar dari penjara, dengan status bebas bersyarat.
Menurut keterangan yang dikumpulkan oleh Holly, terungkap bahwa tipe pelanggaran yang dilakukan Martin adalah seksual. Ia menyerang seorang nenek berusia 74 tahun yang sedang mandi. Lalu lebih gilanya lagi, Martin memaksa si nenek berjalan di depannya dalam keadaan telanjang.
Selain itu, Holly juga menemukan informasi lain yang lebih memuakkan. Beberapa tahun sebelumnya, Martin juga pernah melakukan hal serupa yang lebih keji, yakni memperkosa nenek berusia 73 tahun. Tetapi, karena terjadi interupsi pada bukti,  tuduhan tersebut pun dibatalkan pada persidangan naik banding.
“Susah untuk mempercayai apa yang saya baca. Tetapi itu adalah kenyataan yang harus saya hadapi. Semua informasi berasal dari situs resmi kepolisian, lengkap dengan foto Martin mengenakan seragam penjara’’ jelas Holly. “Setelah itu, mendadak aku merasa jijik. Melihat tipe kejahatannya, bisa saja Martin memukul atau menyiksaku.  Dan betapa malangnya para perempuan lansia tersebut!” sesalnya.
 Jika menengok kembali ke masa lalu, Holly mengaku memang ada beberapa hal yang dirasa aneh, namun ia memilih menghiraukannya. Seperti misalnya, Martin selalu menolak berpergian ke luar negeri, karena tidak memiliki pasport. Kemudian, ia tidak pernah mendapatkan pekerjaan yang langgeng.
Belajar dari pengalaman pahitnya ini, Holly merasa dirinya telah dikecewakan oleh pihak kepolisian. “Bagaimana mungkin, petugas yang mengawasi masa bebas bersyarat Martin, tidak mengetahui bahwa dia memiliki kekasih. Padahal bisa dibilang  kami hidup bersama,” ujarnya.
Walaupun patah hati dan kecewa, Holly merasa seperti diselamatkan dan masih dilindungi. Bisa saja ia menikah dengan Martin, tanpa pernah tahu mengenai masa lalunya yang mengerikan.
Sekarang, Holly rajin mengisahkan pengalaman pahitnya ini pada media ataupun forum terbuka lainnya. Tujuannya hanya satu, ia tidak ingin para perempuan lainnya mengalami kejadian mengerikan seperti dirinya.

Akulturasi Budaya Korea-Indonesia Pada Jagat Fesyen

Katakepo.blogspot.com - Kolaborasi budaya dapat diberdayakan pada dunia fesyen.  Seperti yang dilakukan oleh Korean Cultural Centre dengan Jakarta Fashion Week. Dalam perhelatan JFW 2014, dua desainer Indonesia dan Korea yang saling bertukar budaya lewat karya busanya mereka, adalah Albert Yanuar dengan Kaal E Suktae.

Uniknya, kedua desainer ini tak cuma sekadar berbagi panggung saja. Ternyata Albert dan Kaal juga saling berbagi bahan material busana. Kaal mengolah kain tenun tradisional Indonesia menjadi koleksi yang memikat. Sedangkan Albert, menciptakan busana dari kain bermotif kaligrafi Korea yang dibuat oleh desainer Korea, Lie Sang Bong.

Nama Kaal sendiri mungkin tak asing di dunia mode negeri ginseng tersebut. Konsep busana kontemporer, dengan detail-detail terstruktur yang rapi dan terlihat sangat chic, menjadi ciri khas Kaal Pada JFW  2014, Kaal menghadirkan koleksi busana yang juga ditampilkan di Seoul Fashion Week dan New York Fashion Week.

"Koleksi kali ini saya terinspirasi dari arsitektur gedung-gedung dengan desain yang simpel dan tak banyak detail," ungkap Kaal saat konferensi pers JFW, Senayan City, Kamis (24/10/2013) lalu.

Kaal mendominasi busana-busananya dengan bahan berwarna abu-abu dan hitam. Ia menampilkan 16 koleksi busana dengan teknik potongan tegas dan simpel dalam setiap bajunya. Gaun mini dengan teknik cut out, blazer, rok mini dan celana panjang terlihat tegas dan modern.

Yang cukup memukau dari desainer lulusan Konkuk university, Departement of Fashion, Korea ini, adalah kemampuannya untuk menggabungkan dua bahan yang berbeda satu sama lainnya, yaitu kain tradisional Korea dengan kain tenun Garut. Kain Korea berwarna putih dengan bahan tenun abu-abu dan juga bahan spons, bertransformasi menjadi gaun yang indah. "Teknik ini disebut dengan teknik bonding. Ini dilakukan untuk menyambungkan semua bahan agar tersambung sempurna," katanya.

Berbanding terbalik dengan koleksi Kaal yang terkesan androgyny. Koleksi Albert Yanuar justru tampil begitu feminin. Barisan gaun yang indah, seolah 'mendekap' liuk tubuh perempuan, hingga terlihat sangat anggun.

Ada 12 koleksi gaun yang ditampilkan Albert dalam dua sekuen. Enam gaun membentuk tubuh yang didimonasi dengan detail bunga lotus, dan enam gaun yang dibuat dari kain Korea.

"Bunga teratai adalah sumber inspirasi saya. Karena bagi masyarakat Korea, bunga teratai adalah simbol spiritual yang dianggap bisa menjadi penanda, bahwa manusia mampu mengatasi kesulitan hidup untuk mendapat pencerahan, sama seperti bunga teratai. Bunga ini juga mencerminkan rasa hormat masyarakat Korea terhadap alam semesta," jelasnya.

Sekuen pertama, Albert menonjolkan gaun panjang simpel dengan aksentuasi detail bunga, yang membaur pada busana. Siluet busana terinspirasi dari hanbok khas Korea. Penggunaan warna peach dan hijau zaitun menggambarkan suasana perbaikan dan keindahan. Tambahan bordir dan payet hadir menyempurnakan.

Bagian yang cukup menarik adalah bagaimana desainer muda ini, membuat gaun dengan pola kaligrafi Korea karya Lie Sang Bong. "Cukup sulit untuk membuat busana bermotif kaligrafi ini, karena saya tidak mengerti arti dari kaligrafi tersebut. Salah potong dan salah sambung bisa memberi arti yang berbeda dari kaligrafi. Jadi saya harus melakukan riset terlebih dulu," jelas Albert.

Di sekuen kedua ini, Albert kembali menghadirkan gaun indah yang mencerminkan karakternya, transformasi. "Banyak perempuan yang cepat bosan dengan gaun yang mereka miliki, maka dengan transformasi ini mereka bisa menghasilkan banyak gaya sekaligus, " tambahnya.

Gaun-gaun mini, disulap Albert menjadi gaun panjang lewat lipatan kain. Ia juga menghadirkan busana yang bisa berubah motif hanya dengan membuka lipatan gaun. Rok pun bisa berubah menjadi jaket, hanya dengan melepaskan rok dari gaunnya.

Puas Makan Ikan di Torosiaje

Katakepo.blogspot.com - Penduduk Desa Torosiaje, Gorontalo, memiliki kearifan lokal tersendiri. Seperti dituturkan salah satu tim program "100 Hari Keliling Indonesia" yang tayang di Kompas TV, Anggun Wicaksono, desa tersebut dihuni oleh Suku Bajo.

Mereka begitu tertarik dengan keadaan masyarakat desa itu. "Yang menarik adalah mereka sudah mulai sadar lingkungan mereka mulai rusak karena terabrasi oleh air laut, sampah dan sebagainya. Makanya mereka tanam bakau secara swasembada untuk kampungnya sendiri," cerita Anggun.

Tim Kompas TV telah melakukan perjalanan keliling Indonesia dalam program terbaru Kompas TV bertajuk "100 Hari Keliling Indonesia". Mereka memulai perjalanan dari Jakarta, menuju Pulau Sumatera, lalu Pulau Kalimantan, barulah kemudian ke Pulau Sulawesi. Semua perjalanan ditempuh melalui transportasi umum via laut dan darat.

Anggun menuturkan, untuk menuju Gorontalo, mereka berangkat dari Palu, Sulawesi Tengah. "Dari Palu kita ke Gorontalo. Sebelum ke pusat kota Gorontalo kita ke Desa Torosiaje. Kita naik bus malam sekitar 20 jam," ujar Anggun.

Anggun menceritakan rumah-rumah penduduk yang ada di desa tersebut tertata rapi dan berderet di atas laut. "Ada barisan rumah. Blok A, blok B, dan blok C tapi di atas laut. Masyarakat juga sangat terbuka sama orang asing," katanya.

Karena berada di pesisir pantai, kuliner andalan tentu saja ikan. "Makan ikan di sana murah banget, kita makan Rp 150.000 sudah dapat makan buat 6 orang. Enak lah pokoknya di sana. Ikannya enak banget dan murah-murah," tuturnya.
Dalam program "100 Hari Keliling Indonesia" yang dipandu Ramon Y. Tungka, tak sekadar menyajikan keindahan panorama Indonesia. Tetapi juga sisi lain kehidupan masyarakatnya, mulai dari budaya, masalah lingkungan sampai problematika transportasi selama perjalanan.

Untuk melakukan misi keliling Indonesia tersebut tim tak menggunakan jalur udara, hanya menggunakan jalur darat dan laut. Beberapa kisah yang dialami oleh tim selama perjalanan pernah ditayangkan Kompas.com. Program ini tayang setiap hari Rabu pukul 20.00 WIB di Kompas TV

Sopir robotik vs manusia, siapa lebih baik?

Katakepo.blogspot.com - Teknologi dalam dunia otomotif terus berkembang seiring dengan usia jaman. Baru-baru ini, beberapa automaker sudah menyiapkan teknologi robotik berupa self driving, atau kemudi otomatis untuk para pelanggannya.
Tidak tanggung-tanggung, pabrik otomotif raksasa sekelas Audi, BMW, Ford, Mercedes-Benz, Toyota, Volkswagen, and Volvo terus meng-upgrade program kemudi otomatis ini. Jika teknologi ini sudah menguasai dunia, benarkah dunia akan lebih damai tanpa masalah lalu lintas?
Produsen Self Driving
Studi mengenai efektifitas program robotik ini baru-baru ini dilakukan oleh Eno Centre for Transportation di Amerika Serikat. Hasilnya, sangat mengejutkan. 10% jumlah mobil pemakai self-driving di jalan, mampu mencegah angka kematian 1000 orang setiap tahunnya.
Penelitian ini juga menyimpulkan, jika saja ada mobil robotik ini sebanyak 90%, maka 21.700 jiwa bisa diselamatkan. Serta, mampu menghemat dana pemerintah untuk pengobatan dan lain-lain hingga Rp 49 triliun.
Self-driving google
Dari Eno Centre for Transportation juga mencatatkan, transportasi di Washington DC mampu menghemat setidaknya Rp 418 miliar. Menarik sekali bukan?
Memang fitur terbaru ini membawa sebuah prestasi tersendiri. Sistem ini mengaplikasikan fitur-fiturnya yang lengkap dengan berbagai sensor dan pengamanan khusus yang semuanya otomatis. Menurut dailymail (24/10) para pengemudi tidak harus takut 'senggol-senggolan' di jalanan. Bahkan dengan jarak seminimal pun dari mobil satu dengan yang lain, pengemudi tidak perlu takut akan menabrak.
Kecelakaan Mobil
Hal ini terlihat sangat menguntungkan karena dari catatan pemerintah Amerika Serikat, human-eror menjadi penyebab utama angka kecelakaan selama ini. Lebih dari 40% kecelakaan ini disebabkan oleh sopir mabuk, terpengaruh obat dan ugal-ugalan di jalan. Jadi, sopir robotik memegang keuntungan lebih besar menggantikan posisi manusia.
So, bagaimana jika ini benar-benar diaplikasikan di Indonesia? mungkinkah fitur canggih kemudi otomatis menjadi solusi angka kecelakaan di Indonesia, yang menurut Kepolisian RI mencapai 109.038?

Dikira voodoo, Superman Is Dead diuber polisi Amerika


Katakepo.blogspot.com - Band asal Bali, Superman Is Dead (SID) bercerita tentang pengalaman mereka saat menggelar 2 konser tur sekaligus di Amerika. SID Rock a Bali American Tour Gigs' dan Warped Tour 2009.
Jerinx memaparkan dalam gelaran itu lebih banyak diramaikan oleh band-band asal tuan rumah. Aura persaingan untuk menjaring penonton sebanyak-banyaknya begitu terasa di gelaran tersebut.
Dibanding band yang lain, diakui Jerinx, SID menjadi band yang paling tidak siap. Meski tanpa didampingi kru, band lain yang tampil di perhelatan akbar itu siap dengan berbagai atribut identitas mereka seperti banner dan konsep panggung yang diusung.
"Kita yang paling nggak siap. Kita cuma bawa kemben dan udeng khas Bali, cuma itu yang kita punya," urai Jerinx di acara konser dan talks show SID di Kawasan SCBD Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (24/10) malam.
Bahkan, dilanjutkan Eka Rock, mereka sampai dikejar-kejar polisi setempat lantaran dianggap voodoo dengan mengenakan busana khas Bali.
"Sampai-sampai kita dikejar polisi di situ, karena dikira voodoo," timpal Eka yang disambut derai tawa Outsiders dan Lady Rose (fans SID).