Katakepo.blogspot.com - DENNIS Gong, pemandu kami, menjanjikan tiga hal tentang
Pulau Jeju. Kata dia, pulau di selatan Semenanjung Korea yang pernah
dijuluki ”Pulau Kriminal” ini dilimpahi tiga hal, yakni angin, bebatuan,
dan wanita. ”Warga menyebutnya samda-do, silakan buktikan sendiri,”
ujarnya.
Benar saja. Begitu kaki menginjak Bandara Internasional
Jeju, Korea Selatan, Kamis (21/11/2013) siang, angin dingin langsung
menampar muka. Pengukur suhu menunjuk angka 9 derajat celsius, tetapi
udara di luar ruangan terasa lebih dingin dan menusuk tulang. Janji
Dennis segera terbukti.
Dalam perjalanan menuju hotel, Dennis
meminta kami melempar pandangan keluar jendela bus, ”Setiap jengkal
lahan di Jeju kaya akan batu.” Pagar rumah, batas petak lahan, dan
bukit-bukit kecil di antara permukiman tersusun atas bebatuan. Termasuk
batu kepala naga
(dragon head rock), obyek wisata yang menjadi salah satu penanda Pulau Jeju, beberapa menit perjalanan dari bandara dengan bus.
Batu
terbentuk akibat pertemuan lava panas dengan air laut. Bentuknya
menyerupai kepala naga. Namun, ada legenda yang menyebut batu ini adalah
kepala seekor naga yang dipanah penjaga Gunung Halla karena kedapatan
mencuri cairan kehidupan.
Gunung Halla adalah pusat Pulau Jeju.
Gunung setinggi 1.950 meter di atas permukaan laut ini berada di
tengah-tengah Pulau Jeju, pulau vulkanik berluas 1.849 kilometer persegi
(sekitar tiga kali luas DKI Jakarta), dengan jarak 73 kilometer dari
ujung barat ke timur dan 31 kilometer dari ujung selatan ke utara serta
dikelilingi jalan lingkar luar sepanjang 181 kilometer.
Pemandu
lokal yang menemani Dennis, Ko Young Wan, mengajak kami, rombongan
undangan Garuda Indonesia dan Organisasi Turisme Korea (Korea Tourism
Organization/KTO), ke Dokebi Road atau Mysterious Road untuk melihat
keunikan lain alam Pulau Jeju. Obyek ini mengundang penasaran dan
karenanya sering dikunjungi turis mancanegara.
”Coba perhatikan
struktur jalan di depan, menanjak bukan? Pak Sopir, tolong matikan
mesin. Kita akan melaju dengan kondisi mesin bus mati,” kata Young. Bus
pun melaju pelan, tetapi kemudian bertambah kencang. Penumpang menengok
ke sisi kanan dan kiri bus, tak percaya apa yang terjadi.
”Misterius
bukan?” tanya Young. Menurut dia, Dokebi Road sebenarnya adalah jalan
yang menurun, tetapi pepohonan di kedua sisi dan jalan di depan membuat
ilusi penglihatan seolah jalan menanjak. Oleh karena itu, bus meluncur
semakin kencang.
KeajaibanTahun 2011,
Pulau Jeju ditetapkan sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia, termasuk
Pulau Komodo di Indonesia. Sebelumnya, Organisasi Pendidikan, Ilmu
Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan Pulau Jeju sebagai
Taman Bumi (Geopark) tahun 2010, Warisan Alam Dunia tahun 2007, dan
Cagar Biosfer tahun 2002.
Selain Gunung Halla dengan kawah seluas
1,6 hektar di puncaknya, Jeju juga dikelilingi 368 puncak kecil yang
tersebar di seluruh wilayah. Pulau ini juga memiliki lebih dari 120
terowongan, satu yang terkenal adalah Geomun Oreum Yongamdonggulgye.
Kami berkesempatan melihat lebih dekat Goa Manjang, salah satu goa lava,
yang dijadikan obyek wisata alam di pulau berpenduduk sekitar 600.000
jiwa ini.
Matahari Jumat (22/11/2013) sebenarnya segera berakhir.
Waktu sudah mendekati pukul 16.00. Namun, pemandu mengiming-imingi
salah satu lokasi dengan pemandangan spektakuler di Pulau Jeju, yakni
Seongsan Ilchulbong atau Puncak Matahari Terbit. Ini semacam kerucut
raksasa dengan kawah di bagian tengah yang terbentuk oleh aktivitas
vulkanik ribuan tahun lalu.
Ada ratusan anak tangga dan jalan
menanjak untuk mencapai bibir tertinggi Seongsan Ilchulbong. Waktu
tinggal 40 menit menjelang gelap. Sebagian anggota rombongan memilih
belanja di sekitar gerbang, tetapi kami tak ingin melewatkan kesempatan
itu. Langkah terburu-buru meniti tangga, jantung berdegup lebih kencang
diimpit suhu yang semakin dingin, dan angin yang berkali-kali menampar
ke arah tebing.
Di puncak, suhu sekitar 3 derajat celsius, angin
terasa lebih kencang. Keringat mengucur deras. Namun, pemandangan senja
di Puncak Matahari Terbit segera menghapus lelah. Langit memerah di
cakrawala, deretan gunung menghadirkan siluet, sementara lampu kota
kerlap-kerlip di kejauhan.
Sampai titik ini, dua janji Dennis
akan Pulau Jeju sudah terbukti, yakni angin dan bebatuan. Lantas di mana
wanita Jeju? Selama berabad-abad, penduduk Jeju dikenal sebagai pekerja
keras. Alam yang keras membentuk daya juang warganya untuk bertahan
hidup. Nah, salah satu yang khas dan terkenal dari Jeju adalah haenyeo,
wanita penyelam yang biasanya pencari abalone (salah satu jenis kerang).
Mereka menyelam di laut dengan peralatan sederhana di air yang kadang
sangat dingin hingga kedalaman 20 meter.
Sayang kami tak
menjumpai mereka dalam dua hari perjalanan di Pulau Jeju. ”Jumlah
haenyeo terus berkurang karena generasi muda tak lagi menyelam untuk
mencari abalone. Kini tinggal sedikit haenyeo yang bertahan dan umumnya
berumur 60-70 tahun. Mereka bermukim di dekat pantai,” kata Dennis.
Pulau wisataSelain
samda-do, Pulau Jeju juga dikenal dengan sammo-do, pulau dengan tiga
kekurangan. Apa itu? Tiga hal yang dianggap jarang sekali atau tidak ada
di pulau ini adalah pencuri, pengemis, dan pagar utama.
Menurut
Young, Jeju pernah disebut sebagai Pulau Kriminal karena dijadikan
sebagai tempat pembuangan narapidana pada masa Dinasti Joseon (tahun
1392-1910). Penguasa ketika itu menganggap Jeju sebagai tempat terpencil
yang cocok dijadikan tempat pengasingan.
Kebijakan itu bertahan
hingga abad ke-19. Jeju perlahan tumbuh sebagai pulau wisata. Faktor
alam mendukungnya. Pulau Jeju terdekat dengan khatulistiwa dibandingkan
dengan wilayah lain di Korea Selatan. Suhu udaranya terbilang hangat dan
jarang sekali menyentuh 0 derajat celsius. ”Banyak warga Korea ke Jeju
untuk bulan madu,” kata Young.
Jinki Hwang dari Organisasi
Turisme Jeju menyebutkan, tahun 2012 Jeju dikunjungi 9,6 juta pelancong,
1,68 juta di antaranya turis mancanegara. Tahun ini, turis ditargetkan
meningkat menjadi 10,5 juta orang.
Turis asal Indonesia yang
datang ke Pulau Jeju terbilang tinggi, yakni 23.858 orang dari total
149.247 orang yang berkunjung ke Korea Selatan tahun 2012. Selain
promosi gencar, kebijakan bebas visa bagi 187 negara, dan bertambahnya
rute penerbangan, Pulau Jeju dinilai juga mendorong laju turisme.
Sebagai
pulau wisata, Jeju memiliki infrastruktur yang lengkap. Bahkan, KTO
kini gencar mempromosikan wisata halal ke negara berpenduduk Muslim di
Asia Tenggara dan Timur Tengah. Bukan hanya sarana ibadah, mereka
berjanji juga menyediakan makanan yang halal.
(Mukhamad Kurniawan)
Sumber :
KOMPAS CETAK