Katakepo.blogspot.com - Keluarga besar Ratu Atut hampir semuanya menjadi pejabat teras di Banten. Tak heran, banyak yang menyebut kekuasaan Atut di Banten bak dinasti.
Namun kini Dinasti yang telah lama dibangun mulai diterpa prahara. Ratu Atut dicegah keluar negeri oleh Kemenkum HAM atas permintaan KPK. Sebelumnya KPK juga menangkap adik Atut , Tubagus Chaeri Dharmawan alias Wawan karena diduga menyuap Ketua Mahkamah Konstitusi non aktif, Akil Mochtar .
Meski Atut sudah dicegah, terlalu dini untuk menyebut Dinasti Atut bakal tumbang. "Saya pikir terlalu dini, karena Dinasti Atut
punya unsur politik yang mengakar kuat di Banten," ujar pengamat
politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang,
Banten, Gandung Ismanto.
Atut diyakini memiliki lima 'senjata ampuh' yang masih tertancap kuat di Banten. Selama senjata itu masih dipegang keluarga Atut , dinasti nya masih akan bercokol di Banten.
Berikut lima senjata ampuh Ratu Atut untuk mempertahankan kekuasaannya di Banten.
1. Dekati ulama dengan haji dan umroh gratis
Ratu Atut dan keluarganya sadar betul bahwa salah patronase di Banten
adalah kaum ulama. Para alim ulama pun didekati untuk mendukung Atut.Menurut
pengamat politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta)
Serang, Banten, Gandung Ismanto., ulama dan kaum menengah di Banten yang
kritis dibungkam secara halus. Setumpuk fasilitas diberikan kepada
mereka."Kelas menengah disuguhi fasilitas, ulama diberi umroh
gratis, haji gratis dan itu sampai ke ulama-ulama di kampung-kampung,
akademisi juga diberi fasilitas dan faktanya itu berhasil," terangnya.
2. Tundukkan jawara jadikan centeng
Patronase kedua yang dipandang warga Banten adalah jawara. Hal ini tidak
bisa dipungkiri karena Banten selama ini identik dengan para jawara.
Para
dedengkot jawara Banten pun didekati oleh Atut. Kini para jawara Banten
duduk sebagai anggota Kadin Banten. Mereka pun kecipratan proyek di
Banten.
"Kadin Banten ini kan yang menggarap semua proyek yang
ada di Banten. Semua proyek di Banten ya dipegang oleh Kadin Banten,"
terang Gandung.
3. Media lokal ditekan
Dalam memimpin Provinsi Banten, Ratu Atut sangat hegemoni dan anti
kritik. Bahkan media lokal di Banten pun ditekan dan dibungkam oleh
Atut.
"Suara masyarakat ditekan dan dibungkam, ini untuk mencegah
idealis di tingkat lokal. Pers lokal juga tidak berfungsi sebagai
mestinya, tidak kritis terhadap penguasa, semua ditekan," ujar Gandung.
Tidak
hanya pers, masyarakat menengah yang lebih melek pendidikan juga
ditekan. Namun mereka ditekan dengan cara-cara yang lebih halus.
4. Kekerasan pun dipakai
Selain memainkan peran ulama dan jawara, Dinasti Atut juga sering menggunakan cara kasar. Intimidasi pun bukan hal baru.
Menurut
Gandung, pendekatan secara fisik ini sudah dilakukan sejak zaman Tb
Chasan Chosib yang tak lain adalah ayah dari Ratu Atut.
"Ayah
gubernur Atut itu jawara yang sesungguhnya, Yang kuat jaringan di
Banten, yang menggunakan kekuatan fisik di masyarakat, menekan
masyarakat dan termasuk digunakan untuk bisnisnya," ujar Gandung.
5. Uang yang tidak terbatas
Dinasti Atut tidak akan berjalan tanpa sokongan dana yang besar. Meski
sudah mendapat dukungan dari ulama dan jawara, faktor uang juga dinilai
besar pengaruhnya.
Dalam beberapa pilkada di Banten, money politik kerap dilaporkan lawan politik dinasti Atut. Namun hal itu sia-sia saja.
"Ada
fakta, di Pilkada Tangsel di ulang, Pandeglang diulang dan meskipun
kecurangan bisa dibuktikan, tetapi mereka tetap menang. Ini karena
secara ekonomi mereka masih kuat," imbuh Gandung.

No comments:
Post a Comment