Katakepo.blogspot.com - Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah pembunuh
nomor satu di berbagai belahan dunia. Faktor risiko utamanya ialah
tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol tinggi, kegemukan,
diabetes, kebiasaan merokok, serta riwayat keluarga.
Sejatinya, penyakit ini semakin mengkhawatirkan karena dapat muncul
tanpa gejala! Dan sekali kena, artinya telah terjadi kerusakan, bahkan
kematian sel-sel jantung yang bersifat permanen. Dalam hitungan tahun,
fungsi jantung akan semakin menurun hingga terjadi gagal jantung.
Apabila
penyakit jantung memang sangat berbahaya, apakah yang dapat kita
lakukan? Mungkin Anda sudah sering mendengar tips-tips diet dan olahraga
agar jantung tetap sehat. Namun, pola hidup sehat saja tidak cukup.
Kita semua perlu screening atau check-up kesehatan.
Istilah screening
kesehatan berarti melakukan pemeriksaan sewaktu (merasa) sehat guna
mendeteksi penyakit yang tidak bergejala (asimptomatik). Dengan adanya
skrining ini, dokter dapat mengupayakan pengobatan dini atau pencegahan
bagi yang berisiko. Sebagai contoh, kita perlu rutin memeriksa tensi
karena hipertensi pada dasarnya tidak bergejala. Jika menunggu sampai
gejala muncul, bisa jadi hipertensi tersebut telah merusak berbagai
organ tubuh. Demikian halnya dengan kadar kolesterol. Tanpa pemeriksaan
laboratorium, apakah Anda yakin memiliki kadar kolesterol normal?
Menimbang
bahwa faktor risiko penyakit jantung bersifat akumulatif dan progresif,
skrining idealnya dilakukan sedini mungkin. Dalam konsensus American
Heart Association (AHA), seseorang dianjurkan untuk memeriksa tekanan
darah dan kadar kolesterol sejak usia 20 tahun.
Periksa tensi minimal setahun sekali apabila normal
Tingginya
tekanan darah telah terbukti jelas sebagai faktor risiko penyakit
jantung. Risiko tersebut kian meningkat bila tensi terus-menerus di atas
140/90 mmHg. Oleh sebab itu, idealnya seseorang rutin memeriksa tekanan
darah minimal sekali setahun apabila normal. Pemeriksaan ini cukup
praktis dan mudah dilakukan.
Bagi mereka yang berusia muda,
diagnosis hipertensi tidak dapat dengan sekali pengukuran. Tensi adalah
parameter tubuh yang bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh faktor
eksternal, seperti kelelahan atau emosi. Bahkan, pengukuran tensi di
rumah (secara mandiri) dan klinik (oleh petugas kesehatan) bisa saja
hasilnya berbeda. Hal tersebut dinamakan white-coat hypertension.
Butuh beberapa kali pemeriksaan agar dokter yakin menegakkan diagnosis
hipertensi. Oleh sebab itu, pastikan Anda dalam kondisi rileks, tenang,
tidak kelelahan, serta cukup tidur dan makan sebelum menjalani
pemeriksaan.
Beberapa orang mungkin dapat mengalami hipertensi
sejak usia muda. Perlu diingat, hipertensi tidak semata-mata terjadi
karena faktor gaya hidup dan pola makan. Ada segelintir penyebab
hipertensi, termasuk penyakit langka yang dapat muncul pada anak-anak.
Dan untuk Kini pertanyaannya, sudahkah Anda memeriksakan diri?
Cek profil kolesterol
Demikian
halnya dengan kadar kolesterol. Sebaiknya Anda pernah memeriksa kadar
kolesterol lengkap. Konsensus AHA juga merekomendasikan skrining
kolesterol sejak usia 20 tahun. Namun, tak perlu khawatir, jika hasilnya
normal, pemeriksaan boleh diulang setiap 5 tahun sekali. Check-up
ini diperlukan lebih sering bagi Anda yang berusia di atas 45 tahun
(untuk laki-laki) atau 50 tahun (untuk perempuan), atau apabila hasil
pemeriksaan menunjukkan nilai di atas batas rujukan, atau apabila
memiliki faktor risiko penyakit jantung lainnya.
Penumpukan
kolesterol beserta zat-zat radikal bebas di pembuluh darah sebenarnya
telah berlangsung sejak usia dini, bahkan dimulai sejak umur 10 tahun.
Akumulasi material tersebut akan membentuk suatu plak yang disebut
aterom, suatu cikal-bakal penyebab serangan jantung koroner. Oleh
karenanya, skrining kadar kolesterol sejak muda menjadi sangat penting.
Utamanya yang harus diperiksa ialah kadar kolesterol total, high-density lipoprotein (HDL atau "kolesterol baik"), low-density lipoprotein
(LDL atau "kolesterol jahat"), serta trigliserida. Masing-masing
parameter tersebut memiliki makna tersendiri dalam manajemen pengobatan
nantinya.
Screening risiko jantung lainnya
Program
skrining, atau dapat disebut sebagai upaya peduli terhadap kesehatan,
seyogianya juga mencakup berat badan dan lingkar perut. Menurut
rekomendasi AHA, sejak usia 20 tahun Anda sudah perlu memikirkan indeks
massa tubuh (IMT) dan ukuran lingkar perut apabila berlebih. Keduanya
memiliki korelasi dengan kejadian penyakit jantung di kemudian hari.
Khusus
untuk lingkar perut, jumlah lemak pada bagian perut merupakan risiko
penyakit jantung ketimbang lemak pada daerah tubuh lain. Untuk orang
Asia, lingkar perut idealnya kurang dari 90 cm (untuk laki-laki) atau 80
cm (untuk perempuan). Pengukuran diambil tepat di bawah pusar,
dilakukan sembari duduk dan sambil buang napas (ekspirasi) maksimal.
Faktor
risiko lain, seperti kadar gula darah, perlu diperiksa rutin setelah
usia menginjak 45 tahun. Idealnya dicek setiap 3 tahun apabila hasilnya
normal. Upaya lain, yang juga jarang tersentuh, ialah konsultasi untuk
berhenti merokok dengan dokter.
Apabila Anda masih menganggap 20
tahun adalah "usia sehat", tidak demikian untuk penyakit jantung dan
pembuluh darah. Justru, tren saat ini memperlihatkan banyaknya penderita
jantung yang berusia muda.
Sudah saatnya beranjak dari mental cuek dan menganggap diri "sehat" tanpa pernah check-up. Tidak ada salahnya bila meluangkan sedikit waktu serta gocek untuk sekadar check-up ke dokter. Kapan lagi kita peduli terhadap kesehatan, kalau bukan sejak usia muda?
Salam sehat untuk kita semua!

No comments:
Post a Comment