Saturday, December 28, 2013

Sepotong Kisah dari Papua

Katakepo.blogspot.com - TANAH Papua, wilayah paling luas di negeri ini, memiliki banyak kisah tentang makanan, alam, dan manusianya. Tak ada kisah yang akan utuh menuturkan tradisi bersantap Papua. Ini cerita tentang makin pudarnya penghormatan terhadap keberagaman pangan di Nusantara dan kisah tentang surutnya kemandirian pangan masyarakat Papua.

Tak ada api yang tersisa, tak ada semerbak aroma rempah yang menggantung di udara. Yang ada hanya asap tipis mengepul dari tumpukan batu di samping hunila atau honai panjang dapur keluarga Iriana Wetipo. Ketika memasak belum lagi dimulai, kayu yang membakar tumpukan batu itu tinggal menyisakan abu. Hangat menyelusup di antara dinginnya angin sore Lembah Baliem di Kampung Hepuba, Distrik Asolokobal, Kabupaten Jayawijaya, Minggu (8/12/2013).

Maria Lokobal, mertua Iriana, mengambil sebuah tongkat yang ujungnya terbelah untuk menjepit dan memindahkan batu-batu panas ke dalam sebuah liang bulat. Ia menyusun batu-batu panas itu melapisi dinding liang sedalam 70-an sentimeter. ”Inilah bakar batu, memasak dengan batu yang dibakar sampai panas,” tutur Maria.

Magda Lokobal, adik Maria, mengambil peran lain. Ia menaruh sepelukan daun lokop, sisika, jeleka, dan daun dari tanaman serua pohon kapas untuk melapisi batu-batu panas. Maria dan Iriani menyusul Magda dengan memasukkan aneka jenis ubi. Orang Hepuba menyebutnya hupuru, orang Wamena menamainya hipere. Di daerah barat Papua, barang yang sama disebut erom atau mbik.

Setelah hupuru, giliran berbonggol-bonggol jagung dibenamkan di sela-sela ubi. Magda kembali menimbun liang itu dengan sepelukan lain daun lokop. Timbunan itu dilapisi lagi daun pisang dan setumpuk daun lokop. Maria menambahkan garam dan menuangkan minyak goreng nabati hingga tumpukan itu nyaris kuyup.

Tidak berhenti di situ, Magda dan Iriana kembali melapisi tumpukan itu dengan daun pisang lebar dan daun lainnya. Agar tak ada uap panas yang keluar dari liang, mereka melapisi lagi timbunan itu dengan plastik bening dan kain-kain usang. Begitulah, ada berlapis-lapis bahan yang dimasukkan untuk mengunci suhu panas batu tetap berada di dalam liang. ”Kita tinggal menunggu, satu jam saja hupuru akan matang sempurna. Daun-daun itu tidak sekadar melapisi batu agar ubi jalar tidak gosong, tetapi juga memberi rasa,” kata Maria tersenyum.

Ketiga ”koki” bakar batu itu segera menghilang ke dalam hunila Iriana, meninggalkan lubang bakar batunya yang kini menjadi gundukan kecil dengan asap tipis mengudara. Suami Maria, Ferry Asso, tertawa melihat wajah tetamunya digantungi aneka pertanyaan. ”Kita akan menyantap hupuru yang lezat. Bakar batu selalu menawarkan sajian yang lebih lezat dari sepiring nasi,” katanya.

Asso menunjuk ke pagar panjang mendaki bukit yang memagari tiga hunila dan sebuah honai (rumah tradisional berbentuk bulat) di kaki bukit di Hepuba itu. ”Seluruh kompleks rumah-rumah ini kami sebut silimo. Hunila yang paling atas ini menjadi dapur menantu saya, Iriana. Bakar batu di samping hunila dimasak untuk santapan keluarga hunila-nya. Hunila Maria ada di bawah, dan lain hari Maria membuat bakar batu di sana untuk santapan kami.”

Pelan tetapi pasti, aroma yang memompa selera kian tercium dari gundukan itu. Setelah satu jam berlalu, Iriana, Maria, dan Magda membongkar kembali liang bakar batunya, membebaskan panas yang terperangkap timbunan dedaunan, kain tua, dan plastik. Segenap orang di silimo beranjak mendaki tanjakan kecil menuju hunila Iriana, merubung Maria yang menggali puluhan ubi jalar bakar. ”Ini yang paling enak,” ujar Asso mengambil sebuah ubi jalar berkulit ungu yang tampak kering, nyaris serupa ubi jalar mentah.

Begitu ubi di genggaman merekah, uap yang lebih pekat segera menebar harum. Pada gigitan pertama, sensasi rasanya begitu berbeda. Ubi itu begitu bersih, polos, namun sungguh pulen dan lembut hingga nyaris melumer di lidah. Rasanya manis seperti madu dengan jejak asap yang menyusup hingga ke pori-pori daging ubi.

Maria menyodorkan sebonggol jagung. Begitu pelepahnya terkelupas, biji jagung yang kering langsung menebar rasa manis. ”Rasa manisnya jauh berbeda jika jagung itu kami rebus atau kami kukus,” tutur Maria, terbahak.

Asso puas dengan bakar batu Minggu sore itu. ”Ini bakar batu yang baik, semua sajiannya matang sempurna,” tuturnya.

Dia menjelaskan, bakar batu untuk santapan harian dengan bakar batu untuk ritual sangat berbeda. Untuk keperluan ritual, bakar batu harus digelar di halaman silimo Otilu. Ia menunjuk sebuah halaman yang diapit dua hunila dan sebuah honai perang di tengahnya. Aturan bakar batunya pun lebih ketat. Liang bakar batu biasanya bergaris tengah dua meteran yang cukup untuk menampung setumpuk ubi dan dua ekor babi. ”Hanya daun lokop dan lukata yang boleh dipakai untuk melapisi batu panasnya. Selain itu, hasilnya harus dinikmati segenap keluarga yang tinggal di silimo,” tutur Asso.

Begitulah, bakar batu di halaman silimo bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan bagian dari ritus. Apa yang keluar dari liang batu bakar adalah isyarat atas doa dan harapan yang mengiringi upacara adat. Jika semua bahan termasak sempurna, itu pertanda baik. Jika ada bagian yang mentah, itu berarti ada sesuatu yang salah. ”Kita harus mencari tahu. Pasti ada saja sesuatu yang salah,” kata Asso.

Sebagai medium berkomunikasi dengan roh leluhur, ritus bakar batu diyakini harus selalu ada dalam beragam upacara menyangkut laku hidup manusia suku Hubula di Lembah Baliem. Bakar batu juga menjadi tradisi pokok beratus ribu anak adat dari suku-suku lain di kawasan pegunungan tengah Papua yang membentang mulai Kabupaten Paniai di barat hingga Kabupaten Pegunungan Bintang di ujung timur di perbatasan Indonesia-Papua Niugini.

”Tak ada bakar batu tanpa hupuru dan babi. Tanpa keduanya, kami tak bisa menjalani ritus menjadi manusia dewasa, menikah, ataupun membuka kebun yang subur. Jika seperti itu, kami bukan lagi anak adat Hubula,” tegas Asso.

0 comments:

Post a Comment