Friday, September 6, 2013

Mantan Tunangan Zaskia 'Gotik' Ditangkap

Katakepo.blogspot.com - Vicky Prasetyo, mantan tunangan pedangdut Zaskia 'Gotik' ditangkap tim Kejaksaan Negeri Cikarang pada pukul 16.30 WIB di Hotel Santika, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Jumat (6/9).
"Iya betul 100 persen itu mantan tunangan Zaskia. Dia ditangkap sore tadi," kata Chandra, tim dari Kejaksaan Negeri Cikarang yang ikut menangkap Vicky, saat dihubungi C&R Digital, Jumat (6/9) petang.
Vicky yang memiliki nama asli Hendrianto bin Hermanto (29) ditangkap atas tuduhan pasal 263 tentang pemalsuan surat-surat tanah dan sejumlah dokumen lainnya yang merugikan ahli waris bernama Nyoih Binti Entong. Nilai kerugian dari Nyoih Binti Entong berkisar hingga 1 Miliar rupiah.
Saat ini, Vicky tengah menjalani pemeriksaan identitas di Kejaksaan Negeri Cikarang. Diakui Chandra, Vicky memiliki banyak nama samaran dan rajin memalsukan jati diri. "Prosesnya bisa lama karena dia ini banyak memiliki identitas," kata Chandra.

Goulash

Katakepo.blogspot.com - Bahan:
300 gr daging sapi, iris memanjang
100 gr jamur, belah empat
200 gr kentang, kupas dan potong
600 ml kaldu daging
300 gr saus tomat
1 batang seledri, potong kasar
100 gr wortel, potong dadu
2 sdt paprika bubuk
50 gr paprika, buang biji, potong dadu
1 sdm minyak sayur
Tepung terigu, secukupnya
Sour cream, secukupnya
Peterseli cincang untuk taburan

Cara membuat:
1. Taburi daging sapi dengan tepung terigu sampai rata. Panaskan wajan kemudian tumis daging selama dua menit. Angkat, sisihkan.
2. Campur kentang, wortel,paprika, jamur, saus tomat, kaldu,dan daging menjadi satu.
3. Masak semua campuran ini dalam panci presto sampai empuk.
4. Beri taburan daun peterseli dan sour cream di atasnya. Sajikan bersama nasi atau pasta.

Aset-aset Masa Lalu

Katakepo.blogspot.com - JIKA berbicara tentang aset-aset PT Kereta Api Indonesia yang tersebar dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, mulai dari lahan hingga gedung-gedung dan peralatan lain, tentu kita bisa berdecak kagum. Apalagi, jika menghitung nilai-nilai dari aset-aset tersebut, tidak hanya dalam angka-angka rupiah, tetapi juga nilai sejarah yang dikandungnya.

Belum lagi jika dihitung penghasilan dari usaha PT KAI memonopoli jasa angkutan penumpang kereta api (KA) di Indonesia jika pengelolaannya sungguh-sungguh dilakukan secara profesional dan berorientasi meraup keuntungan semata. Sungguh, betapa kaya rayanya badan usaha milik negara kita ini.

Dengan aset yang luar biasa ini, wajar jika manajemen PT KAI memiliki cita-cita menghidupkan kembali aset-aset yang selama ini mati untuk dijadikan museum KA terbesar se-Asia. Selain melestarikan warisan dan sejarah KA, tentu juga untuk menambah pendapatan keuangan bagi kemajuan PT KAI. Museum KA itu akan mengintegrasikan aset-aset PT KAI yang tersebar dan tak dimanfaatkan selama ini.

Menurut pejabat Unit Konservasi Warisan dan Desain Arsitektur PT KAI Tranggono Adi, baru-baru ini, aset-aset yang dimiliki PT KAI cukup besar dan tersebar di mana-mana sehingga perusahaannya diharapkan mampu membangun museum KA kelas dunia yang setara dengan museum di negara lain.

”Di Jepang juga ada museum, tetapi banyak menyimpan teknologi KA yang sudah baru, yakni kereta diesel. Mereka tak punya lokomotif KA uap seperti Indonesia. Lokomotif di Indonesia itu masih tersebar dan masih harus dikumpulkan lagi. Dari sejumlah lokasi, baru satu lokasi yang dikelola, yaitu Stasiun Ambarawa, Jawa Tengah,” katanya.

Untuk mewujudkan hal itu, PT KAI sudah membuka program perekrutan untuk mencari sarjana museologi atau studi tentang kemuseuman. Sejauh ini, PT KAI baru punya sarjana museum yang baru menguasai tata letak. PT KAI masih memerlukan sarjana yang menguasai manajemen untuk membuat strategi dan menjual kekayaan warisan KA sebagai obyek wisata.

Salah satu kekayaan yang dibanggakan adalah aset PT KAI di Semarang. Sebab, dalam sejarahnya untuk pertama kali KA justru diluncurkan dari Semarang. Waktu itu, jurusannya Semarang-Tanggung. Jalur itu dihidupkan tiga tahun setelah Gubernur Jenderal Hindia Belanda LAJW Baron Sloet memulai pembuatan jalan KA. Jurusan ini berkembang menjadi jurusan Semarang-Kedungjati-Ambarawa.
Dari sejarah perusahaan KA Kerajaan Belanda, yang waktu itu disebut Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), peran Stasiun KA Ambarawa sangat penting. Oleh sebab itu, stasiun tersebut pernah diberi nama Stasiun Willem I, yaitu nama Raja Belanda.

Namun, setelah 114 tahun, Stasiun Ambarawa ditetapkan menjadi Museum KA oleh Menteri Perhubungan Roesmin Noerjadin. Di museum ini tersimpan sejumlah artefak sejarah KA masa kolonial, seperti lokomotif uap tua, kereta kayu, mesin hitung, mesin ketik, dan pesawat telepon.

Aset PT KAI lain yang kini menjadi sumber pendapatan adalah gedung Lawang Sewu di pusat Kota Semarang. Gedung kosong tersebut kini banyak dimanfaatkan swasta untuk acara pernikahan, seminar, dan pameran.

Sebelumnya, gedung Lawang Sewu digunakan oleh Kerajaan Belanda sebagai kantor pusat NIS untuk operasionalisasi KA di Pulau Jawa. Namun, setelah Jepang masuk ke Indonesia, Belanda meninggalkan gedung tersebut. Akibatnya, gedung tersebut telantar dalam beberapa waktu.

Pangandaran

Di antara sejumlah aset PT KAI memang baru dua, yaitu Stasiun Ambarawa dan Lawang Sewu, yang dikelola. Lalu, bagaimana dengan aset-aset PT KAI lainnya? Kepala Humas Daerah Operasi (Daop) II Bandung Bambang Prayitno menjelaskan, masih banyak yang harus dilakukan untuk menghidupkan kembali aset PT KAI yang mati. Misalnya, revitalisasi Stasiun Pangandaran di Jawa Barat. Dengan menghidupkan kembali Stasiun Pangandaran, berarti menghidupkan jalur KA dari dan ke stasiun tersebut.

Hasrat revitalisasi semula disampaikan oleh pejabat sementara Bupati Pangandaran Endjang Naffandi. Stasiun Pangandaran berada di ibu kota kabupaten hasil pemekaran, yakni Pangandaran. Namun, jika harus direvitalisasi akan memerlukan dana yang tak sedikit. Stasiun Pangandaran berhenti beroperasi sejak 1983. Akibatnya, rel di jalur Pangandaran-Bandung yang melewati tiga terowongan sudah dihapus. Kini, jalur tersebut jadi lintasan kendaraan bermotor.
Jalur KA ini selesai dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1921. ”Ini jalur yang bersejarah karena pada masa itu KA merupakan satu-satunya moda transportasi yang penting secara politik dan ekonomi,” kata Bambang.

Jalur Pangandaran-Bandung juga memisahkan jalur utama Bandung-Yogyakarta. Ada kesengajaan pemerintah Belanda saat membangun jalur KA yang ujungnya hanya di Pantai Pangandaran. Alasannya, tentu untuk mencegah gerakan kaum pejuang untuk masuk ke Yogyakarta, selain juga kepentingan pariwisata para pejabat pemerintah Belanda. Meskipun untuk mengalihkan gerakan para pejuang, Belanda berani membangun jembatan besi yang nilainya cukup tinggi pada waktu itu.

Jembatan besi tersebut hingga kini masih berdiri meskipun sudah sangat berkarat. Bahkan, perusahaan KA Belanda juga membuat tiga terowongan KA yang menembus perbukitan. Jalur ini jelas menjadi potensi pariwisata bagi penumpang KA.

Memang sempat muncul pertanyaan: benarkah jalur KA ini dibangun sekadar untuk kepentingan para pejabat pemerintah Belanda bersantai-santai di Pantai Pangandaran? "Belum diketahui apakah ruas ini berhubungan dengan kepentingan ekonomi yang lebih strategis, seperti jalur pengangkutan hasil panen yang tentunya lebih bernilai ekonomi dibandingkan dengan wisata di masa itu," kata Bambang.

Berdasarkan catatan PT KAI, tiga terowongan yang dibangun perusahaan itu diberi nama-nama para pejabat Belanda, yaitu terowongan Hendrik sepanjang 100 meter, terowongan Juliana sepanjang 250 meter, dan terowongan Wilhelmina sepanjang 1.200 meter. Nama-nama itu diambil dari nama petinggi Kerajaan Belanda, seperti Ratu dan Raja Belanda.

Masih diinventarisasi

Hingga kini, untuk mewujudkan museum KA PT KAI terus melakukan pengumpulan dan pengolahan data dan informasi mengenai aset-aset KA yang bernilai sejarah ataupun komersial.

Tranggono juga mengakui, selain aset-aset lahan dan gedung, PT KAI juga memiliki ratusan benda sejarah yang terkait dengan peristiwa-peristiwa sejarah. Saat ini, PT KAI tengah menyusun pekerjaan besar untuk menginventarisasi dan mencatat sumber-sumber sejarah yang kemudian dijadikan sumber daya tarik wisata untuk menambah pendapatan PT KAI.

”Aset yang kami kelola memang baru dua, yaitu museum KA lokomotif uap di Ambarawa, dan gedung Lawang Sewu, di Semarang, Jateng. Namun, dari persewaan gedung Lawang Sewu saja, PT KAI sudah mendapat pemasukan Rp 1 miliar pada tahun lalu,” ujarnya.
Menurut Tranggono, jika dari satu gedung saja PT KAI sudah mendapat penghasilan tambahan Rp 1 miliar, tentu berapa besar penghasilan lain yang bisa diterima dari sejumlah aset PT KAI yang hingga kini masih tersebar dan belum dihidupkan lagi.

Tentu, wacana membangun museum KA kelas dunia yang terintegrasi dari sekian banyak aset PT KAI yang masih tersebar harus segera diwujudkan bagi kemajuan PT KAI sendiri.

Babae

Katakepo.blogspot.com - Indonesia memiliki beragam tempat-tempat kuliner, wisata, seni dan budaya serta ribuan tradisi yang perlu untuk dijaga dan dilestarikan.

Bali, Mataram, Minahasa, Batak, Papua, Ambon, Betawi, Sunda, Padang, Karo, Lombok, Aceh, dan begitu juga Nias Selatan yang memiliki banyak ragam tradisi.

Dari setiap daerah yang memiliki kuliner masing-masing, terlebih kuliner yang sudah lama dan sempat terlupakan, apalagi untuk generasi sekarang. Kini salah satu kuliner yang mulai langka itu kembali dihadirkan di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.
Adalah masyarakat di Desa Hilisataro, Kecamatan Toma, Kabupaten Nias Selatan, yang kembali memunculkan makanan tradisional di mana dahulu digunakan untuk pesta-pesta adat maupun untuk pertunangan bagi yang akan memasuki jenjang pernikahan.

Kuliner tradisional tersebut dinamai "babae". Nama babae mungkin terasa asing di telinga kita, namun tidak bagi masyarakat Kabupaten Nias Selatan. Bahannya terdiri dari sejenis kacang-kacangan atau masyarakat setempat menyebutnya fakhe niha.

Menurut Sidi Adil Harita, S.Sos kepada Kompas.com bahwa salah satu kuliner tradisional Nias Selatan ini, yaitu babae, dahulu hanya dapat disuguhkan pada acara adat tertentu atau seperti saat pemberian nama anak yang baru lahir maupun pada pesta perkawinan.
"Kebiasaan masyarakat membuat ini setelah panen sebagai tanda gembira dan suka cita bahwa panen sangat melimpah. Cara membuatnya, dahulu biji fakhe niha ini direndam selama satu malam agar kulit arinya dapat dengan mudah terkelupas. Kemudian isi dari kulit ari tersebut dijemur hingga kering dan disimpan dalam sebuah botol pada zaman dahulu. Konon jika fakhe niha ini telah kering benar dapat bertahan hingga dua puluh tahun," papar Sidi.

Cara menanaknya pun hampir sama dengan menanak nasi sebagaimana biasanya. Hanya saja babae ini ditanak dengan menggunakan gerabah yang berasal dari tanah liat. Namun alat ini pun sangat sulit ditemui saat ini, hanya beberapa saja yang masih menyimpannya.

Setelah fakhe niha ini dianggap sudah kering benar, fakhe niha direbus hingga lunak kemudian ditumbuk halus dengan menggunakan tempat menumbuk padi. Setelah masak dicampurkan santan kelapa selama 30 menit.
Selama proses menanak babae ini, kondisi api juga perlu diperhatikan karena nyala api harus stabil agar masakan tetap wangi juga dan tidak gosong. Konon jika cara menanaknya benar maka aromanya dapat tercium sejauh 300 meter.

Kini babae di Nias Selatan dihidangkan ketika meminang seseorang gadis. Jika babae dicicipi oleh yang dilamar menandakan bahwa lamaran diterima.

Perjalanan Mark ke Borneo dalam "Crazy Little Heaven"

Katakepo.blogspot.com - "Crazy Little Heaven" merupakan buku yang ditulis oleh seorang pria berkebangsaan Australia yang bernama Mark Heyward. Buku yang berkisah tentang perjalanan Mark selama 20 tahun di Indonesia ini diluncurkan Kamis (5/9/2013) di Periplus, Kemang, Jakarta Selatan.

Buku setebal 253 halaman dengan dominan sampul berwarna oranye ditulis dalam Bahasa Inggris. Crazy Little Heaven memiliki dominan latar cerita di Pulau Kalimantan atau Borneo.

“Ceritanya di sini tentang perjalanan kita mulai dari Samarinda sampai Pontianak. Itu cerita intinya untuk buku ini,” tutur Mark dalam bahasa Indonesia.

Selain menceritakan tentang perjalanan yang tak terlupakan, buku ini juga berkisah tentang perjalanan cinta Mark dan istrinya.

Mark Heyward, pergi ke Indonesia untuk mengajar di sekolah kecil di Kalimantan. Ia memberi judul buku Crazy Little Heaven karena saat ia berada di Indonesia ia merasakan sesuatu yang “gila” yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Crazy in a good way," tutur Mark.

Buku ini tidak hanya menceritakan sebuah perjalanan secara biasa, bahkan Mark mengungkapkan ia seperti bertemu dengan “surga dunia” ketika berada di Indonesia.

“Ini tentang real Indonesia. Bagaimana kehidupan dan keluarga, bagaimana jalan-jalan di hutan, bagaimana di kampung-kampung, di kota-kota juga. Banyak cerita tentang, What I call the real Indonesia,” tambah Mark.

“Ini memang bukunya ringan untuk baca-baca tentang pengalaman dan travel,” kata Mark.

Bagian buku yang paling menarik, menurut Mark, adalah ketika ia menceritakan tentang pengalaman mudik bersama istrinya. Di kampung istrinya di Yogyakarta, Mark mengaku mendapat banyak pelajaran tentang keluarga, dan terutama tentang agama.

Selain dipasarkan di Indonesia, buku ini juga akan dipasarkan di Australia dan New Zealand. Untuk peluncuran buku di Australia baru akan dilakukan pada 18 September 2013.

“Di Australia banyak kesalahpahaman tentang Indonesia. Ada sebagian yang tahu persis, tapi lebih umum banyak yang tidak tahu. Kita harap buku ini bisa memberikan pengalaman lebih mendalam tentang Indonesia,” harap Mark untuk kehadiran bukunya di Australia.