Wednesday, October 9, 2013

4 Penyebab Tompel siram air keras ke penumpang bus 213

Katakepo.blogspot.com - Ridwan Nur alias Tompel begitu berani menyiram air keras ke bus PPD 213 jurusan Kampung Melayu-Grogol, sehingga melukai 13 orang. Aksi nekat Tompel itu sebenarnya disebabkan oleh berbagai faktor.

Pelajar kelas XII SMK I DKI atau biasa dikenal STM Boedoet itu kerap kali terlibat tawuran dengan pelajar lain. Selain itu, Tompel juga punya pengalaman buruk disiram air keras oleh pelajar lain.

Kejadian itu rupanya membekas di hati Tompel. Bekas luka di kepala atau pitak membuatnya menyimpan dendam kesumat. Ditambah lagi minimnya pengawasan dari keluarga membuat Tompel semakin menjadi.

Berikut beberapa penyebab Tompel berbuat aksi nekat:

1. Punya pitak di kepala

Aksi nekat RN (18) alias Tompel menyiram air keras rupanya bukan tanpa sebab. Tompel pernah disiram air keras enam bulan lalu yang menyebabkan luka di kepala dan lehernya.

"Ini dendam lama yang pernah dialami Tompel," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, di kantornya, selasa (8/10).

Rikwanto menjelaskan, enam bulan lalu Tompel pernah disiram air keras yang menyebabkan luka di bagian kepala dan lehernya. "Dalam situasi tertentu pernah disiram air keras sehingga ada pitak di kepalanya dan luka di leher. Kondisi ini membuatnya ingin membalas aksi tersebut," terang Rikwanto.

Dalam melancarkan aksi balas dendamnya, tutur Rikwanto, Tompel tidak sendirian. "Pagi harinya sekitar jam 06.00 WIB lebih, rekan Tompel yang berperan sebagai survei di lapangan melakukan survei terlebih dahulu. Bus dengan jurusan tertentu lalu ditumpangi anak sekolah tertentu," terang Rikwanto.

2. Keluarga rapuh buat Tompel frustasi

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait berpendapat, perbuatan RN (18) alias Tompel harus dilihat secara komprehensif. Menurut dia, tindakan tersebut bisa dimungkinkan karena Tompel berangkat dari keluarga yang kurang harmonis.

"Harus lihat latar belakang anaknya, karena dari keluarga rapuh, mengimplementasikan frustrasi beratnya yang disalurkan dari perbuatan-perbuatan yang dengan mencari masukan-masukan dari kawannya. Tapi justru mengarahkan ke arah yang salah, ini bentuk frustasi dari lingkungan keluarga, sosial, berasal dari keluarga, terus sekolah," ujar Arist saat dihubungi, Jakarta, Selasa (8/10).

Arist menjelaskan, kenakalan remaja yang biasa dilakukan secara umum yaitu menggunakan senjata tajam, kayu atau batu-batuan. Karena terkait juga dengan pengawasan, kenakalan remaja merambah dan mengakali dengan barang lain seperti soda api atau air keras

"Jadi orangtua lingkungan sosial harus menjadi benteng. Tapi ini harus dimengerti dari energi remaja, maka perlu ada kegiatan ekstrakulikuler atau kegiatan yang menyalurkan energi anak-anak," tandasnya.

3. Tompel doyan tawuran

RN (18) alias Tompel, ternyata sudah dua kali berurusan dengan polisi. Siswa kelas XII SMK 1, Budi Utomo, Jakarta Pusat, bahkan pernah mendekam di sel Polsek Matraman dan Polsek Taman Sari karena terlibat tawuran antarpelajar.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Metro Jakarta Timur, AKBP M Shaleh mengatakan, berdasarkan catatan kriminal yang dimiliki kepolisian, penahanan Tompel kala itu hanya beberapa hari dan kemudian dibebaskan karena statusnya masih di bawah umur.

"Kasus pertama tawuran ditahan di Mapolsek Matraman, yang kedua di Mapolsek Taman Sari karena membajak bus. Tidak sampai diproses lebih lanjut, tapi sempat menginap (ditahan)" kata Shaleh, saat dihubungi merdeka.com, Senin (7/10).

4. Didikan sesat senior

Tompel berani tawuran dan membajak bus karena diperintah oleh kakak kelasnya (senior). Nyali Tompel semakin menjadi ketika menjadi korban penyiram air keras. Sejak itu itu menyimpan dendam.

"Yang pertama kali tawuran di Matraman. Jadi ceritanya waktu itu disuruh sama senior untuk ikut tawuran karena saya masih kelas 1 waktu itu sama anak-anak semua di dalam bus. Belum sempat ngapa-ngapain, dirazia polisi, baru turun semua, langsung ditangkap. Saya tapi gak bawa apa-apaan," kata Tompel, yang mengenakan baju tahanan itu, Senin (7/10).

Saat naik ke kelas 2, Tompel kembali ditangkap polisi Taman Sari karena kasus pembajakan bus? di kawasan Kota, Jakarta Barat. Lagi-lagi Tompel mengaku melakukan hal itu karena disuruh oleh seniornya.

"Waktu kelas 2 saya diajakin sama anak kelas 3 ngebajak bis di Taman Sari, waktu itu katanya anak kelas 3 ada yang dipalak anak sekolah lain, katanya solidaritas, jadi harus ikut semua," ungkapnya.

0 comments:

Post a Comment