Katakepo.blogspot.com - Data Dinas Pertambangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Kabupaten
Sukabumi menyebut sedotan Aqua dari empat mata air kepunyaan mereka
fantastis. Dari mata air pertama, 432 meter kubik per hari. Melalui mata
air kedua dan ketiga sama-sama mengisap 864 meter kubik tiap hari.
Sedangkan ladang air keempat paling besar hasilnya, yakni 6.048 meter
kubik saban hari.
PT Tirta Investama mengaku hanya memiliki tiga
sumur, satu sumur hanya untuk sumur pantau. Selain itu, perseroan hanya
diizinkan mengambil air 70 liter per detik. Aqua mengaku telah melakukan
konservasi di wilayah resapan air di Gunung Salak untuk menghidupkan
lagi mata air warga telah kering.
"Kita bikin sumur (pantau) tapi
sumur itu tidak dikeluarkan, hanya untuk memantau muka air. Sumber air
itu harus dipantau," kata Direktur Water Resource Department PT Tirta
Investama Wahyu Tri Raharja kepada merdeka.com Rabu lalu di kantornya,
kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. "Kalau semakin-lama semakin turun,
menunjukkan air di regionalnya kian turun."
Berikut penjelasan Wahyu kepada
Arbi Sumandoyo dan
Alwan Ridha Ramdani.
Di
daerah tanah yang sudah dibeli harus ada penghijuan. Temuan merdeka.com
desa di atas pabrik Aqua tidak ditanami pohon keras, tapi malah tanaman
pertanian. Kenapa begitu?Kita sudah mengikuti kemauan
Pemda Sukabumi membebaskan radius 200 meter. Namun jika kita hendak
membuat pagar, ada pertanyaan dari warga. Karena dulunya warga penggarap
di sana, pemiliknya dari Jakarta dan Bogor. Waktu itu mau konservasi,
malah kita ribut karena warga kehilangan mata pencarian.
Cuma
untuk menanam tanaman keras, konservasi, belum kita lakukan sepenuhnya
karena berbenturan dengan kegiatan warga. Memang kita sudah memasang
rencana induk bekerja sama dengan warga untuk menanam pohon sengon. Cuma
mungkin untuk bicara kuantitas, saya belum dapat laporan jelas tentang
ini.
Kenapa penghijauan hanya dilakukan di daerah resapan air yang Aqua sedot?Konservasi
itu harusnya wajib bagi perusahaan menggunakan sumber daya alam. Kalau
konservasi bagi kita, ditulis dalam dokumen amdal kita, harus di daerah
tangkapan air. Kedua, kalau kita benerin permukaan atas, otomatis daerah
bawah pun akan menikmati airnya.
Jadi kalau kita bener
melakukan semua kegiatan di daerah tangkapan air, dengan sendirinya air
warga akan terisi dari atas. Mata air dulu ada tapi hilang, akan kembali
lagi.
Dalam konsep kita, kita memang melakukan konservasi di
atas agar semua air hujan meresap ke sana. Kalau sudah meresap banyak,
mata air hilang akan kembali lagi. Itu harapan kita. Namun untuk
konservasi, misalnya kita hanya bisa konservasi 1,1 sampai 1,2 hektar.
Kalau rusak tiga hektar, kita hanya bisa konservasi satu hektar tidak
seimbang.
Seharusnya konservasi dilakukan bersama-sama bukan
kita saja. Kalau bisa dikumpulin semua perusahaan ada di situ terus kita
iuran. Aqua paling gede bolehlah, tapi semuanya. Otomatis kita
mempercepat proses air itu lagi. Meresapnya lebih banyak.
Saat ini Aqua saja yang melakukan konservasi?Setahu
saya memang Aqua saja. Makanya kita sedang berusaha mengajak semua,
termasuk pemerintah. Ada juga perusahaan lain menanam pohon tapi tidak
tepat. Mohon maaf, jadinya sia-sia. Kebetulan kita sudah melakukan
studi, jadi kita tahu persis air itu muncul di mana, elevasi berapa,
zona mana, kondisi sekarang seperti apa.
Bahkan kita sudah bikin
rencana induk konservasi. Cuma karena lingkupnya begitu besar, buat kami
akan berat kalau ditanggung sendiri.
Berapa hektar lahan konservasi harus dilakukan?Besar sekali, 36,8 kilometer persegi. Kita dari studi hanya menggunakan 3,8 persen air dari cadangan di situ.
Cuma
kalau bicara seluruh pengguna air, di sana itu sudah 48 persen. Bukan
kita saja, bukan hanya perusahaan, ada petani juga. Kita berharap
penggunanya mulai kendalikan, terutama perusahaan. Di sana banyak
perusahaan mengambil air tanpa izin, itu yang dikendalikan. Tapi memang
kontribusi kita paling besar.
Aqua sempat gencar menggunakan mata air dalam iklan, kenapa tidak langsung bilang Aqua menggunakan sumber air artesis?Kalau
kita berbicara mata air atau sumber air, kita sebernarnya acuannya pada
SNI. Pada SNI tidak ada menyebutkan mata air, itu harus pakai alam yang
keluar, itu tidak ada di situ. Jadi kalau kita bicara masalah merek,
bagaimana membuat daya jual saja. Menurut saya, secara hukum tidak
salah. Karena di SNI tidak ada spesifik kalau menyebut mata air itu
harus ini.
Aqua menggunakan berapa sumur di Cikubang?Ada
tiga, satunya sumur pantau. Kita tidak pakai. Kita bikin sumur tapi
sumur itu tidak dikeluarkan, hanya untuk memantau muka air. Sumber air
itu harus dipantau, kalau semakin lama semakin turun, menunjukkan air di
regionalnya semakin turun.
Yang dilaporkan Aqua kepada pemerintah yang diambil atau yang diproduksi?Dua-duanya.
Air dipakai untuk produksi ada meter airnya. Untuk produksi, kita sudah
dibatasi. Kalau lebih, kita didenda dan kena penalti.
Yang diambil Aqua 3,8 persen dari cadangan air di sana. Berapa meter kubik itu?Izin
kami punya di Sukabumi adalah 70 liter per detik. Kita tidak mungkin
produksi lebih dari itu karena aliran kita juga cuma itu. Air tersedia
cuma segitu. Kalau kita bicara produksinya berapa? Kita punya yang
namanya water ratio.
Kalau kita memproduksi satu liter air Aqua
itu dibutuhkan 1,2 liter air baku, otomatis ada 0,2 persen terbuang. Itu
otomatis karena namanya produksi ada bocor dan sebagainya.
Rasio
kita rata-rata 1,2. Kalau kita punya izin 70 liter per detik, produksi
kita itu sekitar 68 liter per detik. Produksi bisa dijual kepada
masyarakat cuma 80 persen dari izin kita. 20 persen ada yang kebuang
karena bocor dan dipakai untuk masyarakat sekitar. Misalnya untuk masjid
dan lain-lain. Kalau bicara nilainya berapa, mohon maaf.
Apakah ada hasil riset Aqua terkait daya dukungan lingkungan di kawasan Cikubang?Kalau
dari studi dibuat sama Universitas Padjadjaran, daerah sana masih
sangat hijau. Yang terjadi adalah ketidakberimbangan pemakaiannya. Ada
yang menggunakan sangat gede, ada yang dibuang, dan ada yang menggunakan
sedikit. Pembagian airnya tidak tepat.
Faktor paling penting
adalah faktor regulator, dalam hal ini adalah pemerintah daerah. Tapi
intinya sistem di sana masih sangat bagus, infiltrasi di sana masih di
atas 30 persen. Namun demikian masih bisa dikelola dengan baik kalau
kita konservasi bersama-sama.
Mantan kepala dinas bilang cadangan air di sana bisa habis dalam dua dasawarsa. Apakah menurut Anda begitu?Secara
saintifik, kita tidak bisa mengatakan itu. Karena air itu berbeda
dengan minyak atau tambang. Kita tidak bisa bilang cadangan air itu
sampai 20 tahun karena faktornya terlalu banyak. Pengambilan terlalu
besar, namun begitu diambil diisi juga sama air hujan.
Mungkin
yang disampaikan kepala dinas, kalau kita tidak melindungi. Dari segi
saintifik, profesor manapun tidak ada yang bisa mengatakan 20 tahun lagi
atau berapa tahun, tidak bisa ngomong itu.
Di kampung Pojok hingga Desa Babakan Pari atas akses air bersih sumbangan Aqua macet, kenapa bisa begitu?Yang
terjadi adalah karena banyak masyarakat membutuhkan, sedangkan jaringan
kita itu terbatas sehingga pengaturannya tidak rata. Misalnya yang
mengatur itu lebih banyak dari Kampung Cikubang, maka jaringan sana akan
dimatikan dulu.
Kemudian ketersediaan jaringan. Kita tidak
mungkin langsung menyediakan seluruh jaringan ke masyarakat. Akhirnya
yang terjadi adalah bangun ini dulu. Akhirnya ada beberapa daerah
terlayani dengan baik dan ada juga yang tidak, seperti Kampung Kuta
dekat dengan kita tidak kebagian.
Secara teknis, kita menyiapkan
air di sana, didorong ke Kampung Kuta. Tapi anggarannya besar untuk
biaya listrik dan pipa. Ini masalah teknis. Pengalokasian proyek dan
bantuan kalau tidak ada institusi bener, seperti itu. Kadang kita
mengikuti hasil musrenbangdes, kadang di desa memang tarik-tarikan.
Kita
mendorong ada institusi atau pengelola, tapi pengelola di situ tidak
mau ada iuran, inginnya dari kita semua. Harapan kita warga juga ikut
memelihara. Organisasinya itu menyebabkan aliran air ke Kampung Pojok
tidak lancar.