Friday, November 8, 2013

Tanpa Rencana, Negara Terancam

Katakepo.blogspot.com - JAKARTA,Masalah tata ruang di Indonesia agaknya akan sulit dibenahi karena banyaknya kebijakan sektoral yang tumpang tindih. Kebijakan itu akhirnya membuat konflik ruang di beberapa daerah dan membuat pihak swasta tidak tertarik untuk berinvestasi infrastruktur di Indonesia.
”Tumpang tindih ini tidak saja terjadi pada substansi kebijakan, tetapi juga kelembagaan,” kata Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia Bernadus R Djonoputro di Jakarta, Kamis (7/11/2013).
Contoh nyata terjadi pada UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Perencanaan Pesisir, UU Nomor 25
Tahun 2004 tentang Perencanaan Pembangunan Nasional, UU Nomor 12 Tahun 2008 yang merupakan perubahan kedua atas UU Nomor 32 Tahun 2004, dan berbagai kebijakan sektoral lain yang menyangkut ruang.
”Misalnya perencanaan di wilayah pesisir di mana terjadi tumpang tindih irisan area yang menjadi subyek dari rencana tata ruang wilayah dan rencana pengelolaan kawasan pesisir. Masalah ini tentu saja sangat membingungkan masyarakat penguna ruang,” kata Bernadus.
Dia juga mencontohkan, dalam rencana pembangunan infrastruktur yang terkait dengan Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, ada sekitar 50 proyek yang membutuhkan keterlibatan pihak swasta. Namun, ternyata belum ada satu proyek pun yang terlaksana karena belum ada swasta yang sanggup.
”Kekhawatiran mereka adalah masalah lahan. Swasta baru berani jika status tanahnya sudah benar,” ujar Bernadus.
Dengan kekhawatiran ini, tentu saja akan merugikan masyarakat dan negara secara keseluruhan karena kawasannya tidak terbangun.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan, hingga kini belum semua provinsi, kabupaten, dan kota sudah mengesahkan peraturan daerah rencana tata ruang wilayah.
”Tercatat baru 51 persen provinsi yang sudah memiliki perda RTRW, 62,6 persen kabupaten, dan 72 persen kota yang memiliki perda RTRW. Dengan belum adanya perda RTRW, pelaksanaan pembangunan di wilayah tersebut belum memiliki kepastian hukum,” kata Dirjen Penataan Ruang Basoeki Hadimoeldjono. (ARN)
Sumber : KOMPAS CETAK

ASI Tak Bagus karena Hanya Menyusui Malam Hari?

Katakepo.blogspot.com - Saya sudah tidak ASI eksklusif untuk bayi saya yang berusia 11 bulan. Di kantor saya sudah tidak memerah karena yang keluar benar-benar hanya sedikit sekali. Adapun di saat malam anak saya seperti suka sekali kalau bobok harus kena puting dulu, biarpun cuma sedikit ASI yang keluar tapi setelah merasa cukup dia bisa tidur pulas. Tapi kata mertua saya ASI saya sudah tidak bagus karena hanya diberikan saat malam saja. Apa betul begitu ya? Walau saya makan berbagai macam makanan (bukan junk food) kata mertua saya (lagi) tidak bagus buat ASI yang saya berikan ke anak saya. Apa betul juga begitu? Mohon  masukan ya. Terima kasih banyak
Elisabeth Deasy (31), Tangerang

Jawab:
Dear Ibu Elisabeth,

Wah sepertinya Ibu cukup gundah ya menghadapi situasi ini. Tetapi mungkin Ibu bisa tetap tenang menyikapi hal ini, karena sebenarnya semua nenek dalam hal ini mertua Ibu Elisabeth sebenarnya sangat perhatian dengan ibu dan si kecil. Mungkin bentuk perhatiannya belum tepat karena beliau belum terpapar informasi yang tepat mengenai menyusui.

Usia 11 bulan memang sudah kurang tepat jika masih diberikan ASI eksklusif dan memang sudah bisa diberikan makanan tambahan lainnnya. Kalau anak masih mau menyusu, tentu hal ini baik sekali dan teramat sangat dianjurkan. Karena walaupun menyusu sambil tidur anak masih bisa mendapatkan kandungan ASI yang luar biasa bermanfaat dan mendapatkan dekapan hangat ibu di malam hari. Dan ini tidak bisa tergantikan dengan apa pun juga.

Kecukupan ASI tidak semata dilihat dari hasil perahan Ibu juga. Karena anak ibu sekarang sudah cukup besar ibu bisa memperkenalkan beragam panganan makanan keluarga kepada si kecil dengan tetap meneruskan menyusui. Ibaratnya ASI yang Ibu hasilkan seperti separuh buah apel, maka memakan separuh buah apel tetap lebih baik daripada tidak memakan apel atau buah-buahan sama sekali kan ya.

Menyusui bukan sekedar memberikan makan untuk bayi, tetapi juga mengalirkan cinta, memberikan yang terbaik untuk bayi dari segi intelegensia, dan kesehatan lahir batin. Semoga perjalanan menyusui ibu dan buah hati terus indah dan nikmatilah malam-malam bersama si kecil di dalam dekapan, karena percayalah ketika saat mereka besar nanti, kita akan kangen sekali dengan malam-malam itu.

Semoga jawaban dari saya membantu dan mohon maaf jika ada salah kata. Salam menyusui!

Nia Umar IBCLC  (Konselor Menyusui – Wakil Ketua AIMI)

Bosan, Remaja Tinggalkan Facebook

Katakepo.blogspot.com - Facebook akhirnya mengakui bahwa para remaja mulai menunjukkan kebosanannya dengan jejaring sosial. Pengakuan ini dilakukan oleh Facebook pada Rabu, 30 Oktober 2013.

Seperti yang dilansir oleh CNet, CFO Facebook David Ebersman mengakui bahwa pengguna Facebook dalam kelompok remaja secara keseluruhan tidak tumbuh pada kuartal kedua dan ketiga. Mereka juga melihat adanya penurunan dari penggunaan Facebook sehari-hari oleh para remaja.

Diakuinya juga, Facebook tidak memiliki data yang akurat untuk menghitung jumlah aktivitas remaja. Ini karena mereka bisa saja memalsukan data diri.

Meski demikian, Facebook telah mengembangkan metode pengukuran khusus untuk memantau pengguna remaja mereka.

Ini berbeda dengan pernyataan CEO Facebook Mark Zuckerberg dan beberapa petinggi lainnya beberapa waktu lalu. Selama ini Zuckerberg dkk selalu menyatakan bahwa remaja pengguna Facebook tidak bosan.

Namun, kabar baiknya, Facebook masih menunjukkan tingkat keterlibatan yang tinggi dari penggunanya. Rasio pengguna aktif harian dibanding bulanan mencapai 61 persen.

Facebook pun mampu meraup keuntungan 2,02 miliar dollar AS dan meraih 48 persen keuntungan iklan mereka dari mobile. Facebook memiliki 1,19 miliar pengguna aktif, 728 juta pengguna harian aktif, dan 874 juta pengguna bulanan aktif lewat perangkat mobile.
Sumber: CNET

Mengenal Sosok Bos Baru BlackBerry

Katakepo.blogspot.com - BlackBerry mengumumkan berbagai keputusan penting pada Senin (14/11/2013) pagi waktu Kanada. BlackBerry memutuskan untuk membatalkan niatnya untuk menjual perusahaan, menerima dana investasi sebesar 1 milliar dollar AS dari perusahaan lain, dan salah satu yang terpenting, mengganti pemimpin perusahaan.

Ya, BlackBerry akhirnya mengganti Thorsten Heins, CEO yang telah memimpin perusahaan asal Kanada ini selama hampir dua tahun lamanya. BlackBerry pun memutuskan untuk mengganti Heins dengan mantan pemimpin perusahaan Sybase, John Chen.

Mulai November 2013, Chen akan menjabat sebagai CEO sementara dan juga salah satu Chairman BlackBerry. Sambil mencari CEO baru, Chen bakal bertanggung jawab menentukan arah, hubungan, dan tujuan strategis BlackBerry.

Pertanyaan besarnya, siapakah sebenarnya John Chen?

Chen ternyata bukanlah orang asing di dunia TI Amerika Serikat. Ia merupakan salah seorang eksekutif senior di Silicon Valley dan masuk ke jajaran petinggi di Fortune 500. Ia juga merupakan salah satu kunci penyelamat Sybase di masa sulitnya.

Chen kecil sempat bersekolah di Northfield Mount Hermon School. Selesai masa sekolah, ia melanjutkan jenjang pendidikannya ke salah satu universitas terkenal di Amerika Serikat, Brown University dan mendapatkan gelar elektro pada tahun 1978. Setahun sesudahnya, Chen mendapatkan gelar master dari universitas California Institute of Technology.

Karier Chen di dunia TI sangatlah mengesankan. Awalnya, seperti dikutip dari The Globe and Mail, Chen bergabung ke sebuah perusahaan bernama Unisify sebagai Design Engineer, sebelum akhirnya diangkat menjadi Vice President di perusahaan ini juga.

Pada tahun 1991, pria berumur 58 tahun ini memutuskan untuk pindah ke Pyramid Technology. Di perusahaan ini, ia menjabat sebagai Executive Vice President, kemudian diangkat menjadi President, Chief Operating Officer, dan Director di perusahaan ini pada tahun 1993.

Di tahun 1995, Chen kembali berpindah perusahaan. Kali ini, Chen memilih perusahaan TI lainnya, Siemens Nixdorf, sebagai Vice President. Kemudian, ia dipromosikan menjadi President dan CEO Siemens Nixdorf Open Enterprise Computing Division di tahun 1996.

Chen kembali "melompat" ke perusahaan lain, Sybase, pada tahun 1997. Di awal kariernya di perusahaan layanan sistem database ini, Chen langsung ditempatkan sebagai COO dan akhirnya menjadi CEO dan President pada satu tahun sesudahnya.

Kemampuan anak pengungsi dari Hongkong ini benar-benar diuji di Sybase. Chen, sebagai pemimpin perusahaan, harus berpikir keras untuk membawa Syabase yang sedang dalam masa kritis. Pada saat itu, Sybase telah mengalami kerugian selama empat tahun berturut-turut.

Dengan bakat dan kemampuannya, pria kelahiran 1 Juli 1955 ini mampu mengeluarkan Sybase dari masa krisis, dari merugi menjadi untung ratusan juta dollar AS, hanya dalam waktu satu dekade saja. Chen juga berhasil meningkatkan nilai kapitalisasi perusahaan dari 362 juta dollar menjadi 5,8 milliar dollar AS.

Pada tahun 2010, Sybase akhirnya dibeli oleh salah satu perusahaan raksasa TI, SAP. Awalnya, Chen memutuskan untuk bertahan di SAP. Namun, ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut pada awal tahun 2012 karena tidak juga mendapatkan posisi senior.

Tahun 2012, Chen bergabung dengan perusahaan ekuitas swasta Silver Lake sebagai penasihat senior.

Hingga saat ini, Chen masih tercatat sebagai salah satu petinggi di Wells Fargo & Company dan juga Walt Disney.

Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya tersebut, akankah Chen menjawab tantangan untuk menyelamatkan BlackBerry, seperti yang dilakukannya terhadap Sybase? Kita tunggu saja. Sumber: the globe and mail

Demokrat: Enggak Perlu Takut Kritik Jokowi

Katakepo.blogspot.com - JAKARTA,Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Melanie Leimena Suharli, menyatakan, kritik yang dilontarkan elite partainya kepada Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, berdasarkan fakta-fakta di lapangan. Oleh karena itu, Melanie pun mengaku tak perlu ada yang ditakuti dari mengkritik Jokowi meski nantinya akan menjadi bulan-bulanan publik.

“Kalau memang tidak bagus, dikritisi memang perlu. Enggak perlu merasa takut, toh yang kita nyatakan adalah hal yang benar,” ujar Melanie di Kompleks Parlemen, Kamis (7/11/2013).

Wakil Ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) itu menuturkan, selama tidak memiliki motif untuk menjatuhkan Jokowi, maka dia yakin publik juga akan bisa membedakannya.

“Kalau kita cari fakta-fakta baru, itu baru namanya menjatuhkan,” ucap Melanie.
Menurutnya, menyampaikan suatu fakta kepada publik memang tidak selalu berbuah dukungan. Terkadang fakta yang dilontarkan justru menimbulkan serangan balik. Melanie melihat hal itu sebagai konsekuensi dari kebebasan menyatakan pendapat di negeri ini.

“Kalau sudah menyatakan pendapat, kita harus siap apa pun konsekuensinya, termasuk di-bully,” kata Melanie.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo belakangan kerap dikritik oleh para elite Demokrat. Kritik antara lain dilontarkan oleh Ruhut Sitompul, Nurhayati Ali Assegaf, Ramadhan Pohan, hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyno. Ruhut mengkritik program Jokowi yang tak jauh berbeda dari gubernur DKI Jakarta sebelumnya, Fauzi Bowo.

Sementara itu, Nurhayati mengkritik Jokowi dengan banyaknya kasus kebakaran di Ibu Kota. Lain lagi dengan Ramadhan Pohan yang mengkritik Jokowi soal penyadapan Amerika Serikat di Indonesia. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu menuding Jokowi turut andil memberikan peluang kepada Amerika untuk menyadap Indonesia karena memberikan izin renovasi gedung kedutaan Besar AS yang dicurigai sebagai tempat pengumpulan sinyal alat sadap.

Terakhir, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono lepas tangan soal kemacetan di Jakarta. SBY bercerita pernah ditanya oleh perdana menteri di acara ASEAN Summit di Brunei Darussalam, beberapa waktu lalu.

Saat itu, SBY mengaku "tertusuk" saat ditanya soal kemacetan Jakarta. SBY mengaku bingung harus menjelaskan apa karena persoalan kemacetan menurutnya adalah urusan Jokowi selaku Gubernur. Atas berbagai serangan dari elite Demokrat ini, Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristyanto melihat para elite Demokrat tengah menjatuhkan elektabilitas Jokowi.