Thursday, December 19, 2013

Tahun 2200, bumi diprediksi bakal 'tenggelam'

Katakepo.blogspot.com - Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok orang baru-baru ini menyisakan hasil yang cukup mengejutkan. Penelitian tersebut mengatakan bahwa permukaan air laut akan bertambah tinggi sekitar 60cm dalam 70 tahun ke depan dan pada tahun 2200 akan naik sekitar hampir 2,5 meter, seperti yang dilansir Daily Mail (16/12).

Para ilmuwan kini menyatakan bahwa air laut tidak akan berhenti untuk terus naik antara 25-30 kaki, itu artinya permukaan air akan bertambah sekitar 9 meter.

Bayangkan, apa yang terjadi jika bumi 'dikepung' oleh permukaan air setinggi 9 meter?

Terlebih lagi, ada kecenderungan penurunan posisi tanah di bumi seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk. Dengan demikian, potensi banjir besar kemungkinan akan meningkat beberapa kali lipat dari sekarang hingga tahun 2200.

Menurut para peneliti, hal tersebut diprediksi akibat meningkatnya suhu, bahkan 10 kali lipat lebih cepat dari prediksi karena semakin menipisnya atmosfer dan pemanasan global atau global warming. Dikhawatirkan, tidak akan ada lagi daerah kutub di bumi ini. Mungkinkah akan terjadi kembali hancurnya es yang akan menenggelamkan sebagian tanah di planet ini seperti dahulu?

Bahkan seorang ilmuwan iklim bernama Eelco Rohling dari Australian national University, Canberra, mengatakan bisa saja hal buruk akan terulang.

"Ini seperti membangunkan 'raksasa' yang sedang tertidur," ujarnya saat dilansir NBC News (15/12).

Tuesday, December 17, 2013

Berburu Tiga Janji Pulau Jeju

Katakepo.blogspot.com - DENNIS Gong, pemandu kami, menjanjikan tiga hal tentang Pulau Jeju. Kata dia, pulau di selatan Semenanjung Korea yang pernah dijuluki ”Pulau Kriminal” ini dilimpahi tiga hal, yakni angin, bebatuan, dan wanita. ”Warga menyebutnya samda-do, silakan buktikan sendiri,” ujarnya.

Benar saja. Begitu kaki menginjak Bandara Internasional Jeju, Korea Selatan, Kamis (21/11/2013) siang, angin dingin langsung menampar muka. Pengukur suhu menunjuk angka 9 derajat celsius, tetapi udara di luar ruangan terasa lebih dingin dan menusuk tulang. Janji Dennis segera terbukti.

Dalam perjalanan menuju hotel, Dennis meminta kami melempar pandangan keluar jendela bus, ”Setiap jengkal lahan di Jeju kaya akan batu.” Pagar rumah, batas petak lahan, dan bukit-bukit kecil di antara permukiman tersusun atas bebatuan. Termasuk batu kepala naga (dragon head rock), obyek wisata yang menjadi salah satu penanda Pulau Jeju, beberapa menit perjalanan dari bandara dengan bus.

Batu terbentuk akibat pertemuan lava panas dengan air laut. Bentuknya menyerupai kepala naga. Namun, ada legenda yang menyebut batu ini adalah kepala seekor naga yang dipanah penjaga Gunung Halla karena kedapatan mencuri cairan kehidupan.

Gunung Halla adalah pusat Pulau Jeju. Gunung setinggi 1.950 meter di atas permukaan laut ini berada di tengah-tengah Pulau Jeju, pulau vulkanik berluas 1.849 kilometer persegi (sekitar tiga kali luas DKI Jakarta), dengan jarak 73 kilometer dari ujung barat ke timur dan 31 kilometer dari ujung selatan ke utara serta dikelilingi jalan lingkar luar sepanjang 181 kilometer.

Pemandu lokal yang menemani Dennis, Ko Young Wan, mengajak kami, rombongan undangan Garuda Indonesia dan Organisasi Turisme Korea (Korea Tourism Organization/KTO), ke Dokebi Road atau Mysterious Road untuk melihat keunikan lain alam Pulau Jeju. Obyek ini mengundang penasaran dan karenanya sering dikunjungi turis mancanegara.

”Coba perhatikan struktur jalan di depan, menanjak bukan? Pak Sopir, tolong matikan mesin. Kita akan melaju dengan kondisi mesin bus mati,” kata Young. Bus pun melaju pelan, tetapi kemudian bertambah kencang. Penumpang menengok ke sisi kanan dan kiri bus, tak percaya apa yang terjadi.

”Misterius bukan?” tanya Young. Menurut dia, Dokebi Road sebenarnya adalah jalan yang menurun, tetapi pepohonan di kedua sisi dan jalan di depan membuat ilusi penglihatan seolah jalan menanjak. Oleh karena itu, bus meluncur semakin kencang.

Keajaiban

Tahun 2011, Pulau Jeju ditetapkan sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia, termasuk Pulau Komodo di Indonesia. Sebelumnya, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan Pulau Jeju sebagai Taman Bumi (Geopark) tahun 2010, Warisan Alam Dunia tahun 2007, dan Cagar Biosfer tahun 2002.

Selain Gunung Halla dengan kawah seluas 1,6 hektar di puncaknya, Jeju juga dikelilingi 368 puncak kecil yang tersebar di seluruh wilayah. Pulau ini juga memiliki lebih dari 120 terowongan, satu yang terkenal adalah Geomun Oreum Yongamdonggulgye. Kami berkesempatan melihat lebih dekat Goa Manjang, salah satu goa lava, yang dijadikan obyek wisata alam di pulau berpenduduk sekitar 600.000 jiwa ini.

Matahari Jumat (22/11/2013) sebenarnya segera berakhir. Waktu sudah mendekati pukul 16.00. Namun, pemandu mengiming-imingi salah satu lokasi dengan pemandangan spektakuler di Pulau Jeju, yakni Seongsan Ilchulbong atau Puncak Matahari Terbit. Ini semacam kerucut raksasa dengan kawah di bagian tengah yang terbentuk oleh aktivitas vulkanik ribuan tahun lalu.

Ada ratusan anak tangga dan jalan menanjak untuk mencapai bibir tertinggi Seongsan Ilchulbong. Waktu tinggal 40 menit menjelang gelap. Sebagian anggota rombongan memilih belanja di sekitar gerbang, tetapi kami tak ingin melewatkan kesempatan itu. Langkah terburu-buru meniti tangga, jantung berdegup lebih kencang diimpit suhu yang semakin dingin, dan angin yang berkali-kali menampar ke arah tebing.

Di puncak, suhu sekitar 3 derajat celsius, angin terasa lebih kencang. Keringat mengucur deras. Namun, pemandangan senja di Puncak Matahari Terbit segera menghapus lelah. Langit memerah di cakrawala, deretan gunung menghadirkan siluet, sementara lampu kota kerlap-kerlip di kejauhan.

Sampai titik ini, dua janji Dennis akan Pulau Jeju sudah terbukti, yakni angin dan bebatuan. Lantas di mana wanita Jeju? Selama berabad-abad, penduduk Jeju dikenal sebagai pekerja keras. Alam yang keras membentuk daya juang warganya untuk bertahan hidup. Nah, salah satu yang khas dan terkenal dari Jeju adalah haenyeo, wanita penyelam yang biasanya pencari abalone (salah satu jenis kerang). Mereka menyelam di laut dengan peralatan sederhana di air yang kadang sangat dingin hingga kedalaman 20 meter.

Sayang kami tak menjumpai mereka dalam dua hari perjalanan di Pulau Jeju. ”Jumlah haenyeo terus berkurang karena generasi muda tak lagi menyelam untuk mencari abalone. Kini tinggal sedikit haenyeo yang bertahan dan umumnya berumur 60-70 tahun. Mereka bermukim di dekat pantai,” kata Dennis.

Pulau wisata

Selain samda-do, Pulau Jeju juga dikenal dengan sammo-do, pulau dengan tiga kekurangan. Apa itu? Tiga hal yang dianggap jarang sekali atau tidak ada di pulau ini adalah pencuri, pengemis, dan pagar utama.

Menurut Young, Jeju pernah disebut sebagai Pulau Kriminal karena dijadikan sebagai tempat pembuangan narapidana pada masa Dinasti Joseon (tahun 1392-1910). Penguasa ketika itu menganggap Jeju sebagai tempat terpencil yang cocok dijadikan tempat pengasingan.

Kebijakan itu bertahan hingga abad ke-19. Jeju perlahan tumbuh sebagai pulau wisata. Faktor alam mendukungnya. Pulau Jeju terdekat dengan khatulistiwa dibandingkan dengan wilayah lain di Korea Selatan. Suhu udaranya terbilang hangat dan jarang sekali menyentuh 0 derajat celsius. ”Banyak warga Korea ke Jeju untuk bulan madu,” kata Young.

Jinki Hwang dari Organisasi Turisme Jeju menyebutkan, tahun 2012 Jeju dikunjungi 9,6 juta pelancong, 1,68 juta di antaranya turis mancanegara. Tahun ini, turis ditargetkan meningkat menjadi 10,5 juta orang.

Turis asal Indonesia yang datang ke Pulau Jeju terbilang tinggi, yakni 23.858 orang dari total 149.247 orang yang berkunjung ke Korea Selatan tahun 2012. Selain promosi gencar, kebijakan bebas visa bagi 187 negara, dan bertambahnya rute penerbangan, Pulau Jeju dinilai juga mendorong laju turisme.

Sebagai pulau wisata, Jeju memiliki infrastruktur yang lengkap. Bahkan, KTO kini gencar mempromosikan wisata halal ke negara berpenduduk Muslim di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Bukan hanya sarana ibadah, mereka berjanji juga menyediakan makanan yang halal. (Mukhamad Kurniawan)
Sumber : KOMPAS CETAK

Gizi untuk Bikin Lebih Konsentrasi


Katakepo.blogspot.com - Kesibukan dan tekanan pekerjaan kerap menimbulkan banyak masalah. Gangguan kesehatan mulai dari stres hingga ancaman kekurangan nutrisi dapat menurunkan produktivitas di tempat kerja. Kondisi kesehatan pun rentan mengalami penurunan dan membuat tubuh rentan terhadap penyakit.

Untuk mengantisipasi masalah ini, para pekerja kantoran mesti ‘lebih melek’ soal pentingnya asupan gizi dan nutrisi.  Karena faktanya, faktor nutrisi memegang peran sangat penting dalam menunjang produktivitas di kantor.

Menurut spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Samuel Oetoro, mereka yang selalu sibuk di kantor tak boleh menyepelekan asupan gizi karena berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir dan  produktivitas.

Oetoro memaparkan, kebutuhan kalori manusia per hari rata-rata adalah sekitar 2.000-2.300 untuk pria, dan 1.500-1.800 untuk wanita. Namun mencukupi kebutuhan kalori saja belum cukup untuk menjaga produktivitas,  Ia menekankan, perlunya memberi perhatian khusus pada asupan nutrisi, khususnya gizi yang lengkap dan seimbang.

“Nutrisi yang lengkap dan seimbang itu terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Sumbernya pun perlu diperhatikan untuk mendapatkan zat gizi yang lebih sehat," ujarnya kepada Kompas Health.

Samuel menjelaskan, sumber nutrisi yang sehat bisa berasal dari pilihan makanan-makanan tertentu yang lebih sehat. Pemilihan jenis makanan ini menjadi poin krusial karena meski jumlah kalori yang disarankan sudah tercukupi, namun jika pilihan makanannya keliru, produktivitas tetap akan menurun.

Makanan apa yang baik?
Samuel memaparkan beberapa kiat bagi “orang kantoran” dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya setiap hari. Misalnya, untuk asupan karbohidrat, perlu dipilih yang memiliki indeks glikemik rendah atau karbohidrat kompleks, yaitu nasi merah atau kentang dengan kulitnya.

Ia juga menegaskan perlunya menghindari jenis makanan yang mengandung karbohidrat sederhana seperti gula atau makanan yang banyak mengandung tepung. Makanan tersebut, kata dia, justru merugikankarena dapat berkontribusi dalam mengurangi daya pikir dan konsentrasi.

Untuk lemak, Samuel lebih menyarankan asupannya berasal dari lemak sehat yang kaya asam lemak tak jenuh semisal omega 3 seperti minyak ikan, omega 6 seperti kedelai, dan omega 9 seperti minyak zaitun. Dan lemak yang perlu dihindari, lanjut dia, yaitu yang berasal dari gorengan, daging merah, atau pun makanan laut.

Zat gizi lainnya yang tak kalah penting yaitu protein, Samuel menyarankan untuk menyeimbangkannya antara asupan protein nabati dan hewani. Protein nabati berasal dari kacang-kacangan, sedangkan protein hewani didapatkan dari daging ayam tanpa kulit.

"Selain itu, perbanyak juga konsumsi sayur dan buah untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral," saran Samuel.

Diet tinggi protein

Selain ancaman kekurangan gizi, masalah yang kerap dihadapi kaum pekerja kantoran adalah perasaan mudah lapar. Tak heran jika banyak pekerja kantoran yang dari tahun ke tahun berat badannya terus mengalami peningkatan.
Untuk menyiasati rasa lapar yang kerap menyerang di tempat kerja, pakar gizi Fiastuti Witjaksono, menyarankan pola makan tinggi protein. "Kalau biasanya kita disarankan untuk mengasup protein 15-20 persen, untuk diet khusus ini konsumsilah protein sampai 40 persen dari total kalori," katanya.
Kebutuhan protein tersebut bisa didapatkan dari beragam sumber seperti putih telur, ikan, kacang-kacangan, atau susu tinggi protein. Agar lebih efektif, Fiatuti menganjurkan untuk mengkombinasikan protein dengan serat.
Meski begitu, diet tinggi protein ini tidak disarankan untuk dilakukan setiap hari. "Kita bisa memilihnya saat sarapan atau malam hari sebagai menu makan malam di saat harus lembur," katanya.
Faktanya, mencukupi kebutuhan nutrisi terutama protein memang penting artinya bagi kemampuan berpikir dan konsentrasi. Sebuah studi terbaru menunjukkan, asupan nutrisi khususnya protein memiliki peran dalam membantu mendukung daya pikir dan konsentrasi.

Riset yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition 2013 edisi online menemukan, pemberian suplemen makanan protein  dapat membantu meningkatkan fungsi kognitif khususnya bagi orang dewasa.  Studi  para ahli dari Departemen Psikiatri, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Putra Malaysia ini melibatkan 46 peserta yang dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Peserta terdiri dari wanita dan pria yang berusia antara 35 hingga 65 tahun. Peserta tidak memiliki penyakit apapun yang membutuhkan pengobatan.

Para peneliti ini memberikan dua perlakuan pada peserta, kelompok pertama diberi suplemen protein dari saripati ayam (essence of chicken) selama enam minggu. Sementara kelompok lainnya diberi plasebo sebagai pembanding.

Pada awal dan akhir pemberian perlakuan, para peserta menjalani tes untuk menentukan fungsi kognitif mereka seperti tes perhatian dan daya ingat. Hasilnya, secara keseluruhan, peserta yang diberi suplemen protein memiliki skor yang lebih baik setelah diberi perlakuan dibandingkan dengan kelompok plasebo. Ini artinya, suplemen protein memiliki peran untuk meningkatkan fungsi otak yang mengatur daya konsentrasi dan fungsi kognitif pada orang dewasa sehat.

Virgin Beach, Surga Tersembunyi di Bali Timur

Katakepo.blogspot.com - “Virgin Beach? Wah di mana ya itu?” ujar Made, guide sekaligus supir sewaan kami di telepon. Sebagai penduduk asli Bali yang sudah 5 tahun lebih mengantar wisatawan keliling Pulau Dewata, pria berambut gondrong gimbal ini ternyata belum pernah mendengar tentang Virgin Beach, apalagi melihatnya langsung.
Tentu saja saya dan 3 orang teman jadi semakin penasaran. Pantai yang belum sepopuler Kuta, Sanur, Nusa Dua dan Dreamland ini seakan menjanjikan kesan alami, terpencil dan pastinya tidak “touristy”. Setelah berkali-kali ke Bali, wajar jika kali ini kami ingin sesuatu yang berbeda, bukan melulu sebatas pantai “mainstream”.

Memang benar bahwa misteri itu punya daya tarik. Status pantai rahasia (hidden beach) yang disandang Virgin Beach didukung oleh 3 faktor. Pertama, pantai di desa Perasi ini tersembunyi di balik dua bukit yaitu Apen dan Penggiang. Kedua, warna pasirnya pun mengandung misteri. Nama “Virgin Beach” sebenarnya adalah sebutan wisatawan asing, sementara penduduk Bali sendiri menyebutnya White Sand Beach atau Pantai Pasir Putih. Ini tidak lain karena pasirnya yang putih, sementara semua area lain di pantai Perasi berpasir hitam. Ketiga, akses menuju ke sana juga sengaja tidak dipermudah, seakan menyiratkan “larangan” untuk menginjakkan kaki di sana.

Cara Menuju Virgin Beach
Untuk sampai ke Virgin Beach ini ternyata tidak semudah waktu kami mencari tiket pesawat murah dalam waktu yang sempit. Kami cukup beruntung menemukan Traveloka.com, situs booking tiket pesawat online dengan pilihan airline lengkap dan harga yang bahkan lebih murah dari harga web maskapai. Booking online, 15 menit kemudian tiket pun sampai di email saya.

Dan dalam upaya menuju ke sana, lagi-lagi Internet jadi penolong. Menurut beberapa blog yang saya baca, di sana hanya ada bemo yang sesekali lewat, itupun hanya mengantar sampai depan jalan kecil menuju pantai. Dari situ, jarak menuju pantai masih sekitar 1 km dan tidak ada ojek.

Karena itu, sewa mobil pun jadi pilihan utama. Bisa saja kami menyewa motor seharga Rp 70.000 untuk seharian penuh, tapi karena kami berempat dan saya satu-satunya yang bisa mengendarai motor, terpaksa kami memutuskan untuk menyewa mobil Made. Biaya sewa mobil terbilang murah untuk dibagi berempat: total Rp 350.000 selama 10 jam, sudah termasuk jasa supir, bensin dan parkir.

Tibalah saatnya kami berangkat. Dari Kuta, kami menuju ke arah Karangasem. Pertama-tama, kami menempuh Bypass Ngurah Rai, Sanur, Goa Lawah, melewati persimpangan Padang Bai, sampai akhirnya menjumpai papan besar bertuliskan “Selamat Datang di Karangasem”. Dari sana kami lurus terus mengikuti jalan sampai tiba di Candidasa. Medannya cukup mudah, hanya saja petunjuk arah ke pantai “perawan” ini penuh teka-teki. Karena tidak menemukan satu petunjuk pun, Made mampir ke sebuah toko swalayan untuk bertanya arah.

Setelah diberi tahu oleh karyawan toko swalayan, kami melanjutkan perjalanan sampai tiba di jalanan yang mendaki dan berkelok mirip Puncak Pass. Di pinggir jalan yang dipenuhi kera, sekali lagi kami berhenti untuk bertanya ke seorang ibu penjaga warung. Ternyata, jalanan kecil menuju pantai masih sekitar 7 km (30 menit) dari Candidasa ke arah Amlapura.

Saking minim petunjuk, kami pun sempat kelewatan satu-satunya papan petunjuk bertuliskan “White Sand Beach”. Tidak heran, papan kecil ini ternyata tertutup daun pohon. Dari arah Candidasa, papan ini berada di sebelah kanan jalan, tepat di depan sebuah jalan kecil tidak jauh dari Puskesmas.

Misteri masih berlanjut. Setelah masuk ke jalan kecil tersebut, kami melewati daerah pemukiman penduduk. Seorang teman pernah berpesan, kadang ada penduduk yang sengaja menyesatkan. Untungnya kami tidak bertemu kejadian serupa. Setelah melewati pemukiman dan persawahan, mobil berguncang melaju di atas jalanan sempit tidak beraspal yang menanjak terjal. Yang lebih aneh lagi, kami kemudian tiba di sebuah area gersang yang ditumbuhi tanaman kaktus. Setelah area gersang tersebut, kami kembali melihat daerah luas di mana terdapat penduduk sedang menggiring babi dan juga beberapa ekor sapi yang sedang merumput.
Melihat bahwa tidak ada tanda-tanda laut di ujung jalan, mulai timbul lagi keraguan di benak kami. Namun Made terus menyetir sampai akhirnya kami melihat sebuah pos penjaga. “Benar ini Virgin Beach, pak?” tanya saya penuh harap. Lega rasanya ketika petugas tersebut mengangguk.

Sesuatu yang eksklusif ternyata tidak harus mahal. Awalnya kami kira biaya masuk pantai pasti mahal, tapi ternyata tidak: hanya Rp 3.000/orang dan Rp 2.000/mobil. Di ujung jalan tersedia suatu lahan parkir yang lumayan luas. Setelah menuruni beberapa anak tangga, akhirnya kami menginjakkan kaki di Virgin Beach. Ibarat menemukan harta karun tersembunyi, semua susah payah mencari jalan seketika itu juga sirna, kami langsung terbuai dengan pemandangan yang ada di depan mata.
 
Fasilitas di Virgin Beach
It’s truly worth it. Air laut biru jernih, pasir putih lembut dan buih ombak menciptakan sensasi ketenangan yang luar biasa. Pantai sepanjang 600 m ini juga terlihat bebas dari sampah, benar-benar menyejukkan hati. Tampak jelas bahwa pengunjung pantai ini lebih didominasi wisatawan asing, itupun masih dalam hitungan jari. Di sebelah kanan terlihat barisan penyewaan payung, warung makanan/minuman serta barisan perahu jukung milik nelayan. Jika ingin snorkeling, Anda dapat menyewa perlengkapannya seharga Rp 25.000. Sewa kursi dan payung dihargai Rp 15.000 untuk seharian. “Harga untuk bule lain lagi. Kalau pesan makan, kursinya gratis,” jawab ibu pemilik warung ketika kami mencoba menawar. Harga ini masih termasuk murah jika dibandingkan dengan “hidden beach” yang sudah lebih populer seperti Balangan (2 kursi seharga Rp 50.000). Jika ingin bersantai Anda juga dapat menikmati jasa pijat seharga Rp 50.000 selama 1 jam (harga turis lokal).

Setelah berjam-jam menghabiskan waktu di sana, kami pun beranjak kembali ke Kuta, tersenyum puas. Rasa puas ini lebih dari sekedar puas menikmati keindahan Virgin Beach. Rasa puas tersebut lahir dari keputusan kami mengiyakan tantangan, dan juga karena menyimpan harapan, bahwa entah di suatu tempat di Bali yang komersil ini, surga tersembunyi itu masih ada.

Belum Kaya Kalau Tidak Punya Rumah di sini?

Katakepo.blogspot.com - TANGERANG,Selain tenar sebagai kawasan perdagangan, Kota Tangerang juga merupakan sentra industri manufaktur. Ada 1.000 perusahaan yang beroperasi di wilayah ini. Dengan asumsi satu perusahaan memiliki 500 karyawan, maka terdapat 500.000 ribu orang yang membutuhkan hunian. Belum lagi mereka yang bekerja di Jakarta (komuter). 

Hunian memang merupakan salah satu fokus pembangunan Pemerintah Kota Tangerang selain pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan serta kesejahteraan masyarakat. Karakteristik wilayah kota ini secara alami terpengaruh oleh situasi dari kondisi dinamis kehidupan sosial ekonomi Provinsi DKI Jakarta. Hal ini dimungkinkan karena kuatnya korelasi faktornya kependudukan, faktor perkembangan industri dan perdagangan serta kehidupan sosial masyarakat di antara wilayah Kota Tangerang dan Provinsi DKI Jakarta.

Tak mengherankan, arah kebijakan umum yang bersifat strategis lebih terfokus pada peningkatan sarana dan prasarana fisik yang dapat memperlancar roda perekonomian, peningkatan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kota ini. Pada gilirannya, kualitas SDM ini dapat memenuhi kebutuhan industrialisasi dan perdagangan yang semakin berkembang.

Dalam kaitan dengan hal itu, peran pembangunan hunian menjadi vital di tengah dinamika pertumbuhan kota. Namun, bagaimana kemudian Kota Tangerang dapat menyediakan hunian yang layak dan terjangkau, sekaligus menstimulasi pembangunan masyarakat atau community development?

PT Modernland Realty Tbk sebagai salah satu pelaku industri dan bisnis hunian di kawasan ini memandang bahwa Kota Tangerang membutuhkan konsep pengembangan kawasan terpadu yang mengintegrasikan fungsi-fungsi hunian bersama pusat aktivitas keseharian seperti pendidikan, olahraga, hiburan, kuliner, bisnis, perdagangan dan jasa.

Menurut Direktur Marketing Modernland Realty, Andy K Nathanael, rekayasa pengembangan kawasan terpadu sangat penting untuk membawa wajah kota menjadi lebih rapi, teratur dan terancang dengan baik. 

"Karena kota yang dirancang dengan tata ruang yang baik serta memperhatikan berbagai unsur kelengkapan dan ekologinya selain mengubah juga memengaruhi tataran ruang-ruang mikro di sekitarnya," jelas Andy kepada Kompas.com di Jakartapekan lalu.

Kota Modern yang dikembangkan Modernland Realty, ujar Andy, mengindahkan kaidah konsep tata ruang terpadu. Di sini ada hunian, pusat aktivitas bisnis, komersial, perdagangan, pendidikan, olahraga dan bahkan hiburan.

Kota Modern dirancang sebagai perumahan skala besar dengan kualitas infrastruktur dan sarana yang mendukung penghuninya. Jalan utama dibuat lebar dengan Right Of Way (ROW) 24 meter, jalan lingkungannya juga tak kalah lebar dengan kualitas fisik memadai. Ruang terbuka hijau berupa taman utama dan taman lingkungannya di setiap kluster juga mendapatkan porsi khusus.

Tak heran, Kota Modern tampil sebagai perumahan dengan imaji istimewa di benak masyarakat Kota Tangerang, terutama kalangan elite dan kelas atas. Bahkan, muncul anggapan yang sempat populer, bahwa belum disebut orang kaya bila tidak memiliki hunian di Kota Modern.

Sekadar informasi, harga rumah aktual di perumahan ini senilai Rp 1,5 miliar hingga Rp 6 miliar dengan luas bangunan sekitar 68 hingga 200 meter persegi. Sedangkan harga lahannya sudah bertengger di angka Rp 6 juta-Rp 8 juta per meter persegi di kluster-kluster biasa dan Rp 12 juta per meter persegi untuk kavling menghadap padang golf. Profil pembeli unit-unit rumah di sini mayoritas adalah para pedagang dan penyedia jasa beretnis Tionghoa yang memiliki kekayaan di atas rata-rata.

"Mereka saling bersaing membeli satu atau dua atau lebih untuk dirinya, anak-anaknya atau keluarganya. Selain etnis Tionghoa berprofesi pedagang, elemen masyarakat lain seperti pejabat Pemerintah kota dan juga profesional adalah konsumen Kota Modern. Sehingga komunitas yang terbentuk di sini adalah kalangan atas dengan latar belakang berbeda," ujar Andy.

Sinergi kawasan

Kota Modern memproduksi 500-700 unit per tahun. Jumlah yang sama juga dipasok pengembang lainnya yakni Lippo Karawaci, yang membangun Lippo Village dengan luas kawasan sekitar 1.500 hektar.

Saat ini perumahan-perumahan skala besar tersebut memang menjadi pemasok hunian dengan kontribusi mayoritas ketimbang perumahan yang dikembangkan Pemerintah. Hanya, harganya yang tinggi membuat tidak semua masyarakat dapat mengaksesnya.

Oleh karena itu, sebagai bentuk sinergis antara pengembangan kawasan dengan lingkungannya sekitar, para pengembang kemudian menyediakan hunian dengan harga terjangkau berkonsep vertikal.