Saturday, September 14, 2013

Hanya di Indonesia, 5 hal ini bisa jadi tren

Katakepo.blogspot.com - Indonesia bisa dibilang merupakan satu contoh nyata di mana tren 'aneh' menyebar lewat teknologi. Bisa dianggap aneh karena mungkin tren seperti ini tak akan bisa sampai laris jika tersebar di luar nusantara.
Kebanyakan, tren 'aneh' yang menyebar melalui internet, ada pula yang menyebar melalui smartphone. Ada yang sebenarnya berasal dari luar, namun tak sedikit yang murni hasil dari negeri sendiri.
Dalam beberapa hari terakhir, mungkin Anda dikejutkan dengan tren bahasa Tervicky yang jadi viral akibat munculnya berbagai video dengan tata bahasa 'intelek' yang digunakan oleh Vicky Prasetyo. Namun, sebelum Tervicky, sebenarnya banyak juga tren yang sudah berkembang di dalam negeri berkat bantuan internet dan smartphone.
Apa saja? Simak ulasannya yang berhasil dihimpun merdeka.com (13/9) berikut ini:

1. 4L4y

Tren bahasa satu ini mungkin beredar di kalangan ABG (Anak Baru Gede) pada beberapa tahun belakangan ini. Penyebarannya pernah sangat pesat akibat menjamurnya penggunaan smartphone BlackBerry di kalangan anak muda.
Tak hanya lewat BBM saja, tren ini juga menyebar lewat pesan singkat seperti SMS hingga email bahkan tulisan tangan sekalipun. Sebenarnya, tren seperti ini juga berkembang di luar negeri, namun namanya L33t.
Alay sendiri adalah gaya bahasa di mana penggunaan beberapa huruf digantikan dengan karakter unik seperti angka atau tanda baca lainnya. Bagi yang sudah terbiasa dengan hal ini mungkin tak merasa kesulitan, namun, bagi yang tak terbiasa dengan 'bahasa alien' macam ini, tentu akan susah.

2. Ciyus? Miapah?

Kalau tren satu ini umurnya masih lebih pendek dibanding dengan tren gaya bahasa Alay. Namun, efek yang dihasilkan tetap sama.
Dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, ciyus sendiri berarti serius, sedangkan miapah berarti demi apa. Bahasa seperti ini sejatinya digunakan untuk menunjukkan bahwa penggunanya masih kekanak-kanakan dan imut-imut (anak balita lebih mudah mengucapkan ciyus daripada serius).
Penyebarannya juga terjadi dalam beberapa media teknologi seperti BBM, SMS, email, jejaring sosial, dan sebagainya. Penggunanya pun setipe dengan yang sebelumnya, yaitu remaja.

3. Demi Tuhaan!

Anda yang mengikuti perkembangan perseteruan Eyang Subur dan mantan pengikutnya mungkin paham dengan frase satu ini. Hal ini diucapkan oleh Arya Wiguna saat menyatakan kemarahannya kepada Subur di depan media massa.
Bentuk penumpahan amarah yang dilakukan Arya ini ternyata terekam bidikan kamera dan secara cepat menyebar lewat YouTube. Akibatnya, banyak orang ikut-ikutan menirukan kemarahan Arya Wiguna dalam beberapa video parodi.
Memang belum ditemukan bentuk penggunaan frase ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Namun, melihat penyebarannya lewat jejaring sosial, bisa diketahui bahwa hal ini memang sempat menjadi tren.

4. Goyang Cesar

Yang satu ini memang bukanlah gaya bahasa, namun, terbukti sempat viral di Indonesia. Sebab selama bulan Ramadan lalu, Cesar dan goyangan khasnya hadir dalam sebuah acara menjelang Sahur.
Ternyata, goyangan ini mendapatkan animo yang baik dari masyarakat. Bahkan, video goyangan ini pun dicari-cari baik melalui Google ataupun YouTube.
Dari awal diunggah sampai sekarang, sudah banyak pemirsa TV di Indonesia yang penasaran dan ingin mencoba mengikuti tarian ini.
Maka, jika lagu dangdut berjudul Rok Mini atau Buka Sitik Jos diputar dimana-mana, goyangan yang dilakukan pendengarnya pun akan sama, yaitu menggunakan goyang Cesar.

5. Tervicky

Kalau gaya bahasa yang satu ini mungkin Anda tak asing lagi. Ya, gaya bahasa ini terkenal baru-baru saja lantaran dikeluarkan dari mulut mantan tunangan Zaskia Gotik, Vicky Prasetyo alias Hendriyanto.
Dalam rekaman wawancara yang terunggah di YouTube, Vicky (mungkin) ingin terlihat keren dan sangat intelek dengan menggunakan bahasa-bahasa 'pintar' lain yang justru menjadi blunder bagi dirinya sendiri. Seperti contohnya dia sempat mengucapkan kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, kudeta keinginan, statusisasi kemakmuran dan lain-lain yang justru terdengar aneh dan tidak bermakna sama sekali.
Akibat hal ini, banyak orang kemudian menggunakan gaya bahasa tersebut. Memang, sampai saat ini belum ada bukti penggunaan gaya bahasa seperti ini dalam kehidupan sehari-hari, namun tren ini cukup banyak diaplikasikan dalam status dan tweet pengguna jejaring sosial.


Mengikat janji setia di gembok cinta

Katakepo.blogspot.com - Mengelilingi Katedral Cologne saja rasanya tak cukup untuk memuaskan hasrat berpetualang saya. Saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju destinasi populer di Cologne, Jerman, yang kabarnya telah dikunjungi banyak pasangan dari seluruh dunia. Mendengar itu, saya pun jadi ikut penasaran.

Setelah berjalan memutari katedral - ke sisi belakang - saya dan rombongan berhenti di ujung sebuah jembatan bernama Hohenzollern. Di bawah jembatan, saya melihat beberapa kapal berlayar pelan menyusuri keindahan Rhein, salah satu sungai terpenting dan terpanjang di Eropa.
"Das nennt man Liebesschloss," atau "Itu disebut gembok cinta," jelas Peter, bule jangkung yang menjadi pemandu wisata saya. Gembok-gembok, yang entah berapa jumlahnya, itu tergantung di pagar jembatan. Jika diamati, setiap gembok umumnya berisi tanggal dan nama pasangan. Menurut Peter, asal-muasal tradisi gembok cinta sendiri tidaklah jelas. Namun, kebanyakan orang menyebut itu berasal dari budaya Italia, yang lebih dulu mempraktikkannya.
Saya yang kebetulan memang datang sendirian alias tidak membawa pacar, hanya bisa iri melihat puluhan sejoli mengikrarkan cinta di jembatan itu. Mereka saling tertawa riang dan mengambil gambar satu sama lain. Tak lupa, kunci dari gembok yang mereka bawa kemudian dibuang bersama-sama ke sungai. Konon, pasangan yang mengikat cinta di jembatan ini akan memiliki hubungan yang langgeng seumur hidup. Mitos itu pun berhasil menarik puluhan atau bahkan ribuan pasangan dari seluruh dunia, yang ingin mengikat janji setia.
Kemunculan gembok cinta tidak berjalan mulus begitu saja. Deutsche Bahn selaku pengelola sistem kereta api di Jerman, sempat mencopoti gembok-gembok yang menggantung di pagar jembatan. Karena dirasa akan membebani struktur jembatan, DB awalnya menentang keras kemunculan gembok cinta di Cologne. Namun, desakan dari penduduk setempat dan wisatawan membuat pemerintah akhirnya memutuskan untuk mengembalikan gembok cinta.

Hari ini, gembok cinta telah dikunjungi oleh ribuan wisatawan sebagai atraksi populer yang romantis, khususnya bagi mereka yang memang berniat untuk mengikrarkan janji setia. Berminat untuk mengajak pasangan ke sana? Kalau iya, jangan lupa bikin gembok cinta kalian dulu ya.

Serunya, berpetualang menjelajah Negeri Bollywood!

Katakepo.blogspot.com - Beruntung saya pergi ke India setahun yang lalu, sebelum peristiwa gang rape meledak seperti sekarang. Jadi, saat itu yang ada di pikiran saya cuma perasaan penasaran karena akan mengeksplorasi negara baru yang juga menjadi pengalaman pertama saya ke luar negeri.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus sekitar pukul 22.30 waktu India di Indira Gandhi International Airport. Gaya norak saya langsung muncul ketika melihat betapa besar, modern, dan canggihnya bandara nomor satu di India itu. Bandara di Cengkareng saja kalah apalagi bandara Juanda yang berlabel internasional tetapi minim fasilitas itu.
Begitu keluar dari pesawat, saya langsung disambut udara dingin India yang kebetulan kala itu sedang musim dingin (bulan Januari). Saya yang hanya beramunisi jaket kulit dan sepatu boots tentu saja kewalahan dengan hal ini. Maka saya pun langsung cepat-cepat melangkahkan kaki menuju bagian imigrasi dan kemudian mengambil bagasi saya.

"What will you do here?" tanya bapak petugas imigrasi dengan muka yang sangat tidak ramah dan logat India yang kental.
"Mmmm..volunteering.." jawab saya sedikit gugup. Udara dingin dan tatapan matanya yang penuh selidik bukanlah kombinasi yang bagus saat itu.
"Where?" tanyanya lebih tegas.
"Jalandhar, North India".
"Are you sure you won't go for study here? Because your visa is valid only for 3 months. You have business visa."
"Yes, I am sure," jawab saya sedikit ngotot.
"Because if you get caught, we will take you back to your country," katanya sambil memberi stempel visa di passport saya dan kemudian melemparnya. Mendapati reaksi petugas bandara yang sangat tidak ramah, saya berusaha cuek dan tidak mengindahkannya.
"Are you sure you won't go for study here? Because your visa is valid only for 3 months. You have business visa."
"Yes, I am sure," jawab saya sedikit ngotot.
"Because if you get caught, we will take you back to your country," katanya sambil memberi stempel visa di passport saya dan kemudian melemparnya. Mendapati reaksi petugas bandara yang sangat tidak ramah, saya berusaha cuek dan tidak mengindahkannya.
Untuk tiket bus, saya harus merogoh kocek USD 25 atau sekitar Rp 278.125. Jika saya di Indonesia, dengan uang segini saya bisa naik bus kelas VIP dengan beragam fasilitas yang super nyaman. Namun di India, saya hanya mendapatkan sebuah bangku bus yang keras dan harus menempuh perjalanan selama 8 jam. Ditambah lagi, saya harus mengangkat dan memasukkan koper saya sendiri ke bagasi belakang. Baiklah, saya tidak mau manja. Tetapi, tidak bolehkah saya mengeluh karena telah membayar mahal untuk ini?! 
"Kamu sadar gak, cuma kita berdua yang cewek di dalem bis ini," kata Nara, teman seperjalanan saya. Saya memandang berkeliling dan menemukan ada belasan mata pria India yang sedang memelototi kami. Kala itu, saya hanya bisa membaca doa dalam hati, sambil berusaha membuang pikiran negatif yang memenuhi pikiran. Bagaimana kalau saya jadi korban bla.. bla.. bla.. dan kemudian berakhir jadi headline di Indian Times? Kekhawatiran itu bahkan sempat mampir di otak saya.
Di tengah perjalanan, sambil terus membaca doa, saya memutuskan untuk mengintip ke balik jendela bus. Pandangan saya terhipnosis oleh wajah New Delhi yang sesungguhnya. Wajah New Delhi yang modern ternyata hanya berhenti sampai pintu tol keluar bandara. Setelah itu, wajah-wajah kusam yang mencoba untuk berbenah diri itu muncul. Di satu sisi, saya melihat gedung-gedung tinggi. Di sisi lain, saya melihat pemandangan para tunawisma yang harus tidur di pinggir jalan dengan anjing-anjing liar yang tampak nyalang. Sungguh miris. Ditambah lagi, ada puluhan kendaraan bobrok yang terlihat suka mengobral klakson. Sungguh bukan pemandangan yang menyejukkan mata.

Saya pun terlelap sejenak dan kemudian merasakan pedal rem diinjak. Si supir lalu berteriak dengan bahasa India yang sama sekali tidak saya mengerti artinya. Saya hanya memandanginya, sambil sibuk menjelaskan dengan bahasa Tarzan bahwa saya tidak mengerti bahasa India. Untungnya, percakapan konyol itu hanya berlangsung sementara, setelah seorang lelaki muda berwajah lumayan tampan mau menjelaskan apa maksud dari supir itu kepada saya.
"Bilang dong kalo nyuruh turun buat transit.." kata saya sambil melewati supir bus berkumis lebat.

"Ademeeee!!!" teriak saya dalam bahasa Jawa. Saya langsung lari ke dalam restoran dan kemudian memesan segelas kopi panas yang langsung berubah dingin di tengah musim dingin dini hari.

Di tengah kenikmatan menyeruput kopi panas, si kondektur kembali berteriak-teriak dalam bahasa India yang kemudian dengan sigap diterjemahkan oleh translator ganteng itu. Dia mengatakan bahwa perjalanan ke Jalandhar masih sekitar 6 jam lagi dan kami harus berganti bus yang lebih kecil.

Di dalam bus lagi-lagi hanya saya dan Nara yang berkelamin perempuan. Selebihnya, sekitar 10 orang berjenis kelamin pria dengan wajah seram dan badan kekar. Saya cuma bisa komat-kamit membaca doa.
Normalnya, New Delhi ke Jalandhar hanya memakan waktu 8 jam. Tetapi entah kenapa perjalanan ini molor hingga lebih dari 8 jam. Dan si translator ganteng (yang saya lupa namanya) bilang bahwa bus berkali-kali harus berhenti untuk membetulkan ban yang bocor karena si supir terlalu ugal-ugalan saat mengemudi.

Ngobrol ngalur-ngidul ini pun berlangsung selama sisa perjalanan saya hingga akhirnya bus memasuki sebuah kota yang lebih kecil dari New Delhi dan berhenti di agen bus yang saya tumpangi.

"Welcome to Jalandhar. They are friendly people but don't make friends with them..." itulah pesan terakhir si translator, yang ternyata sempat menamatkan studi di Australia dan kini kembali ke India. Saya penasaran apakah maksud dari perkataannya.
Namun, kata terakhirnya adalah sesuatu yang bikin saya sangat amat penasaran. "It's India..." katanya, menandaskan.



Mengenal budaya buang sampah di Jepangw

Katakepo.blogspot.com - Setelah mencoba berkenalan dan beradaptasi, baik dengan penduduk sekitar dan budaya Jepang, saya pun mulai terbiasa. Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik dan ingin sekali mengimplementasikannya di Indonesia, walaupun hal tersebut sudah coba diterapkan oleh pemerintah namun belum maksimal.
Hal apa yang membuat saya tertarik? Pertama kali, saya datang ke Jepang, tentunya saya masih terikat dengan kebiasaan ketika masih berada di Indonesia, yaitu masih membuang sampah yang tercampur dalam satu wadah atau plastik. Namun ternyata, setelah mendapatkan pengetahuan dan penjelasan baik dari orang-orang Indonesia yang juga berada di sana, serta orang Jepang asli, akhirnya saya mengerti tentang tata cara pembuangan sampah yang dianut dan diaplikasikan oleh penduduk lokal.
Memang dari setiap tempat berbeda namun, secara struktural, pembagian hari untuk pembuangan sampah adalah sama. Contohnya, di tempat saya, Hamamatsu, setiap hari Senin adalah hari untuk membuang sampah barang-barang yang dapat terbakar seperti kertas, kayu, daun-daunan dan segala hal yang dapat terbakar habis. Tradisi membuang sampah dengan membeda-bedakan serta memisah-misahkan menurut bentuk, ukuran dan hari, menurut orang Jepang sendiri sudah berlangsung sejak zaman Edo.
Dalam pemikiran saya, seandainya hal ini bisa diterapkan di Indonesia, selain dapat memupuk rasa disiplin dan cinta kebersihan, sisi positif lain yang dapat diambil adalah benda-benda yang masih layak pakai dapat diberdayakan lagi untuk disumbangkan ke pihak yang tidak mampu atau juga didaur-ulang.
Bahkan tidak hanya memisahkan benda menurut harinya saja, ada ketentuan khusus dalam proses pembuangannya. Diwajibkan untuk menggunakan plastik besar berwarna khusus untuk benda tertentu. Contohnya untuk benda yang tidak dapat terbakar atau tidak dapat didaur-ulang harus menggunakan plastik berwarna hitam. Plastik berwarna putih untuk benda-benda yang dapat terbakar, dan lain-lain.

Berawal dari Karang Taruna, Tujianto cabuli ABG 10 kali

Katakepo.blogspot.com - Kasus pencabulan terhadap anak baru gede (ABG) di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terus terjadi. Setelah menimpa EV (13), siswi SMP warga Suruh, Semarang, Jawa Tengah, kali ini yang menjadi korban adalah gadis ABG asal Kecamatan Sambi bernama DP (14). Pelakunya adalah tetangganya sendiri, bernama Tujianto (28).

Kepada polisi Tujianto mengaku berhasil merenggut kegadisan DP yang juga pacarnya tersebut, hanya dengan bermodalkan rayuan gombal dan janji-janji manis. Kepada DP, Tujianto berjanji akan mempertanggungjawabkan perbuatannya jika korbannya hamil. Perbuatan terlarang tersebut bahkan dilakukan hingga sepuluh kali, sampai akhirnya diketahui orang tua DP.

Kasatreskrim Polres Boyolali AKP Dwi Haryadi mengemukakan, awal mula terungkapnya kasus tersebut ketika kedua orang tua DP merasa curiga dengan perubahan perilaku anaknya. Kedua orang tua DP yang merasa curiga segera memeriksakan DP ke rumah sakit setempat. Dari situlah orang tua DP mengetahui perbuatan bejat yang dilakukan anaknya bersama tersangka. Tak terima dengan perbuatan asusila tersebut, mereka pun segera melaporkan Tujianto ke polisi.

"Kejadiannya terungkap Senin (26/8) lalu. Saat itu, karena takut ketahuan, DP minta diantar tersangka, pergi ke rumah temannya di Kendal. Namun kepergian DP tersebut tanpa meminta izin kepada orang tuanya. Tiga hari kemudian, orang tua DP yang merasa curiga, menjemputnya ke Kendal dan segera membawanya ke rumah sakit," jelas Dwi kepada wartawan, Jumat (13/9).

Menurut Dwi, Tujianto dan DP sebenarnya masih bertetangga. Awalnya mereka saling berkenalan saat menghadiri acara resepsi pernikahan, Agustus 2012 lalu. Keduanya sering bertemu, saat ada kegiatan karang taruna.

"Mereka teman di Karang Taruna desa. Setelah kenal kemudian saling bertukar nomor handphone (HP) hingga akhirnya berpacaran," paparnya.

Setelah berpacaran, pada awal tahun, Januari 2013, mereka janjian ke Bandara Adi Soemarmo hingga malam. Sekitar pukul 21.30 WIB, bukannya diantar pulang, korban malah diajak ke sebuah hotel di kawasan Pengging, Kecamatan Banyudono. Disitulah keduanya mulai berhubungan layaknya suami-istri, hingga 10 kali. Meski sempat menolak, namun setelah dijanjikan untuk dinikahi korban pun mengiyakan.

"Kita akan menjerat pelaku dengan Undang-undang (UU) No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 300 juta," pungkasnya.