Saturday, October 12, 2013

Hormon Cinta Juga Pengaruhi Hubungan Sosial

Katakepo.blogspot.com - Hormon oksitosin yang juga dikenal dengan istilah "hormon cinta" selama ini diketahui penting untuk membangun dan mempertahankan hubungan antarpasangan ataupun kasih sayang ibu dan anak. Namun ternyata, hormon ini memiliki peran yang lebih besar daripada yang dipikirkan sebelumnya.

Sebuah studi baru yang dipublikasi jurnal Nature menemukan, hormon oksitosin memengaruhi interaksi sosial sehingga dapat digunakan untuk lebih mengetahui evolusi sosial manusia. Selain itu, para peneliti mengatakan, hormon tersebut juga memiliki implikasi penting pada gangguan saraf seperti autisme.

Pada awal penelitian, para peneliti asal Stanford University School of Medicine mengukur kadar hormon oksitoksin hanya untuk mengetahui tingkat kepercayaan di antara dua orang. Kemudian mereka melakukan uji klinis pada anak-anak autis.

Autisme diketahui merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Oleh karenanya, uji klinis pada anak autis akan menunjukkan hubungan antara kadar hormon oksitosin dan kesulitan memercayai seseorang.

Para peneliti pun menemukan, kadar hormon oksitosin pada anak autis umumnya rendah. Inilah yang memicu mereka kesulitan berkomunikasi dan membangun kepercayaan terhadap orang lain.

Kemudian, para peneliti pun melakukan percobaan pada tikus untuk mengetahui cara oksitosin bekerja dalam otak. Diketahui, oksitosin khususnya bekerja pada bagian otak yang penting dalam perasaan menghargai.

"Orang dengan autisme tidak memiliki perasaan menghargai orang lain seperti orang normal. Maka dari itu, interaksi dengan orang lain akan menyakitkan bagi mereka," ucap peneliti senior dr Robert Malenka, profesor psikiatri dan ilmu perilaku dari Stanford University School of Medicine.

Malenka dan timnya pun mengklaim studi ini dapat memberikan bukti yang mendukung kesimpulan pengaruh oksitosin pada anak autis guna menciptakan pengobatan baru.

Peneliti menggunakan tikus sebagai hewan uji karena adanya kemiripan struktur otak dengan manusia. Kendati begitu, mereka juga mengakui hasil uji coba pada tikus sering kali gagal saat diterapkan pada manusia.

Mengapa Nafsu Makan Hilang Saat Patah Hati?

Katakepo.blogspot.com - Putusnya sebuah hubungan tak sesederhana mengucap selamat tinggal. Ada banyak perubahan yang mungkin akan kita alami, salah satunya adalah menjadi tak nafsu makan.

Para ahli menyebut kondisi tersebut sebagai "diet putus". Dan hal tersebut ternyata banyak dialami oleh orang-orang yang baru putus. Boro-boro mau makan, rasa lapar saja tak pernah datang.

Menurut Marina Pearson dan Debra Smouse, konsultan pernikahan, tubuh dan pikiran sangat terhubung, sehingga tak mengherankan jika saat kita sedih atau marah, tubuh akan terpengaruh.

Saat hati kita sakit, tubuh kita pun merasakan hal yang sama. Ia menjelaskan apa yang terjadi dalam level kimiawi ketika kita sedang didera kesedihan dan stres. "Hal pertama yang dilakukan tubuh adalah memicu dilepaskannya adrenalin yang akan mengalir ke seluruh tubuh dan meningkatkan kadar kortisol," kata Pearson.

Kortisol yang terlalu banyak dalam tubuh dan terjadi dalam waktu lama akan meningkatkan kadar gula darah, mengurangi kalsium dari tulang, meningkatkan tekanan darah, berkurangnya massa otot, menumpuknya lemak, bahkan berkurangnya kemampuan berpikir.

"Dalam jangka pendek, hal itu memengaruhi sistem imun, dan karena sistem imun adanya di usus tak heran jika nafsu makan pun ikut terpengaruh," paparnya.

Saat sedang patah hati, kebanyakan orang akan mencari "comfort food" seperti cokelat, es krim, atau cupcakes. Sementara ada juga orang yang justru tak berselera menyentuh makanan.

"Karena ada kaitan antara perut kita dan hati kita, maka setiap makanan yang kita makan akan membuat kita merasakan sakit. Kita pun tak mampu menelan," kata Smouse.

Lebih lanjut ia menjelaskan, saat kita memaksa diri untuk makan sesuatu kita akan kembali merasakan kepedihan. "Karena kita belum siap untuk bangkit dari kesedihan dan kekecewaaan, kita pun tak ingin merasakan sakit sehingga kita memilih untuk tidak makan," urainya.

Walau kita mungkin senang karena berat badan turun, tapi sebenarnya hal tersebut tidak sehat. "Salah satu klien saya menjadi kurus tinggal tulang setelah bercerai. Oleh dokter ia disarankan untuk menambah berat badannya, tapi ia ngotot dengan kurus suaminya akan kembali lagi, karena wanita yang merebut suaminya berbadan langsing," katanya.

Bangkit dari kesedihan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi salah satu cara terbaik untuk bangkit adalah merawat diri sendiri, baik emosional dan fisik.

"Turun berat badan bisa menjadi bagian dari penyeimbangan, tapi membiarkan diri kelaparan bukanlah cara mencintai diri bahkan jika itu bisa membuat Anda lebih langsing," kata Smouse.

Waspadai 7 Penyakit Tanpa Gejala Ini

Katakepo.blogspot.com - “Dok, kok saya dibilang sakit padahal tidak ada keluhan apapun?”
“Dok, kok hasil laboratoriumnya tidak normal padahal saya merasa sehat saja?”

Mungkin sebagian besar dari kita pernah bertanya begitu ketika divonis mengalami suatu penyakit, padahal jasmani kita merasa sehat. Memang betul, beberapa penyakit memang tidak memberikan keluhan pada stadium awalnya.
Bahkan, ketika gejala muncul, bisa jadi kondisi telah memburuk atau sudah stadium lanjut. Berikut adalah penyakit-penyakit yang perlu diwaspadai karena sering tidak menimbulkan gejala dan tidak disadari.

1. Hipertensi dan Kolesterol Tinggi
Dua masalah ini sangat populer di tengah masyarakat. Hipertensi dan kolesterol yang tinggi pada dasarnya tidak memberikan keluhan apapun bagi penderitanya. Idealnya tekanan darah normal untuk dewasa ialah ≤120/80 mmHg, dan disebut hipertensi grade I apabila tensi ≥140/90 serta hipertensi grade II bila tensi ≥160/100. Tekanan darah yang melebihi 180/120 disebut juga hipertensi krisis (berbahaya).

Namun ironisnya, hipertensi hingga ≥ 200/120 pun kadang tidak memberikan gejala apapun! Atau pada kebanyakan kasus, orang tersebut hanya mengeluh pusing-pusing ringan dan pegal-pegal ringan. Tak heran, banyak orang yang menyepelakan dan tidak mau berobat karena tidak ada keluhan. Itu adalah persepsi yang keliru. Disadari atau tidak, dampak hipertensi sebenarnya telah terjadi apabila tekanan ≥ 120/80; efek kerusakan akan terakumulasi hingga bertahun-tahun kemudian baru menimbulkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Khusus untuk hipertensi krisis, bahaya stroke, penyakit jantung, serta pecah pembuluh darah dapat mengancam setiap saat.
Serupa halnya dengan kolesterol tinggi. Kadar kolesterol yang tinggi ibarat bom waktu yang akan terakumulasi di pembuluh darah atau jaringan hati (fatty liver) dan berakibat fatal. Padahal, obatnya sangat sederhana dan relatif murah.

2. Penyakit Ginjal Kronis
Fungsi utama ginjal ialah menyaring darah dan membuang sisa-sisa metabolisme melalui urin. Namun, penyakit ginjal tidak selalu ditandai dengan masalah pada urin atau berkemih. Dalam pengalaman penulis, gejala baru disadari saat penyakit sudah memasuki stadium III atau IV, bahkan ada yang harus langsung menjalani cuci darah (hemodialisis). Sedih rasanya melihat kondisi tersebut.
Disebut penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) apabila fungsi ginjal telah menurun secara progresif. Hal yang dikhawatirkan pasien dari CKD ini ialah tindakan pengganti ginjal (cuci darah rutin atau transplantasi ginjal), apabila sudah stadium terminal (stage V). CKD stage IV tidak akan kembali menjadi stage III atau II lagi, demikian seterusnya, sehingga fokus terapi ialah mencegah penurunan fungsi ginjal lebih lanjut.
Apa penyebab penyakit ginjal kronis ini? Nomor satu ialah diabetes melitus yang tidak terkontrol (gula darah terus tinggi), dan berikutnya ialah hipertensi yang tidak terkontrol.

3. Diabetes Melitus (DM)
Terutama di Indonesia, penyakit kencing manis atau diabetes melitus masih banyak yang tak terdeteksi. Pasien kadang baru datang berobat setelah ada penyakit jantung, ginjal, luka yang tak kunjung sembuh, hingga luka yang telah membusuk sekalipun. Padahal penyebabnya sederhana: kadar gula darah yang tinggi.
Patut diakui, para dokter sulit menentukan dengan tepat kapan sebenarnya penyakit ini dimulai. Ada literatur yang mengatakan, apabila kadar HbA1C ≥ 6,5 (ini adalah patokan angka diagnosis DM) sesungguhnya sudah terjadi kerusakan pembuluh darah mikro di retina mata akibat kadar gula yang tinggi (retinopati).
Beberapa pasien pada awalnya mengeluhkan gejala 3P: poliuria (sering berkemih), polidipsi (sering haus), dan polifagia (sering lapar), serta penurunan berat badan tanpa sebab. Itu adalah gejala klasik DM. Walaupun telah muncul, gejala tersebut kadang terabaikan atau dianggap bukan yang penting. Padahal, keluhan tersebut dapat membuka pintu untuk deteksi DM secara dini dan tepat.

4. Osteoporosis
Siapa yang tak kenal penyakit ini? Meski familiar, namun Anda dan saya tidak tahu apakah sedang mengalami pengeroposan tulang atau tidak. Osteoporosis tidak memiliki gejala atau keluhan apapun, seringkali pasien datang sudah dengan nyeri akibat patah tulang (fraktur) atau kejadian jatuh akibat tulang yang rapuh. Angka tertinggi osteoporosis terjadi pada wanita yang menopause, terutama yang memiliki berat badan rendah.
Cara pasti untuk mendeteksi secara dini ialah dengan pemeriksaan kepadatan tulang (bone densitometry), atau pada kasus-kasus awal dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi. Namun sayangnya, pemeriksaan tersebut belum rutin dilakukan pada orang sehat.
5. Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Masihkan ingatkah Anda sesosok artis dan politisi muda dengan porsi tubuh ideal dan rutin berolahraga, namun meninggal mendadak akibat satu kali serangan jantung? Ya, tak heran PJK disebut sebagai pembunuh nomor satu. Dalam ilmu kedokteran, jenis kelamin laki-laki dan usia ≥ 45 tahun saja (belum ditambah faktor lain) sudah termasuk sebagai faktor risiko PJK.
PJK biasa muncul sebagai nyeri dada sebelah kiri, seperti ditekan benda berat, yang kadang menjalar ke lengan, rahang bawah, serta pundak. Artinya, ada sumbatan di pembuluh darah koroner. Namun faktanya, PJK bisa muncul tanpa gejala apapun! Pasien dapat tiba-tiba jatuh tergeletak tanpa diketahui sebabnya. Setelah diperiksa rekam jantung, barulah diketahui bahwa pasien mengalami PJK.

6. Infeksi Menular (HIV dan Hepatitis)
Penyakit ini boleh dibilang berbeda golongan dari lima yang telah dibahas sebelumnya. Namun, infeksi menular seperti HIV dan hepatitis dapat muncul tanpa gejala sedikitpun. Selain tidak menimbulkan gejala, penyakit ini mudah menular bila tidak berhati-hati!
Pada kasus HIV, butuh bertahun-tahun sejak virus masuk ke dalam darah hingga muncul sebagai gejala.
Banyak pasien yang baru diketahui mengalami HIV setelah dirinya terjangkit berbagai infeksi sekunder lainnya. Seperti yang diketahui, pasien HIV memiliki imunitas yang rendah sehingga rentan terkena infeksi. Dengan kata lain, virus HIV tidak membunuh pasien secara langsung, melainkan melalui infeksi-infeksi sekunder tersebut. Pasien HIV paling sering meninggal akibat tuberkulosis atau hepatitis C.
Untungnya, pemeriksaan HIV dan hepatitis telah rutin dilakukan pada orang sehat, misalnya saat melamar kerja. Penulis sering menemukan, seseorang baru mengetahui dirinya mengidap hepatitis B kronis saat pemeriksaan rutin sewaktu melamar kerja. Tiba-tiba saja hasil laboratorium menunjukkan nilai HbsAg posititf (penanda hepatitis B). Ia tidak tahu dari mana sumbernya, dan mengaku tidak menggunakan obat-obatan suntik, seks bebas, atau transfusi darah. Dan tidak ada keluhan kesehatan selama ini; murni hanya hasil lab saja yang bermasalah.
Itulah kesulitan dari hepatitis B. Di Indonesia, mayoritas kasus hepatitis B kronis terjadi akibat infeksi melalui plasenta sewaktu dalam kandungan. Misalnya seorang ibu hamil dengan hepatitis B positif, sang bayi memiliki risiko yang sangat besar untuk mengidap hepatitis juga, namun dengan sifat penyakit kronis: tidak ada gejala pada tahun-tahun awal.

7. Sirosis hepar (penciutan hati)
Seperti halnya penyakit ginjal kronis, masalah kronis pada hati juga dapat mengakibatkan perubahan struktur dan penurunan fungsi. Disebut sirosis hati, apabila sel-sel normal telah mati, digantikan oleh serabut-serabut fibrosa, ukurannya menciut, dan tidak bisa dipulihkan lagi. Lazimnya kondisi ini diketahui melalui USG hati.
Namun, ceritanya agak berbeda dengan penyakit-penyakit di atas. Biasanya pasien memiliki riwayat penyakit hati yang berangsur-angsur dan tidak diobati hingga terjadilah sirosis. Penyebab tersering ialah hepatitis kronis yang disepelekan karena tidak ada gejala. Sampai suatu ketika, barulah pasien mengalami muntah darah atau bengkak yang menandakan telah terjadi sirosis.

Sejatinya, tak semua penyakit menimbulkan gejala pada awalnya. Keluhan yang muncul malah menandakan bahwa penyakit telah memasuki tahap lanjut, bahkan terminal. Di sinilah pentingnya bagi kita semua untuk waspada dan mau periksa kesehatan. Periksa tekanan darah, kadar gula darah, serta waspada terhadap semua faktor risiko adalah hal sederhana nan esensial mencegah tujuh penyakit di atas. Mengutip pepatah tua, mencegah akan selalu lebih baik daripada mengobati. Itupun kalau penyakitnya bisa diobati…

Wajib Cek Tensi dan Kolesterol sejak Usia 20

Katakepo.blogspot.com - Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah pembunuh nomor satu di berbagai belahan dunia. Faktor risiko utamanya ialah tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol tinggi, kegemukan, diabetes, kebiasaan merokok, serta riwayat keluarga.
Sejatinya, penyakit ini semakin mengkhawatirkan karena dapat muncul tanpa gejala! Dan sekali kena, artinya telah terjadi kerusakan, bahkan kematian sel-sel jantung yang bersifat permanen. Dalam hitungan tahun, fungsi jantung akan semakin menurun hingga terjadi gagal jantung.

Apabila penyakit jantung memang sangat berbahaya, apakah yang dapat kita lakukan? Mungkin Anda sudah sering mendengar tips-tips diet dan olahraga agar jantung tetap sehat. Namun, pola hidup sehat saja tidak cukup. Kita semua perlu screening atau check-up kesehatan.

Istilah screening kesehatan berarti melakukan pemeriksaan sewaktu (merasa) sehat guna mendeteksi penyakit yang tidak bergejala (asimptomatik). Dengan adanya skrining ini, dokter dapat mengupayakan pengobatan dini atau pencegahan bagi yang berisiko. Sebagai contoh, kita perlu rutin memeriksa tensi karena  hipertensi pada dasarnya tidak bergejala. Jika menunggu sampai gejala muncul, bisa jadi hipertensi tersebut telah merusak berbagai organ tubuh. Demikian halnya dengan kadar kolesterol. Tanpa pemeriksaan laboratorium, apakah Anda yakin memiliki kadar kolesterol normal?

Menimbang bahwa faktor risiko penyakit jantung bersifat akumulatif dan progresif, skrining idealnya dilakukan sedini mungkin. Dalam konsensus American Heart Association (AHA), seseorang dianjurkan untuk memeriksa tekanan darah dan kadar kolesterol sejak usia 20 tahun.

Periksa tensi minimal setahun sekali apabila normal

Tingginya tekanan darah telah terbukti jelas sebagai faktor risiko penyakit jantung. Risiko tersebut kian meningkat bila tensi terus-menerus di atas 140/90 mmHg. Oleh sebab itu, idealnya seseorang rutin memeriksa tekanan darah minimal sekali setahun apabila normal. Pemeriksaan ini cukup praktis dan mudah dilakukan.

Bagi mereka yang berusia muda, diagnosis hipertensi tidak dapat dengan sekali pengukuran. Tensi adalah parameter tubuh yang bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kelelahan atau emosi. Bahkan, pengukuran tensi di rumah (secara mandiri) dan klinik (oleh petugas kesehatan) bisa saja hasilnya berbeda. Hal tersebut dinamakan white-coat hypertension. Butuh beberapa kali pemeriksaan agar dokter yakin menegakkan diagnosis hipertensi. Oleh sebab itu, pastikan Anda dalam kondisi rileks, tenang, tidak kelelahan, serta cukup tidur dan makan sebelum menjalani pemeriksaan.

Beberapa orang mungkin dapat mengalami hipertensi sejak usia muda. Perlu diingat, hipertensi tidak semata-mata terjadi karena faktor gaya hidup dan pola makan. Ada segelintir penyebab hipertensi, termasuk penyakit langka yang dapat muncul pada anak-anak. Dan untuk Kini pertanyaannya, sudahkah Anda memeriksakan diri?

Cek profil kolesterol

Demikian halnya dengan kadar kolesterol. Sebaiknya Anda pernah memeriksa kadar kolesterol lengkap. Konsensus AHA juga merekomendasikan skrining kolesterol sejak usia 20 tahun. Namun, tak perlu khawatir, jika hasilnya normal, pemeriksaan boleh diulang setiap 5 tahun sekali. Check-up ini diperlukan lebih sering bagi Anda yang berusia di atas 45 tahun (untuk laki-laki) atau 50 tahun (untuk perempuan), atau apabila hasil pemeriksaan menunjukkan nilai di atas batas rujukan, atau apabila memiliki faktor risiko penyakit jantung lainnya.

Penumpukan kolesterol beserta zat-zat radikal bebas di pembuluh darah sebenarnya telah berlangsung sejak usia dini, bahkan dimulai sejak umur 10 tahun. Akumulasi material tersebut akan membentuk suatu plak yang disebut aterom, suatu cikal-bakal penyebab serangan jantung koroner. Oleh karenanya, skrining kadar kolesterol sejak muda menjadi sangat penting.

Utamanya yang harus diperiksa ialah kadar kolesterol total, high-density lipoprotein (HDL atau "kolesterol baik"), low-density lipoprotein (LDL atau "kolesterol jahat"), serta trigliserida. Masing-masing parameter tersebut memiliki makna tersendiri dalam manajemen pengobatan nantinya.

Screening risiko jantung lainnya

Program skrining, atau dapat disebut sebagai upaya peduli terhadap kesehatan, seyogianya juga mencakup berat badan dan lingkar perut. Menurut rekomendasi AHA, sejak usia 20 tahun Anda sudah perlu memikirkan indeks massa tubuh (IMT) dan ukuran lingkar perut apabila berlebih. Keduanya memiliki korelasi dengan kejadian penyakit jantung di kemudian hari.

Khusus untuk lingkar perut, jumlah lemak pada bagian perut merupakan risiko penyakit jantung ketimbang lemak pada daerah tubuh lain. Untuk orang Asia, lingkar perut idealnya kurang dari 90 cm (untuk laki-laki) atau 80 cm (untuk perempuan). Pengukuran diambil tepat di bawah pusar, dilakukan sembari duduk dan sambil buang napas (ekspirasi) maksimal.

Faktor risiko lain, seperti kadar gula darah, perlu diperiksa rutin setelah usia menginjak 45 tahun. Idealnya dicek setiap 3 tahun apabila hasilnya normal. Upaya lain, yang juga jarang tersentuh, ialah konsultasi untuk berhenti merokok dengan dokter.

Apabila Anda masih menganggap 20 tahun adalah "usia sehat", tidak demikian untuk penyakit jantung dan pembuluh darah. Justru, tren saat ini memperlihatkan banyaknya penderita jantung yang berusia muda.

Sudah saatnya beranjak dari mental cuek dan menganggap diri "sehat" tanpa pernah check-up. Tidak ada salahnya bila meluangkan sedikit waktu serta gocek untuk sekadar check-up ke dokter. Kapan lagi kita peduli terhadap kesehatan, kalau bukan sejak usia muda?

Salam sehat untuk kita semua!

Pascabersalin, Wanita Tak Boleh Minum Banyak?

Katakepo.blogspot.com - Banyak anjuran dan kepercayaan yang berkembang di sekitar kita tentang aturan makan bagi wanita dalam masa nifas atau pascabersalin. Maklum saja, masa ini merupakan masa pemulihan fungsi tubuh kembali normal seperti saat sebelum melahirkan. Hanya saja, anjuran yang beredar seringkali belum tentu benar.

Salah satu contoh anjuran yaitu melarang ibu nifas minum banyak air untuk mempercepat pemulihan penyembuhan luka. Ada juga yang mengatakan, minum banyak air akan meningkatkan risiko inkontinensia urin pada ibu nifas. Ini karena otot-otot rahim belum kuat untuk menyangga urin agar tidak keluar dari salurannya.

Lantas, benarkah anjuran tersebut? Ataukah hanya mitos belaka? Menurut Bidan Romana Tari, anjuran tersebut keliru. Pasalnya tubuh ibu nifas justru membutuhkan banyak cairan terutama mengganti cairan tubuh yang hilang baik saat mengalami perdarahan, keringat, untuk pembentukan ASI.

"Bila cairan tubuh ibu nifas tidak tercukupi, maka akan terjadi kekurangan cairan, mengalami panas dan produksi ASI sedikit," tulisnya dalam laman Kompasiana beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Romana menjelaskan, bila setiap selesai minum ibu nifas akan sering buang air kecil justru lebih baik. Tidak perlu khawatir jahitan pada daerah perineum (luka jahitan jalan lahir) akan basah dan tidak sembuh. Justru sebaliknya, semakin sering dibersihkan terutama dengan sabun dan air lalu dikeringkan setiap buang air kecil, maka jahitan akan segera pulih.

Perawatan luka pada jalan lahir berbeda dengan jahitan pada bagian tubuh yang lain misalnya pada tangan. Luka di jalan lahir dijahit dengan benang khusus yang cukup kuat dan bagian dalam luka  (otot) benangnya akan menyatu dengan tubuh sedangkan bagian luar (kulit) jahitan  akan lepas sendiri lalu mengering.

Romana menyarankan, sebaiknya ibu nifas minum air putih yang cukup kurang lebih delapan gelas sehari disertai dengan asupan susu maupun jus buah.

Senada dengan Romana, ahli gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Inge Permadhi, SpGK mengatakan, setelah melahirkan ibu justru membutuhkan asupan air lebih banyak dari orang dewasa pada umumnya. Ini karena pengeluaran air dari tubuh juga semakin banyak, khususnya dari air susu.

"Bila orang dewasa sehat membutuhkan air 2000-2500 mL sehari, ibu menyusui perlu ditambah sekitar 800 mL lagi," paparnya saat ditemui Kamis (10/10/2013) lalu di Jakarta.

Kendati demikian, Inge menekankan pada perlunya menyesuaikan kebutuhan air dengan kesehatan masing-masing orang. Anjuran minum 2000-2500 mL tersebut adalah untuk orang dewasa sehat pada umumnya, kebutuhan setiap orang bisa jadi berbeda.

"Jika ditemukan keadaan-keadaan tertentu pada ibu setelah melahirkan, maka perlu dikonsultasikan pada dokter berapa kebutuhan minum air yang tepat," tandasnya.