Katakepo.blogspot.com - keputusan
pemerintah untuk memberi bebas visa kepada 30
negara dalam waktu dekat patut disambut baik. Langkah tersebut adalah
salah satu cara yang termudah guna meningkatkan devisa yang masuk ke
Indonesia tanpa harus meningkatkan investasi baru. Penambahan
penghasilan devisa diperlukan saat ini mengingat defisit neraca
transaksi berjalan yang dialami dan melemahnya rupiah.
Dari tahun
ke tahun, sumbangan devisa dari pariwisata meningkat dari 8,5 miliar
dollar AS pada 2012 menjadi 9,8 miliar dollar AS pada 2014. Padahal,
pada kurun waktu yang sama, ekspor barang turun dari 182 miliar dollar
AS menjadi 175 miliar dollar AS.
Devisa dari perjalanan atau
pariwisata merupakan satu-satunya penyumbang net devisa neraca jasa-jasa
yang sumbangannya meningkat menjadi 2,2 miliar dollar AS pada 2014 atau
lebih dari sepertiga dari surplus neraca perdagangan barang pada 2014
sebesar 6,9 miliar dollar AS. Pariwisata juga penting dari segi
sumbangan terhadap lapangan pekerjaan dengan menyumbang 1 dari setiap 11
pekerjaan di Indonesia saat ini.
Permudah perjalananSejak
2011, para pemegang kepentingan di bidang pariwisata secara
internasional telah mendorong pentingnya mempermudah perjalanan
wisatawan mancanegara tanpa mengurangi aspek keamanan (smart and secure
travel). Akses masuk dan keluar negara yang cepat, efisien, dan aman
dimungkinkan dengan mengurangi restriksi (bebas visa), melancarkan
proses masuk dan keluar, serta penggunaan teknologi (contohnya autogate
dan paspor biometrik).
Indonesia sudah mempermudah dengan
fasilitas visa kunjungan (visa on arrival/VOA), tetapi baru 15 negara
yang memperoleh bebas visa. Penggunaan teknologi juga sudah mulai
diterapkan
secara bertahap untuk paspor biometrik dan autogate. Sebagai pengguna
autogate, saya dapat merasakan peningkatan efisiensi dan pelayanan
imigrasi setiap kembali ke Tanah Air dan semoga fasilitas autogate juga
akan diperluas untuk pengunjung mancanegara dengan kategori-kategori
tertentu (contohnya
trusted or frequent traveller).
Ratusan turis turun dari kapal pesiar MS Rotterdam yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (19/2/2015).
Berdasarkan studi Organisasi Pariwisata Dunia PBB (United Nations World
Tourism Organization/UNWTO) dan World Tourism and Travel Council (WTTC)
pada 2011, diestimasi bahwa fasilitas visa dilaksanakan dapat menjadi
jawaban pada penciptaan lapangan kerja saat belum pulihnya perekonomian
dunia. Relaksasi visa diperkirakan akan meningkatkan jumlah wisatawan
110 juta atau kenaikan sebesar 16 persen, penciptaan 5,1 juta pekerjaan,
dan devisa 206 miliar dollar AS.
Beberapa studi kasus juga
menunjukkan, fasilitas visa bisa menaikkan 5-25 persen kunjungan dalam
kurun waktu tiga tahun. Misalnya dengan Hongkong dan Rusia saling
memberi fasilitas bebas visa, terjadi kenaikan kunjungan 133 persen
selama kurun waktu 2008-2010.
Pada waktu Indonesia menjadi ketua
dan tuan rumah APEC pada 2013 untuk mendukung visi dan target
konektivitas di kawasan Asia Pasifik, juga telah dilakukan studi khusus
untuk kawasan Asia Pasifik oleh UNWTO dan WTTC. Hasilnya menunjukkan,
sekitar 20 persen dari 355 juta wisatawan yang ke APEC pada 2013 masih
memerlukan visa.
Jika fasilitas visa dan perjalanan dilakukan
pada 2014, terutama bebas visa, dapat meningkatkan lapangan pekerjaan
bagi 1,8 juta-2,6 juta orang, tambahan devisa 62 miliar dollar AS hingga
89 miliar dollar AS. Selain itu, ada tambahan 38 juta-57 juta wisatawan
ke semua tempat tujuan wisata APEC sampai 2016 dengan kenaikan 12-17
persen.
Kunjungan ke IndonesiaBagaimana
perkiraan kenaikan pengunjung ke Indonesia? Berdasarkan model dan studi
2013, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung diperkirakan dapat
naik 100.000 orang sampai 200.000 orang dalam tiga tahun ke depan atau
memberikan sumbangan devisa 120 juta dollar AS sampai dengan 240 juta
dollar AS per tahun.
Wisatawan asal Belanda mengabadikan kunjungan mereka di permukiman yang
rusak terkena lahar hujan di Desa Jumoyo, Salam, Magelang, Jawa Tengah,
Rabu (6/7/2011).
Lokasi tersebut menjadi salah satu tempat singgah bagi
berbagai agen pariwisata Yogyakarta yang hendak mengantar wisatawan ke
Candi Borobudur.
Rendahnya kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia
dibandingkan dengan negara lain karena daya saing yang lebih rendah
berdasarkan ukuran Forum Ekonomi Dunia (WEF), yang terutama disebabkan
oleh sejumlah kendala infrastruktur. Namun, jika kita gunakan estimasi
5-25 persen berdasarkan studi kasus, potensi kenaikan jumlah wisatawan
mancanegara dalam tiga tahun ke depan dengan dasar 9,44 juta kunjungan
pada 2014 adalah sekitar 160.000 sampai dengan 790.000 per tahun. Dengan
pengeluaran rata-rata wisman 1.200 dollar AS, hal itu berarti tambahan
devisa 188 juta dollar AS sampai dengan 944 juta dollar AS per tahun.
Manfaat yang dapat diperoleh jelas. Jelas pula apa yang perlu dilakukan untuk realisasi potensi sumbangan pariwisata.
Pertama,
tentu agar kebijakan bebas visa dan fasilitas masuk dan keluar dari
Indonesia dibuat nyaman dan aman dapat di implementasi sesegera mungkin.
Keputusan politik telah diambil dan yang penting untuk implementasi
adalah koordinasi antara pejabat-pejabat yang terlibat urusan imigrasi,
keamanan, perhubungan, dan bandara udara.
Undang-Undang Imigrasi
memang menuntut asas resiprositas untuk bebas visa. Namun, juga ada asas
manfaat. Untuk saat ini, asas manfaat jelas yang dapat menjadi
pertimbangan.
Kedua, imigrasi dan bandar udara merupakan pintu
masuk pertama dan kesan pertama bagi pengunjung sehingga fasilitas bebas
visa juga perlu diiringi dengan pelayanan imigrasi yang efisien dan
ramah. Bandara yang ramah dan efisien
(tourist friendly airport)
juga penting karena bagian dari kesan ”menyambut” dan kenyamanan, yang
seharusnya menjadi kenangan positif. Kisi-kisi bandara yang ramah dan
efisien adalah kecepatan pengambilan barang, akses dan kelancaran
transportasi dari dan ke bandara, kebersihan dan kenyamanan, serta
pelayanan informasi pariwisata mengenai kota/negara terkait.
Ketiga,
potensi dan dampak yang maksimal dari fasilitas bebas visa memerlukan
kesiapan menyambut jumlah wisman yang meningkat. Hal tersebut mulai dari
segi pelayanan dan sumber daya manusia sampai dengan infrastruktur.
Misalnya jika ingin menyambut jumlah wisman dari Tiongkok dengan jumlah
yang besar, kita harus siap dengan pemandu wisata dan sumber daya
manusia di berbagai unsur pelayanan pariwisata yang bisa berbahasa
Mandarin.
Wisatawan tiba di Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (17/4/2014).
Adapun infrastruktur yang memadai terkait dengan bandara atau pelabuhan,
konektivitas transportasi, termasuk penerbangan langsung, prasarana,
dan sarana pariwisata.
Keempat, adalah kesiapan tempat tujuan
wisata dan ragam produk pariwisata sehingga yang berkunjung akan tinggal
lebih lama dan mengeluarkan lebih banyak devisa atau dalam arti lain
kualitas wisatawan mancanegara yang juga meningkat.
Selamat datang ke Wonderful Indonesia.
(MARI PANGESTU, Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)