Thursday, February 13, 2014

Sajikan Daging Manusia, Restoran di Nigeria Ditutup

Katakepo.blogspot.com - LAGOS, Sebuah rumah makan di negara bagian Anambra, Nigeria, ditutup setelah pemerintah setempat mendapat laporan restoran itu menyajikan daging manusia.

Saat diperiksa, polisi menemukan sedikitnya dua kepala manusia yang masih berdarah dibungkus semacam kertas dalam penggerebekan yang digelar pada Kamis (12/2/2014). Mendapatkan bukti itu, polisi kemudian menangkap 11 orang termasuk pemilik restoran "ekstrem" itu.

Selain itu, polisi juga menyita dua senapan serbu AK-47, sejumlah senjata api lainnya, ratusan amunisi, dan beberapa telepon genggam.

Polisi mengatakan, di restoran itu daging manusia dijual dengan harga yang sangat mahal. Bahkan kepala manusia panggang juga tersaji dalam menu.

Seorang pastor sangat terkejut karena dia pernah menyantap daging yang disajikan restoran tersebut.

"Setelah makan saya harus membayar daging itu dengan harga 700 naira (Rp 50.000). Saya sangat terkejut. Saya tidak tahu daging yang sangat mahal itu adalah daging manusia," kata pastor yang tak disebutkan namanya itu.

"Apa yang terjadi di negeri ini? Bisakah Anda bayangkan manusia menjual daging manusia lainnya untuk dikonsumsi? Saya mulai mengkhawatirkan manusia di belahan dunia ini," tambah dia.

Seorang penduduk lokal mengatakan, dia kerap melihat orang-orang mencurigakan di restoran itu. "Jadi saya tak kaget jika polisi menemukan hal mengerikan di sana," ujar penduduk itu.

Sejauh ini belum diperoleh informasi sudah berapa lama restoran itu menyajikan daging manusia dan bagaimana pengelola rumah makan mendapatkan daging manusia.

Praktik kanibalisme memang terkadang terjadi di sejumlah bagian Nigeria. Namun, kasus ini adalah pertama kalinya daging manusia dijual untuk dikonsumsi.

Andorra, Negeri Kecil yang Bersahaja

Katakepo.blogspot.com - Andorra, negara kecil yang diapit oleh dua negara Perancis dan Spanyol. Menyimpan kecantikan bersahaja yang membuatnya berbeda dari negara Eropa lainnya.
Surga Belanja Eropa
Andorra la Vella merupakan ibu kota Andorra. Berada di ketinggian 1.000-1.200 di atas permukaan laut. Di musim dingin tempat ini ramai dikunjungi para turis, terutama dari Spanyol dan Prancis. Di sini mereka bisa menikmati salju dan bermain ski sepuasnya. Bila berkunjung di musim panas, kita tidak akan bertemu salju di Andorra.

Namun, tak perlu kecewa karena selain surga main ski, Andorra juga surga belanja. Barang-barang yang dijual tak kena pajak. Makanya harganya bisa lebih miring. Apalagi di musim hangat, harga penginapan Andorra lebih murah. Kamar hotel bintang kami misalnya, harganya sekitar 60 euro per malam (sekitar Rp 850.000). Mata uangnya euro.

Di pusat Andorra la Vella, barang yang dijual sangat variatif. Toko-toko kecil mendominasi. Paling banyak toko-toko yang menjual alat-alat elektronik kecil. Mulai smartphone, pc tablet, gadget mainan, kipas angin, blender, dan kamera. Baju, tas-tas bermerek, jam tangan, perhiasan emas, sepatu, dan parfum, juga sering diserbu pembeli. Di Andorra, barang bermerek memang dijual lebih murah. Dijual di  toko-toko resmi dan department store, sehingga pembeli yakin akan keasliannya. Barang elektroniknya pun punya garansi internasional.
Kota Tua Andorra la Vella
Iakov Filimonov/Shutterstock Pemukiman di kota Andorra
Sebagai ibukota negara, penduduk Andorra la Vella tak sampai 23 ribu jiwa. Luasnya pun hanya sekitar 30 km persegi. Selain pusat belanja, tak banyak destinasi wisata di ibukota. Maka itu saya pun berjalan ke arah kota tua. Bangunan paling terkenal di kota tua adalah gereja Sant Esteve dan Casa de la Vall. Esglesia de Sant Esteve berlokasi tepat di dekat tempat masuk kota tua di Placa Princep Benlloch. Dia sudah berdiri sejak abad 11 masehi, bergaya romanik di satu sisinya. Menara batunya terlihat dari dasar lembah Andorra la Vella. Gereja ini bisa dimasuki gratis di jam bukanya.

Bangunan batu Casa de la Vall yang terlihat kuno sebenarnya adalah gedung parlemen Andorra. Gedung ini tak terlalu besar, berlantai tiga dan berjendela kayu. Di luarnya punya relief dan patung. Dari halamannya yang luas kita bisa memandang ke dasar lembah dan hijau pegunungan di sekitarnya. Masuk di bagian depan, saya melihat kursi dan meja kuno. Sebuah spanduk kecil menerangkan sejarah singkat parlemen Andorra dalam bahasa Inggris dan Spanyol. Ada tur khusus agar bisa melihat bagian dalam gedung.
Hiking di Rec del Sola
Tempat wisata yang cukup terkenal di sini adalah Rec del Sola dan Rec de l’Obac, keduanya adalah kanal yang mengalirkan air dari mata air di atas Andorra la Vella. Sisi kanal itu kemudian dijadikan trotoar dan berpagar kayu. Jadilah tempat asyik untuk hiking singkat bagi siapa saja. Panjang masing-masing jalan sekitar 2,5 km.
Gunung berselimut hijaunya pohon menjulang dari segala penjuru. Vila-vila kayu muncul di sela pepohonan lebat. Tebing batu menghiasi permukaan gunung. Di bawah sana, ibu kota belum menampakkan geliat aktivitas berarti. Matahari mulai muncul di antara gunung. Kebun-kebun kecil milik penduduk kelihatan subur ditanami aneka sayuran. Saluran air di tepi jalan ternyata saluran terbuka selebar kira-kira setengah meter. Airnya bening dan dingin. Di beberapa tempat ada peringatan dalam bahasa Spanyol. Sepertinya pemberitahuan bahwa itu adalah air minum. Sesekali saya berpapasan dengan penduduk lokal yang berjalan-jalan pagi.
Jembatan La Margineda
Shutterstock Jembatan La Margineda
Pagi hari sebelum meninggalkan Andorra, saya sempatkan mengunjungi satu jembatan tua di Margineda. Menurut satu situs, ini jembatan paling besar di abad pertengahan Andorra. Setibanya saya di sini, saya tidak menemukan apa-apa selain kesunyian. Hanya ada satu perempuan muda berhenti sejenak untuk memotret.
Selain jembatan batu yang sudah direnovasi, tak ada apa-apa lagi. Kokoh sekali terlihat jembatan tua ini. Sebagian jalannya ditumbuhi rumput. Ada jalan setapak di seberang sana. Jalur hiking. Sebuah papan informasi menjelaskan bahwa di seberang terdapat beberapa spesies tanaman yang bisa tumbuh di bebetuan kapur dingin dan lembap.
Menyusuri Desa Encamp dan La Massana
Shutterstock La Massana
Destinasi berikutnya yang saya kunjungi adalah desa Encamp dan La Massana. Anda bisa naik bus atau taksi untuk menuju ke dua desa tersebut.  Yang menarik dari desa ini adalah suasananya yang sepi sekali. Jarang ada kendaraan lewat. Rumah-rumah dan bangunan terbuat dari bebatuan, mungil, dihiasi bunga-bunga di dekat jendela. Di tempat makan beberapa orang sedang duduk santai di bangku-bangku luar.
Atraksi menarik di kedua desa ini adalah dua gondola gantung untuk mengangkut pemain ski. Meski tidak musim ski, pada musim panas, gondola masih berfungsi karena di atas gunung, terdapat restoran yang masih buka. Dari atas sana kita bisa menyaksikan pemandangan yang sungguh spektakuler.

Ada Apa dengan Sholat Dhuhur Berhadiah?

Katakepo.blogspot.com - Pekan ini, berita yang paling menggemaskan adalah tentang kompetisi sholat jamaah yang digelar oleh Pemkod Bengkulu. Berita-berita lain, korupsi atau politik tidak mendapatkan perhatian khusus, karena itu adalah hal biasa. Bukan extraordinary news.
Kabar diperlombakannya ibadah, apa pun bentuknya, sudah hal biasa di Indonesia. Dari tingkat RT dan RW, misalnya, untuk memotivasi anak agar senang ke masjid. Berbagai lomba sering terdengar di lingkungan kita, lomba Adzan, hafalan Qur’an, membaca Quran, lomba Kaligrafi, lomba ceramah dan lain sebagainya. Belum lagi ditingkat nasional ada MTQ (Musabaqah Tilawati Quran).
Kita tahu betul, orang-orang yang berkualitas dalam bidangnya akan kelihatan. Sehingga, terjaringlah orang-orang yang memang memiliki kompetensi di bidang tertentu. Lalu apa yang terjadi ketika yang dilombakan adalah sholat (dhuhur) berjamaah?
Dari perspektif mana pun tidak ada yang salah, walaupun apa yang dilakukan oleh wali kota Bengkulu itu sangat kontroversi, banyak yang mendukung juga tidak sedikit yang mencemooh. Hal itu wajar sebagai akibat dari tumbuh kembangnya kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Siapa pun memiliki hak untuk memuji, mengkritik, mencemooh bahkan mencaci-maki seseorang yang tidak disukainya.
Memang kenyataan di Bengkulu yang sekarang ini sedang terjadi adalah refleksi keindonesiaan kita atau kemanusiaan kita. Bahwa salah satu karakter kita adalah senang bila mendapatkan hal-hal yang gratis/ hadiah bahkan hingga sogokan sekalipun. Pun kita juga sama-sama melihat, masjid yang menjadi ajang lomba sekonyong-konyong menjadi ramai penuh sesak karena program itu. Apa yang terjadi?
Kita, dengan mata telanjang dan cara perpikir sederhana membuat simpulan bahwa orang-orang yang ke MAsjid At Taqwa di kota Bengkulu dikarenakan turut berpartisipasi dalam lomba, atau sekedar meramaikan. Tidak tanggung-tanggung hadiah yang ditebarkan oleh Pemkod; mobil, umroh, haji dan masih banyak hadiah yang menarik.
Tujuan diselenggarakannya event itu adalah untuk menciptakan Bengkulu sebagai Kota Religius dengan cara meramaikan masjid pada waktu salat. Hadiah tersebut diberikan sebagai motivasi dan pengharagaan bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah.
Berlimpahnya hadiah itu bisa jadi dorongan yang paling utama, meskipun sebelumnya ada banyak jamaah yang memang menjadi jamaah tetap masjid tersebut. Tentu program yang digelar itu akan menjadi pemanis juga, hasil sampingan, ketika mereka menjadi pemenang kelak.
Kita berharap, panitia perlombaan benar-benar bekerja professional dan tidak mengabaikan aspek-aspek lain ketika melakukan penilaian. Karena seperti disampaikan oleh Kepala Kantor Agama Kota Bengkulu, Mushlihudin, semua peserta yang bisa 40 kali salat dzuhur setiap Rabu berturut-turut, dipastikan akan mendapatkan hadiah berangkat haji atau umroh. Untuk pemenang mobil, pemenangnya hanya 1 orang.
Penulis sebenarnya tidak mempermasalahkan program tersebut, sepanjang tidak mengabaikan program yang lebih penting, misalnya mengabaikan hak-hak warga kurang mampu/miskin entah dari aspek pendidikan, kesehatan dan kesejahteraannya.
Hal-hal penting yang ingin penulis sampaikan lebih kepada proses dan paska perlombaan itu sendiri. Dari sisi proses, siapa saja yang akan menjadi peserta dan semestinya semua warga memiliki hak yang sama untuk mengikutinya. Jangan sampai terkesan perlombaan itu pilih kasih atau sejenisnya. Apakah orang-orang miskin atau tua renta juga memiliki hak yang sama, misalnya ketika mengisi daftar hadir. Kemampuan berjamaah (sholat di masjid) seseorang memang tidak sama. Ada orang jauh dan harus berjalan kaki dengan bersemangat hadir ke masjid, ada orang segar bugar dan sehat wal afiat namun jarang ke masjid meskipun rumahnya samping masjid. Oleh karena itu panitia sebaiknya tidak hanya berpikir pragmatis pemenuhan kali hadir yang diperlukan.
Selanjutnya, akan sangat mengecewakan, bila masjid sebesar itu hanyalah bangunannya yang besar namun miskin jamaah. Dengan kata lain, hanya ketika perlombaan saja masjid itu terisi penuh. Umat Islam di lingkungan masjid itu seakan ditampar oleh program Pemkod tersebut.  Ternyata masjid hanya penuh orang-orang yang cari sesuatu (hadiah) dan waktu diadakan lomba (dhuhur). Masjidnya besar namun tidak ada jamaahnya, dan kebanggaan itu hanya terletak pada bangunannya. Ironis.
Dan yang lebih penting dari itu, bahwa masjid di Bengkulu bukan hanya At Taqwa di mana saat ini sedang diadakan lomba itu. Jumlah masjid dan mushola di Bengkulu mungkin ribuan dan jutaan. Yang lebih penting, sejatinya bukan menghadiahi warga yang rajin ke masjid, namun bagaimana melaksanakan pendidikan agama dan pembudayaan datang ke masjid kepada seluruh warga Bengkulu.
Sunan Abu Daud meriwayatkan, Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Khuza’i telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas dan Qatadah dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan tiba Hari Kiamat sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun Masjid.”
Semoga motivasi yang dibangun oleh Wali Kota Bengkulu itu, mampu mengembalikan semangat kita kembali ke masjid, bukan hanya untuk mencari hadiah, apa pun bentuknya. Karena  ketaqwaan itu tidak bisa dihitung secara matematis, namun terkadang hitungan matematis itu proses yang harus dihargai upaya menuju ke sana.

Morotai Jadikan Pariwisata Sektor Unggulan

Katakepo.blogspot.com - TERNATE, Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara (Malut), akan intensif mempromosikan obyek wisata andalannya guna menarik kunjungan wisatawan ke daerah itu.

Kepala Seksi (Kasi) Promosi dan Kerjasama Disparbud Kabupaten Pulau Morotai, Arafik A Rahman di Ternate, Kamis (13/2/2014), mengatakan pihaknya telah melakukan langkah-langkah pengembangan potensi pariwisata baik fisik maupun nonfisik di sejumlah obyek wisata Pulau Morotai.

Dia mengatakan langkah tersebut dilakukan pasca perhelatan Sail Morotai 2012 lalu, dengan melakukan tahapan pembebasan lahan di Pulau Dodola, Pulau Zum-sum, wisata Air Kaca dan sejumlah tempat wisata lainnya.

Meski telah dibebaskan, lanjut Arafik, terdapat beberapa masalah yang kini masih dihadapi pihaknya, salah satunya adalah masalah klaim oleh beberapa pihak yang mengaku memiliki lahan di tempat wisata tersebut.

"Untuk persoalan lahan, sementara ini kami masih berkonsultasi dengan pimpinan tertinggi di daerah yaitu bupati, untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Hanya saja masih ada hal penting lainnya yang harus diselesaikan agar ada penyelesaiaan sengketa itu," katanya.


Kapal bersandar di Pulau Dodola, Morotai, Maluku Utara, Jumat (14/9/2012). Pulau Dodola merupakan salah satu objek wisata di Morotai yang sedang dikembangkan oleh pemerintah daerah.
Langkah lain yang kini dilakukan Disparbud Morotai adalah melakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata Provinsi Malut, berkaitan dengan sejumlah pembangunan fisik serta fasilitas yang dibangun pada pelaksanaan Sail Morotai agar bisa dimanfaatkan.

"Jika ada yang mengatakan Disparbud tidak merawat obyek-obyek pariwisata dan membiarkan begitu saja, itu tidak benar," katanya.

Menurut Arafik, Disparbud Morotai bertugas membersihkan dan merawat obyek wisata itu serta menjaga aset. "Kami juga akan tegas apabila petugas tidak menjaga dan merawat obyek-obyek pariwisata atau memonitor ke lokasi," katanya.

Di Pulau Dodola misalnya, ada tiga orang petugas yang ditempatkan di sana untuk menjaga dan merawat obyek wisata panorama pantai di daerah itu.

Arafik mengatakan, pihaknya telah menggagas pariwisata sebagai sektor unggulan Pulau Morotai. Untuk itu, sangat dibutuhkan kerjasama beberapa instansi terkait dan masyarakat untuk menciptakan bagaimana Morotai yang kondusif, agar investor dapat menanamkan modalnya.

"Pimpinan Disparbud juga mendesain format untuk menjembatani koordinasi dengan pemerintah desa yang beberapa bulan lagi akan mendapat bantuan dana per desa sebesar Rp1 miliar itu," katanya.

Dia berharap, pemerintah desa juga bisa bersama-sama dengan Disparbud untuk mengembangkan aset wisata yang ada di Pulau itu, termasuk aset yang ada di desa masing-masing.

Patung berupa empat tentara Indonesia dalam keadaan berperang dan satu wanita selaku wartawan atau yang disebut juga patung trikora sudah siap untuk diresmikan oleh presiden pada acara puncak sail Morotai , Morotai, Maluku Utara, Jumat (14/9/2012). Sebelumnya patung tersebut mengalami patah pada bagian genggaman tangan yang memegang tiang bendera sudah diperbaiki dan siap untuk diresmikan.
Arafik menjelaskan, pihaknya mempunyai semangat tinggi untuk mengembangkan potensi pariwisata, di mana telah dilakukan beberapa program nonfisik, diantaranya gerakan cinta wisata, promosi lokal di Morotai Utara.

"Tentunya ini merupakan bagian dari bagaimana membangun pemahaman masyarakat agar mereka merasa memiliki kekayaan di Morotai, sehingga terwujud masyarakat yang sejahtera. Kami tetap berkomitmen untuk mengembangkan pariwisata menjadi industri besar," tambah Arafik.

Tuesday, February 11, 2014

Terkuak, Misteri Air Sungai yang Mendadak Merah di Bontang

Katakepo.blogspot.com - SAMARINDA, Kepolisian Kota Bontang menguak misteri air sungai yang mendadak berwarna merah di Bontang. Fenomena itu ternyata akibat limbah dari perusahaan cat di Bontang.

Dalam kasus ini, Kepolisian Kota Bontang mengamankan seseorang berinisial ST, diduga sebagai oknum yang kali pertama membuat gempar warga Kota Bontang. Menurut Wakapolres Bontang, Kompol Erlan, pelaku ST diduga mencemarkan air sungai dengan limbah cat. Kini, pelaku sudah diamankan dan sedang diperiksa oleh kepolisian.

“Pelaku sudah diamankan, tapi masih proses lanjutan dan pemeriksaan, apakah limbah beracun atau tidak? Pihak kepolisian masih berkoordinasi dengan Badan Lingkungan Hidup,” jelasnya.

Sementara itu, warga yang berdiam di lokasi sekitar menyebut bahwa air jadi merah itu adalah akibat orang tak bertanggung jawab. Biasanya ada yang membuang sisa cat ke sungai dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga air menjadi tercemar. Lagipula, di sekitar sungai itu ada pabrik distributor cat.

“Di sini ada pabrik distributor cat, biasanya sering membuang cat, namun tidak sebesar ini, sehingga tidak mengubah warna air. Bisa jadi akibat pencucian drum-drum dari Amerika yang dibeli pabrik distributor cat tersebut,” kata Sundarwan, salah seorang warga Tanjung Laut, Bontang.

Namun, kata Sundarwan, jika air sungai berubah warna karena limbah pencucian drum, tidak mungkin bisa sampai sepanjang sungai di tanjung laut Bontang Selatan. “Seharusnya tidak merata, tapi ini merata. Nah, ini yang membingungkan. Entah betul fenomena alam atau limbah yang dibuang dalam jumlah cukup besar,” pungkasnya.

Di bagian lain, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Bontang, Agus Amir mengatakan, sampai saat ini BLH belum bisa memberikan informasi apa-apa mengenai perubahan air sungai tersebut. Namun pihaknya akan menelusuri asal perubahan air tersebut.

“Kami masih di lokasi dan tim kami masih melakukan pengecekan. Kami belum bisa memberikan kesimpulan apakah ini fenomena alam ataukan pencemaran air limbah. Harus diselidiki dulu,” kata Amir (11/2/2014).

Dijelaskan Amir, untuk menguak misteri air merah itu, memerlukan proses yang panjang. Selanjutnya, Amir masih belum bisa memutuskan apakah akan diperiksakan dalam laboraturium atau tidak.

“Kami masih di lokasi kami masih lakukan identifikasi dan menyelusuri petanya dulu, baru bisa diambil kesimpulan. Yang jelas, kami akan terus menyelidiki darimana air merah itu bermula,” jelasnya.