Katakepo.blogspot.com - Pejalan pemula, yang biasanya masih mahasiswa atau baru saja bekerja,
dan ingin melakukan perjalanan ke luar negeri biasanya bertanya-tanya,
apakah mereka butuh kartu kredit. Jangankan untuk perjalanan, untuk
kebutuhan sehari-hari saja mungkin belum merasa perlu untuk memilikinya.
“Takut boros,” atau “tidak penting dan tidak butuh,” adalah salah satu
di antara alasannya. Ada juga yang mungkin beralasan, “tidak mampu
membiayainya.”
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama kenapa kita butuh kartu
kredit di perjalanan, tidak hanya uang tunai. Uang tunai tentu penting
dalam perjalanan, karena ia adalah metode pembayaran yang paling jelas
dan dapat diterima. Namun, bayangkan jika kita harus membawa uang tunai
sampai beribu-ribu dolar Amerika untuk membiayai dua minggu perjalanan
kita ke Cina, misalnya. Apakah itu tidak riskan juga? Tidak hanya soal
kecopetan atau kehilangan, tetapi soal ketenangan pikiran dan bagaimana
membawanya ke mana-mana. Lebih lagi, banyak penukar uang di Indonesia
yang kemudian tidak menerima uang kertas asing yang rusak karena kita
masukkan tas atau dilipat-lipat.
Alternatif kedua, tentu saja, kita dapat membawa kartu debit dengan
jaringan internasional, yang bisa digunakan untuk tarik tunai di
berbagai ATM di luar negeri. Walau dengan biaya dan kurs yang mungkin
tidak sesuai keinginan, tetap saja ini menjadi opsi yang menarik dari
segi kepraktisan. Namun, sekali lagi, ada hal-hal yang tidak bisa kita
bayarkan dengan kartu debit. Misalnya, membeli tiket pesawat online,
membayar hotel atau hostel, atau pengeluaran yang “agak besar” lain
terutama yang berhubungan dengan transportasi dan akomodasi.
Kartu kredit menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi kesulitan
pembayaran mayor, terutama untuk transportasi dan akomodasi. Pernah
pesawat saya dari Frankfurt, Jerman, tidak bisa mendarat di Jakarta,
Indonesia karena Gunung Merapi dikatakan dalam tahap waspada. Saya
diturunkan di Singapura. Karena tidak punya tiket ke Jakarta, saya
dengan sigap membuka komputer jinjing dan membeli tiket Garuda Indonesia
di situs webnya dengan kartu kredit. Lain cerita, saya salah bandara di
Narvik, Norwegia, dan terpaksa tertinggal pesawat. Karena terburu-buru,
saya membeli tiket baru lagi dengan kartu kredit, alhasil, saya bisa
naik pesawat yang berangkat satu jam kemudian! (Tentu, jangan ditanya
berapa harga kursi dadakan ini.)
Beberapa hostel atau hotel membutuhkan deposit atau melunasi seluruh
jumlah malam. Bagaimana jika kita tidak sempat membawa uang tunai atau
belum menukarnya ke mata uang lokal? Kartu kredit dengan jaringan
internasional yang baik akan menjadi penyelamat.
Tentu, menggunakan kartu kredit untuk perjalanan harus dengan bijak.
Bukan berarti kita harus impulsif atau jor-joran. Semua tetap dalam
koridor perencanaan awal. Buat saya, jika saya membawa uang seribu dolar
Amerika, saya hemat-hemat uang tunai dan sebanyak mungkin menggunakan
kartu kredit. Siapa yang tahu kita membutuhkan uang tunai di kemudian
hari dalam perjalanan kita.