Sunday, September 29, 2013

Mengintip pabrik senjata biologi Israel

Katakepo.blogspot.com - Tak ada yang pernah tahu kegiatan apa saja ada di dalam sana. Para pengemudi melintas di jalan tol Tel Aviv-Rishon Litsion hanya bisa memandang sekilas ke arah bangunan besar berdiri di atas bukit pasir itu. Mereka dilarang berbelok ke arah jalan menuju tempat itu.

Bangunan itu dikelilingi tembok semen dengan sistem pengamanan superketat. Wajar saja, di sanalah lokasi Institut Riset Biologi Israel (IIBR). Lokasinya di Ness Ziona, 20 kilometer sebelah selatan Ibu Kota Tel Aviv. Ini merupakan instalasi militer paling rahasia di negara Zionis itu. Dengan sensor sungguh ketat, pers pun tidak dapat mencari keterangan soal lembaga itu, seperti dilansir surat kabar Haaretz Juni 2011.

Namun usia rahasianya hampir sama dengan umur negara Israel itu terkuak sedikit ke masyarakat. Ini terjadi setelah Mei lalu seorang pegawai IIBR bernama Avisha Klein, menggugat kantornya itu atas tuduhan diperlakukan tidak menyenangkan. Dia merupakan pegawai senior IIBR dan sudah ditempatkan di pelbagai posisi. Salah satunya masuk dalam tim mengembangkan salep untuk melindungi kulit dari gas mostar.

IIBR dibangun pada 1952 oleh Profesor Ernst David Bergman, penasihat sains Perdana Menteri pertama Israel David Ben-Guurion, dan Dr Alexander Keynan. Lembaga ini terbentuk atas perintah Ben-Gurion.

Saking rahasianya, semua informasi mengenai IIBR akan dikeluarkan harus seizin Ben-Gurion. Bahkan, pekerja di sana meminta maaf lantaran tidak bisa menunjukkan program apa saja sedang mereka kerjakan saat perdana menteri kedua Moshe Sharett berkunjung ke sana pada 1954.

IIBR memiliki sekitar 350 karyawan, termasuk 150 ilmuwan bekerja di satu atau lebih departemen. Tiap-tiap departemen ini mempunyai spesialisasi pada riset kimia atau biologi secara umum bertujuan memproduksi senjata kimia atau biologi. Sebagai lembaga strategis, IIBR bekerja sama dengan militer serta Mossad, Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri), dan Aman (lembaga intelijen militer).

Sejumlah laporan menyebutkan IIBR menghasilkan racun pernah digunakan untuk membunuh Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal pada 1997 di Ibu Kota Amman, Yordania. Upaya pembunuhan itu dilakukan oleh Kidon, satuan pembunuh elite dalam tubuh Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Usaha mereka gagal setelah obat penawar diberikan sebagai balasan membebaskan agen Mossad tertangkap.

Haaretz mengungkapkan racun produksi IIBR pertama kali dipakai Mossad untuk membunuh pemimpin PFLP (Barisan Rakyat bagi Pembebasan Palestina) Wadia Haddad pada 1977. Ia dituding bertanggung jawab atas pembajakan sebuah pesawat penumpang Israel tujuan Entebbe, Uganda, setahun sebelumnya.

cMenurut buku ditulis wartawan Israel, Aharon Klein, Mossad memasukkan racun itu ke dalam cokelat Belgia kegemaran Haddad. Seorang pejabat Irak bekerja untuk Mossad lantas membawa cokelat beracun itu kepada Haddad yang tinggal di Baghdad. Karena daya kerjanya perlahan, racun bersarang di tubuh Haddad tidak diketahui.

Kesehatannya berangsur-angsur memburuk. Setahun kemudian ia meninggal. Tim dokter merawat dia di sebuah rumah sakit di Jerman Timur mengungkapkan Haddad menderita leukemia.

IIBR juga mempunyai sebuah departemen memproduksi vaksin antisenjata biologi, termasuk vaksin anthrax. Institut (IIBR) mendapat hibah ratusan juta dolar (dari Amerika Serikat) untuk memproduksi vaksin anthrax, tulis Haaretz dalam situsnya berbahasa Ibrani. Hibah ini diberikan setelah teroris lokal di Amerika melancarkan serangan dengan virus anthrax.

Ironisnya, bukan hanya kelinci, babi, monyet, dan binatang lainnya menjadi percobaan bagi vaksin anthrax. Tentara Israel juga dikorbankan untuk menguji keampuhan vaksin buatan IIBR itu.

Ibaratnya mengintip, informasi seputar IIBR tidak mendalam. Namun itu saja sudah cukup menggambarkan betapa Israel merupakan salah satu ancaman terbesar bagi keamanan dan perdamaian dunia.

0 comments:

Post a Comment